16 March 2018

Berdoa dalam bahasa kita sendiri

Waktu masih bocah polos di kampung, pelosok NTT, saya sering dengar Pater Geurtz dan Pater Van der Leur berdoa dalam bahasa Latin. Doa apa saja. Pater Noster, Aver Maria, Credo, Rosario, Vesper dsb pakai Latin. Kalau misa sih pakai bahasa Indonesia. Khotbah campuran bahasa Indonesia + Lamaholot (bahasa daerah Flores Timur).

Pater-pater asal Belanda itu memang bisa berbahasa Lamaholot dengan baik. Bahasa Indonesianya jauh lebih lancar ketimbang orang-orang kampung. Makanya saya heran pater-pater pribumi, asli Lamaholot, justru tidak pernah khotbah pakai bahasa daerah. Kalau diajak ngobrol pun lebih suka pakai bahasa Indonesia yang resmi. Macam di buku atau seminar.

Saat mahasiswa saya jadi ingat masa kecil itu. Alangkah enaknya kalau berdoa pakai bahasa Latin. Lagu gregorian Latin. Pakai slogan-slogan Latin. Pro ecclesia et patria! Ora et labora! Et unam unum sint! 

Lumayan... saya akhirnya bisa hafal banyak lagu liturgi berbahasa Latin. Sesekali bisa dipamerkan meski kualitas suara kurang bagus. Doa rosario pakai Latin itu sepertinya lebih mantap. Mirip pater-pater Eropa di Flores dulu. Sekarang semuanya sudah... resquescat in pace! Requiem aeternam... 

Benarkah bahasa Latin lebih joss? Lebih manjur doanya? Tuhan lebih suka bahasa Latin atau Arab atau Inggris dan bukan Lamaholot? 

Saya merenung di Pamekasan Madura setelah wawancara panjang dengan Ibu Hasaniah Waluyo (RIP). Ibu ini sedang menyelesaikan terjemahan Alkitab dalam bahasa Madura. Ouw... Alkitab berbahasa Madura. "Karena Tuhan berbicara dalam semua bahasa manusia. Bahasa apa saja Tuhan suka," ujar ibu yang murah senyum itu.

Bukankah Alkitab yang dipakai di Indonesia juga pakai bahasa Indonesia? Mengapa berdoa harus pakai Latin? Bahasa yang sangat asing dan sulit. Bukan bahasa kita sehari-hari. Mengapa umat Katolik di kampung-kampung yang buta huruf juga harus menghafal Pater Noster, Aver Maria, Aver Verum Corpus, et cetera?

Sejak itulah saya tidak lagi gandrung doa-doa Latin. Pakai bahasa Indonesia saja. Tidak pakai bahasa Lamaholot karena memang belum ada. Beda dengan gereja-gereja katolik di Jawa yang sejak dulu punya doa dan nyanyian berbahasa Jawa sebelum bahasa Indonesia.

Sejak itu saya jadi geli mendengar pendeta-pendeta aliran karismatik yang doyan kutipan Alkitab pakai bahasa Inggris. Seakan-akan Yesus dulu bicara pakai bahasa Inggris. Seakan-akan Bibel yang asli berbahasa Inggris. Seakan-akan jemaat di Surabaya sangat paham English.

Kini, di grup-grup media sosial yang ramai adalah doa-doa berbahasa Arab. Selamat ulang tahun pakai Arab. Happy milad. Fi amanillah. Barakallah fi umrik...

Rupanya teman-teman grup yang 98 persen muslim ini menganggap doa dalam bahasa Arab itu yang afdal. Lebih manjur. Tuhan lebih senang bahasa Arab. Kalau pakai bahasa Indonesia atau Jawa dianggap kurang islami. Benarkah demikian?

Syukurlah, satu jam lalu saya baca artikel Qaris Tajudin di Tempo. Qaris ini selain muslim tulen juga fasih bahasa Arab. Dia menulis, "... saya pribadi lebih senang berdoa dengan bahasa yang saya pahami. Bahasa Indonesia adalah bahasa ibu, maka itulah yang paling saya hayati."

Plong rasanya membaca tulisan Mas Qaris. Sudah lama saya ingin mengkritik kelatahan teman-teman yang terlalu gandrung bahasa Arab tapi tidak berani. Terlalu sensitif karena terkait agama lain. Maka kritikan tajam Mas Qaris ini boleh dikata mewakili unek-unek yang terpendam sangat lama.

7 comments:

  1. Bersyukurlah wahai manusia-manusia pemuja Tuhan yang polyglott, sehingga kalian bisa mengutarakan unek2 dan memanjatkan doa masing2 dengan bahasa daerah.
    Kasian si Oentoeng dan si Boeang, kedua kernet abang ku, mereka boeta hoeroef, bahasa Indonesia aja tidak becus, boro2 disuruh membaca dan menulis bahasa arab. Setahu saya, mereka dilarang berdoa dengan bahasa Oseng, sebab yang dipuja ora mudheng bosone wong Blambangan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ndak apa2 pake bahasa blambangan osing utowo hokkian madura bali tetun dsb.

      Salam oentoek Kan Oentoeng dan Kang Boeang semoga tetep semangat tjari oeang

      Delete
  2. Saya bersentuhan dengan ajaran Katolik pertamakalinya pada tahun 1957, ketika duduk dibangku sekolah rakyat kelas empat, di Rogojampi. Sekolah Katolik itu dibangun secara darurat, untuk bisa segera menampung anak2 WNI dari sekolah THHK, yang dilarang oleh pemerintah belajar disekolah Tionghoa.
    Dari semua Paus yang saya kenal sejak itu, hanya Paus Johannes XXIII, yang sangat berkesan dibenak saya.
    Beliau lah yang menganjurkan pembaruan didalam tubuh Gereja Katolik, dengan Konzil Vaticanum II.
    Sejak itulah kita tidak usah berdoa dengan bahasa Latin, walaupun saya pribadi justru hanya hafal Liturgie dalam bahasa Latin, Liturgie pakai bahasa Indonesia atau bahasa Jerman, isun ora mudheng, mergone jarang ke Gereja.
    Papst Johannes XXIII : Dogma adalah Kebenaran, dan Kebenaran sejati adalah yang sesuai dengan zamannya. Kebebasan beragama bagi seluruh warga, sesuai dengan undang2 dinegerinya masing2.
    Utamakan Dialog antara umat, walaupun berbeda agama.
    Ciamik tho Paus kuwi.
    Bagaimana bisa berdialog antar umat di Indonesia, jika yang satu pihak selalu mengucapkan kalimat2 dalam bahasa arab, yang tidak dimengerti oleh pihak lainnya. Bagaimana bermusyawarah, jika pihak satunya selalu merasa paling benar dan mau menang sendiri.
    Bagaimana bisa berdialog seperti yang dianjurkan Papst Johannes, jika seorang Bumiputra seperti L. Hurek merasa takut mengatakan kebenaran, karena bisa dituduh Blasphemie.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Leres kang blambangan. Di surabaya ada ungkapan sing waras ngalah. Gak usah ngotot ben gak digorok.

      Ojo lali mas Ahok dipenjara 2 tahun dan bisa ditambah lagi. Gara2 wani melawan arus. Digorok rame2. Omongannya Ahok bagus dan sering pake data. Tapi karena gak baca situasi.. gak ngerti sing waras ngalah... ya mlebu penjara.

      Delete
  3. Walaupun terlahir setelahnya, saya sangat setuju dengan semangat dari Konsili Vatikan II.

    Zaman now, Gereja Katolik di Amerika Serikat terbelah umatnya karena politik. Ajaran Gereja sendiri ada dualisme politik. Ada umat yang ingin menekankan ajaran Gereja yang sangat pro keadilan sosial, a la teologi liberasi, menyokong hak-hak para imigran, anti hukuman mati, pro pengeluaran pemerintah untuk kesejahteraan orang miskin (seperti ObamaCare). Umat ini berdiri di sebelah partai Demokrat.

    Sebaliknya ada umat yang ingin menekankan ajaran Gereja yang mengetengahkan kemurnian moral pribadi terutama bagian selangkangan: anti seks di luar nikah, anti kondom, anti aborsi, anti pernikahan sesama jenis. Mereka ini secara ekonomi juga tidak suka ajaran Gereja yang mendesak orang kaya untuk berbagi dengan orang miskin. Mereka ini sejalan dengan penganut protestan Haleluyah (Evangelical Christians, istilah Amriknya), berdiri di sebelah Partai Republik.

    Pemuka2 Gereja sendiri di jaman Johannes Paulus II, condong ke kemurnian moral seksual. Setelah skandal pedofilia terjadi, di mana pastor2 yang bejat hanya dimutasi, dan ditutup2i oleh uskup2 seperti mantan Uskup Boston Bernard Law, saya menjadi kecewa sekali. Dan malas ke gereja krn pemuka2nya bejat seperti almarhum Bernard Law yang baru mati. Di jaman Paus Fransiskus, mereka yang lebih menekankan keadilan sosial seperti mendapatkan angin segar.

    Sekarang saya hanya menjadi penganut ajaran Yesus di luar Gereja saja, menjadi pengamat.

    ReplyDelete
  4. Paus Yohanes XXIII memang ciamik progresif. Konsili Vatikan 2 itulah yg bikin kita orang bisa sembahyang pake kita punya bahasa sendiri. Baca bibel dan menyanyi pake bahasa tempatan. Gak perlu hafalken doa2 bahasa Latin yang sulit itu.

    Lah... wong kampung gak iso bahasa Indonesia kudu hafal bahasa Latin?? Wuangel tenan. Belum lagi lagu2 gregorian latin itu pancen angel. Sampe sekarang saya amati gregorian 8 yang paling umum dan gampang aja belum bisa dinyanyikan dengan lancar dan enak di Jawa Timur. Kecuali anggota2 kor yg pengalaman dan punya musikalitas bagus.

    Makanya PML pimpinan Pater Karl Edmund Prier SJ yg dibacok di saat misa di gereja Jogja kemarin itu MENGHAPUS semua lagu gregorian dari buku Madah Bakti yg beliau terbitkan.

    ReplyDelete
  5. Ungkapan yg menarik: "menjadi penganut ajaran Yesus di luar gereja. Jadi pengamat aja."

    Posisi yg saya kira cocok dengan atmosfer di USA dan negara2 maju. Kalo di Indonesia ada kolom agama. Kudu diisi. Hehe...

    ReplyDelete