18 March 2018

Minggu Sengsara, Pentingnya Nyepi

Minggu Kelima Prapaskah atau Minggu Sengsara. Misa petang kemarin bertepatan dengan Hari Nyepi. Karena itu, pater CM yang pimpin ekaristi sempat menyinggung pentingnya nyepi, hening atau silentium dalam homilinya.

Siapa nama pater itu? "Waduh, gak tau. Beliau romo tamu," kata gadis berkacamata yang jadi dirigen kor di Pandaan Pasuruan. Saya pun tidak lagi bertanya ke umat yang lain. Lah, dirigen aja gak tau. 

Pater berkacamata minus ini menyebut orang-orang modern di zaman now makin sulit melakukan meditasi, saat teduh, silentium, nyepi dsb. Mengapa? Media sosial. Internet. Ponsel pinter yang makin cerdas.

Kalau sekadar pantang makan minum sih mudah. Tapi hening, puasa medsos, internet? "Makanya nyepi itu harus disertai dengan puasa internet. Puasa medsos," ujar romo kongregasi misi itu.

Hem... benar juga. Di dinding gereja saya lihat ada tulisan berisi imbauan mematikan HP di dalam gereja. Agar fokus ekaristi. Membiarkan Tuhan berbicara dalam bahasa yang halus. Tapi satu orang di samping saya tetap saja main HP. Menjawab pesan-pesan WA.

Saya pun sama. HP tetap on. Bukan apa-apa. Saya gunakan untuk membuka aplikasi Puji Syukur. Sebab paroki ini tidak menyediakan buku Puji Syukur dan Alkitab seperti di Surabaya atau Sidoarjo. Maka aplikasi Puji Syukur dan Alkitab di HP menjadi sangat efektif.

Godaan bermedsos dan internet? Tidak usah khawatir. Pakailah mode pesawat. Tapi kita kadang dikira main HP selama misa berlangsung.

Minggu sengsara berarti makin dekat minggu palem dan pekan suci. Injil Yohanes 12:20-33 yang dibacakan di seluruh dunia menceritakan tentang saatnya telah tiba. 

"The hour has come for the Son of Man to be glorified. Amen, amen, I say to you, unless a grain of wheat falls to the ground and dies, it remains just a grain of wheat; but if it dies, it produces much fruit. Whoever loves his life loses it, and whoever hates his life in this world will preserve it for eternal life."

Misa di kota kecil ini rasanya lebih familier. Suasana kekeluargaan sangat kental. Masuk gereja disalami gadis-gadis manis dengan senyum. Pulangnya saling bersalaman. Umat tidak cepat-cepat kabur ke halaman parkir.

No comments:

Post a Comment