09 March 2018

Salam tanpa kontak mata

Pagi ini Bapa Paul mengirim ucapan ini lewat medsos. Tiap pagi pukul 5 lebih sedikit. Kadang selamat pagi, selamat hari minggu, selamat ke gereja, dan sejenisnya.

Kadang bapa guru asal NTT yang sudah karatan di Jatim ini bertanya. Sudah pigi gerejakah? Siapa romonya? Khotbah tentang apa? Pertanyaan-pertanyaan yang mirip guru SD di pelosok NTT, kampung asalku, ketika saya masih kecil.

Sesekali saya jawab. Tapi lama-lama saya biarkan. Kok kayak mesin aja. Mirip salamnya cewek-cewek-cewek penjaga toko Indomaret dan sejenisnya.

Bapa guru SMA swasta ini juga sering membagikan cerita-cerita yang dianggap bagus untuk motivasi. Sebagian besar bernuansa kristiani. Ya.. saya baca sebentar. Tidak dibalas karena saya tahu itu hasil nyopas alias terusan pesan dari temannya. Temannya juga dapat cerita itu dari temannya. Dan seterusnya.

Kadang saya ingin memblokir nomor orang ini dan beberapa orang lain yang punya hobi sejenis. Termasuk bapa tua 70an tahun yang biasa jadi narasumber untuk menulis cerita-cerita tentang Surabaya tempo dulu.

Waduh... bapa tua ini sangat sering membagikan video lucu yang rada ngeres. Kok masih suka lihat cewek-cewek (nyaris) telanjang? Maklum, zaman dulu belum ada mainan digital kayak media sosial ini. ''Om ini sudah tua tapi jiwanya masih muda,'' kata kakek yang sering muncul di televisi lokal itu.

Lama-lama memori ponsel yang memang terbatas jadi penuh. Apa boleh buat. Langsung dihapus semua pesan video dan gambar yang makan tempat itu.

Anehnya, bapa-bapa yang doyan share gambar dan video itu sangat sulit diajak kopi darat. Beberapa kali saya coba mampir ke rumahnya tapi selalu tutup. Masih di Surabaya. Masih kerja. Masih sibuk.

Begitulah. Di era online ini kita makin sulit menjadi makhluk offline. Doyan mengucapkan salam tanpa perlu kontak mata.

No comments:

Post a Comment