09 March 2018

Jalan Salib dan Cinta Kasih

Ini Jumat ketiga masa prapaskah atau puasa. Kalau di NTT, khususnya Flores, ada tradisi jalan salib di gereja atau kapela. Juga tidak masak pakai garam. Tidak boleh daging dsb.

Jalan salib itu ibadat devosi khas Katolik. Bukan ibadat wajib. Karena itu, di Jawa hampir tidak kelihatan jalan salibnya. Maklum, orang-orang sibuk cari uang. Lantas pergi ke luar kota. Libur akhir pekan.

Beda dengan jalan salib di Flores yang ramai nian. Anak-anak kecil sepertinya menghayati sengsara Kristus yang digambarkan di stasi 1 sampai 14. Antipon jalan salib dengan melodinya yang khas sulit dilupakan. Sampai usia dewasa dan lanjut.

Masa prapaskah sudah tiga minggu. Tapi saya belum pernah dengar orang-orang Katolik di Surabaya dan Sidoarjo, yang saya temui, bicara jalan salib. Yang dibicarakan cuma isu-isu aktual, trending topics, di media sosial.

Tuhan... ampunilah kami orang yang berdosa ini!

Bacaan rohani Jumat 9 Maret 2018 ini membahas hukum yang pertama dan utama. Markus 12:28b-34. "Which is the first of all the commandments?"

Jesus : "The first is this: 'Hear, O Israel! The Lord our God is Lord alone! You shall love the Lord your God with all your heart, with all your soul, with all your mind, and with all your strength.'

The second is this: 'You shall love your neighbor as yourself.' There is no other commandment greater than these."

Pater Geurtz SVD dan Pater Van der Leur SVD di Lembata dulu selalu bilang hukum cinta kasih itu yang paling utama. Cintailah Tuhan dan sesama manusia seperti dirimu sendiri!

Kedua pater asal Belanda ini sudah lama tiada. Pater-pater SVD pun sudah tidak lagi bertugas di Lembata. Diganti para Reverendus Dominus alias RD alias Romo Diosesan alias romo-romo projo. Tapi hukum cinta kasih selalu akan abadi. Lebih-lebih di era hoax and fake news.

Selamat jalan salib!

3 comments:

  1. Saya dua kali ke Puh Sarang, Kediri, disana ada Jalan Salib yang bagus. Mungkin sekali orang2 katolik Sidoarjo atau Surabaya yang ke luarkota pergi ke Kediri.
    Membaca Artikel ini, mengingatkan penderitaan saya sewaktu masih disekap dalam asrama biara katolik, tiap malam prapaskah diharuskan sembahyang rosario jalan salib, sampai dengkul dan sikut jadi kapalen.
    Di Bukit kapur Gresik, bekas kuburan cina, bisa tho dibangun semacam Golgota, sehingga orang2 Surabaya dan Sidoarjo bisa ikut merasakan penderitaan Yesus Kristus.
    Ketika masih jadi mahasiswa, kita anak2 Indonesia pada awal bulan, setelah menerima uang bea-siswa dari pemerintah atau dari institusi gereja, sering pergi berjudi ke Casino. Di Eropa ada peraturan pemerintah, penduduk satu kota dilarang berjudi di Casino di kotanya sendiri, harus pergi ke Casino kota lainnya. Peraturan ini untuk mencegah supaya penduduk tidak terlalu sering pergi ke Casino. Ya, kita, anak2 Indonesia ( hanya teman2 saya yang mbeling ), harus naik kereta listrik ke kota lain, yang jaraknya 30 Km. Lazimlah, dalam jangka panjang, tidak ada orang yang bisa kaya dari judi, jadi sepulang dari Casino, kita selalu kalah, kantong kempes, jadi melarat, terpaksa hanya bisa membeli tulang belulang ayam untuk lauk makan.
    Karena tidak punya uang lagi, jalan satu2-nya terpaksa harus belajar, sambil menunggu bulan berikutnya menerima uang bea-siswa, untuk melunasi utang, membeli karcis trem bulanan, membeli kupon makan siang dan malam, membayar uang sewa asrama. Kalau ada uang sisa, hasil berhemat beberapa bulan, niatnya mau membeli sepatu atau baju baru, tetapi pikir2 lagi, pakai sajalah sepatu dan baju tua yang sudah rombeng, pergi ke Casino, kalau menang barulah beli baju dan sepatu baru. Mustahil ! Bermimpi !
    Setelah kita lulus sekolah, punya pekerjaan dan uang, setiap kali setir mobil lewat jalan yang paralel dengan rel kereta listrik jurusan Casino, kita ketawa getir, bergurau dan berkata :
    Lihat itu rel, sambil berkata; Via Dolorosa !

    ReplyDelete
  2. Bung Hurek, coba Anda lihat di emak Youtube, ketika Via Dolorosa, dengarkan lagunya yang lyriknya dalam bahasa Jerman, sangat sendu.

    ReplyDelete
  3. Di Jakarta jalan salib masih ramai. Bahkan Katedral Jakarta menggelar jalan salib Senin-Jumat ketika paroki lainnya hanya menggelar jalan salib setiap Jumat. Dan ketika hari Jumat jalan salib di Katedral hampir penuh. Bahkan tahun2 kemarin jalan salib hari Jumat sampai dibuat 2x jam 17.00 & 17.30.

    ReplyDelete