18 March 2018

Gus Irsyad vs Kotak Kosong

Gus Irsyad bakal melawan kotak kosong pada pilbup Pasuruan. Ini baru saya ketahui saat melintas di Pandaan kemarin. Baliho kampanye Irsyad, bupati petahana, dipasang di beberapa tempat strategis.

Inilah kali pertama saya melihat alat peraga kampanye pilkada yang pasangan calonnya tunggal. Dulu calon tunggal biasanya di desa-desa. Calon kades melawan bumbung kosong. Sering kali bumbung kosong yang menang.

Bagaimana kalau rakyat Kabupaten Pasuruan justru memenangkan kotak kosong? Gak mungkin, kata teman baru yang asli Pandaan di halaman Gereja Katolik Santa Theresia Pandaan. Gus Irsyad terlalu kuat, katanya.

Saking kuatnya, tidak ada satu pun partai yang berani mengusung calon lain. Sebab pasti kalah. Buat apa habis yang banyak kalau sudah tahu bakal kalah? Maka merapatlah semua partai ke Gus Irsyad.

 "Malah bagus calon tunggal. Biar gak kisruh kayak pilgub DKI Jakarta. Rakyat itu butuh tenang, sejuk, gak ribut-ribut. Apalagi pakai isu agama, ras, etnis dsb," ujar teman yang ternyata pendukung Bupati Irsyad.

Okelah. Tapi bagaimana kalau kotak kosong yang menang? Mungkin tidak di Pasuruan tapi daerah lain. Apakah harus bikin pilkada ulang? Proses tahapan pilkada dari awal?

"Itu kan asumsi saja. Kalau Pasuruan ini beda. Gus Irsyad pasti menang," katanya sangat tegas.

Gus Irsyad tidak salah. Yang salah tentu partai-partai di parlemen. Kol gak ada yang berani memajukan calon lain? Untuk menantang Gus Irsyad? 

Partai-partai juga tidak salah. Sebab aturannya memang memungkinkan calon tunggal. Mestinya ada syarat batas maksimal persentase dukungan untuk pasangan calon. Tidak hanya batas minimal. Dengan begitu, pilkada atau pilpres punya minimal dua pasangan calon.

Kalau di Jatim cenderung sangat sedikit calon, bahkan calon tunggal, di NTT sebaliknya. Calon-calon bupati sejak era pemilihan langsung terlalu banyak. Terlalu banyak orang yang berambisi menjadi bupati atau gubernur. Jarang ada partai-partai yang bisa menghimpun kekuatan secara optimal. Biasanya cuma 20 persen lebih sedikit.

Yang jelas, dua ekstrem ini tidak bagus. Terlalu banyak calon tidak elok. Apalagi kualitas calonnya di bawah standar. Sebaliknya calon tunggal pun sangat jelek. Tapi yang paling buruk adalah pilkada melawan kotak kosong.

No comments:

Post a Comment