22 March 2018

Wali Kota Tionghoa pun Korupsi

Kaget juga membaca berita tentang korupsi di Malang. Wali Kota Moch Anton jadi tersangka suap pembahasan APBD 2015. Tentu saja ini jadi gempa politik di kota apel nan sejuk itu. Apalagi Anton sedang kampanye untuk maju lagi di pilkada Kota Malang.

Dulu saya pikir Anton kebal korupsi. Gak akan neko-neko setelah terpilih sebagai wali kota Malang. Mengalahkan istrinya petahana yang di atas kertas lebih kuat. Mengapa Anton saya asumsikan kebal korupsi?

Abah Anton ini baba Tionghoa. Sudah kenyang. Ekonominya mapan. Sehingga kursi wali kota jadi ladang pengabdian untuk masyarakat. Urusan cari duit untuk keluarga sudah selesai. Sekaligus membuktikan bahwa orang Tionghoa ternyata bisa menjadi pejabat yang bagus dan amanah... kalau dikasih kesempatan.

Dulu, selama tiga dekade Orde Baru, mana ada orang Tionghoa jadi wali kota? Apalagi di Malang? Kota yang sudah joss sejak era Hindia Belanda. Maka banyak sekali pengusaha Tionghoa di Jatim yang punya harapan besar untuk Anton. Nama Tionghoa akan harum kalau Moch Anton sukses di Malang.

Kedua, Anton ini bukan Tionghoa klasik atau biasa. Dia muslim Tionghoa. Bukan sekadar beragama Islam, Anton sudah lama menjadi ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Malang. Sudah bertahun-tahun dia mengurus komunitas mualaf Tionghoa di kota asalnya itu.

Sebagai orang PITI, Anton lebih mirip santri ketimbang orang-orang Tionghoa di Kapasan, Pasar Atum, atau Pasar Besar Malang. Ngajinya fasih. Karena itu, ketika menjadi wali kota, dia membuat surat edaran tentang salat berjemaah di semua instansi di Kota Malang.

Kebijakan Anton ini dipuji-puji di berbagai kota. Khususnya di media sosial. Mereka ingin agar bupati atau wali kotanya bikin kebijakan serupa. Mewajibkan salat berjemaah di kantor-kantor pemerintah dan swasta.

Luar biasa religius Pak Wali yang Tenglang itu. ''Jangan terpukau Bung. Bisa saja itu cuma pencitraan Anton sebagai wali kota yang sangat religius. Kita lihat saja ke depannya,'' ujar teman lama saat ngopi di kawasan Pattimura, Malang.

Obrolan tentang Abah Anton pun tutup sampai di warkop itu. Sudah setahun berlalu. Eh... sekarang kok ada kabar Anton jadi tersangka korupsi. Jadi pasien KPK. Kok bisa ya? Orang Tionghoa, makmur, religius... tersandung kasus yang berbau uang uang uang.

Ternyata... oh ternyata... korupsi itu tidak kenal SARA. Tak peduli suku, agama, ras, golongan, status sosial, religius, sekuler, dsb. Tiongkok yang komunis dan Indonesia yang religius sama-sama ada korupsinya. 

Ah, jadi malu deh! 
Dulu saya pernah bikin tulisan yang isinya terlalu menyanjung Baba Anton ini.

4 comments:

  1. Soale nek duwe bala akeh, kudu makani anak2 bala iku. Duite tekan ngendi ? Selain salat berjamaah ya kudu nilep berjamaaah. Mosok gak ngerti

    ReplyDelete
  2. Ah, ngapain malu ! Susah menjadi ustadz dikampung maling, hanya ada dua pilihan, ikut jadi maling atau hijrah kekampung lain. Kalau dasarnya bermental bejad, ya mari bung kita ramai-ramai nyolong duit rakyat.
    Banyak kok teman2 ku masuk Islam, naik Haji, hanya kedok untuk melanggengkan usaha bisnisnya.
    Makanya waspadailah haji2 tenglang itu, jangan sampai terkecoh seperti orang2 NTT yang mengusung Setya Novanto kekursi DPR.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul betul.. SN yg licin kayak belut digosok oli contoh wong tenglang yg pinter sandiwara. Ngapusi wong NTT. Pura2 jadi wakil rakyat NTT tapi kelakuannya bener2 keterlaluan.

      Kita sering terkecoh dengan bungkus.

      Delete
  3. Pendukung Wali Kota Malang berkumpul menggelar Istighosah, berdoa bersama, memohon Mukjizat dari Allah supaya KPK membebaskan Moch Anton.
    Dua tahun silam ketika saya berkunjung kekota Malang, teman2 Tionghoa disana, dengan bangganya bercerita, bahwa kota Malang sekarang punya walikota keturunan Tionghoa, bekas penganut katolik yang telah jadi mualaf. Orangnya ciamik kata mereka.
    Kalau Abah Anton yang sejak bayi sudah dipermandikan menjadi katolik, maka seharusnya dia sadar, tidak cukup istighosah, mengharap Mukjizat. Khan dia tahu yang disebut Sakrament pengakuan dosa. Syarat2 Sakrament pengampunan :
    Mengakui seluruh perbuatan. Penyesalan. Siap menerima hukuman. Bertobat. Mohon pengampunan.
    Lha wong persidangan KPK belum dimulai, kok sudah berani minta Mukjizat dibebaskan.
    Pije tho sampeyan kuwi, Mas Antonius !
    Saya bisa memahami Antonius tidak mau jadi orang katolik lagi, setiap orang pun malu disuruh ngaku dosa didepan Pastor. Bagaimana ngaku dosa, hangatnya badan wanita yang diselingkuhi, kepada Pastor yang tidak pernah mencicipi. Bagaimana menjelaskan enaknya punya uang milliard-an hasil korupsi, kepada seorang Pastor yang disumpah harus hidup sederhana dan kere.

    ReplyDelete