29 March 2018

Warlheiyono Juragan Orkes Menang Lagi

j

Tahun 90an WARLHEIYONO juragan orkes dangdut. OM Mayora. Markasnya di Rangkah Kidul, Sidoarjo. Setiap malam pria yang hobi berkuda itu keliling Jatim bersama artis-artis dangdut lokal. Cantik-cantik, genit, bahenol. Plus pinter golek saweran.

Salah satu penyanyi dangdut berbakat saat itu bernama Inul Daratista. ''Saya orbitkan dia ketika belum ada apa-apanya. Masih ngamen di mana-mana. Jangan tanya soal bayaran,'' kata Warlheiyono.

Seperti orkes melayu (OM) lainnya, orkes pimpinan Warlheiyono punya begitu banyak penyanyi. Mulai yang remaja hingga STW. Inul yang paling menonjol. Berkat goyangan ngebor yang sangat seksi. Gaya women on top. Kafe-kafe dangdut jadi ramai luar biasa kalau Inul tampil. Bisa usir stres di zaman krismon.

Betul perkiraan Warlheiyono. Inul kian melejit. Ditanggap di mana-mana. Diajak berbagai orkes di tanah Jawa. ''Memang rezekinya Inul. Goyangannya hebat, suaranya bagus, power oke. Inul juga menguasai banyak lagu. Nggak dangdut thok,'' tuturnya.

Inul Daratista yang asli Kejapanan Pasuruan, dekat Sungai Porong, akhirnya melejit ke tingkat nasional. Masuk televisi. Hampir setiap malam. Bahkan punya acara khusus bernama Sang Bintang di SCTV.

Bagaimana dengan Warlheiyono dan OM Mayora? Jalan terus dengan orkesnya. Tapi tidak kebanjiran rezeki seperti Inul. Dan itu memang nasib orkes lokal di mana-mana. Mengangkat calon bintang hingga melejit ke angkasa. Tapi mereka sendiri tidak ikut terangkat.

Warlheiyono kemudian ikut pemilihan kepala desa di Rangkah Kidul Sidoarjo. Menang. Maka juragan dangdut ini lebih dikenal sebagai pak lurah. Tidak banyak yang tahu bahwa dia punya andil besar mengangkat seorang Ainur Rochimah menjadi Inul Daratista.
''Jadi kepala desa itu untuk melayani masyarakat. Waktu untuk mengurus orkes jadi terbatas,'' ujarnya.

Meski begitu, dia membantah anggapan bahwa OM Mayora sudah wassalam. Buktinya, orkes ini masih sesekali tampil di Sidoarjo. Terakhir saya lihat OM Mayora memeriahkan kejuaraan pacuan kuda di Pilang Wonoayu. Kebetulan Warlheiyono ketua Pordasi Sidoarjo. Perintis olahraga kuda di Kabupaten Sidoarjo.

Minggu lalu, 25 Maret 2018, Warlheiyono kembali mengikuti pilkades. Menang telak. Suaranya 1.887 banding 156. Saingannya MIEKE WAHYUNINGTYAS. Tidak lain istrinya sendiri.
Rupanya tidak ada calon yang berani menantang Warlheiyono. Takut kalah. Kalah modal. Kalah ngetop. Kalah pengalaman. Kalah orkes. Kalah kuda. Maka dicarilah Mieke agar calon petahana ini ada lawannya di pilkades. Sistem bumbung kosong memang tidak lagi dibolehkan di Sidoarjo. Padahal di pilkada, bahkan pilpres, boleh.

Di periode kedua ini, Warlheiyono ingin menyelesaikan program-program-program lama untuk mengangkat kesejahteraan warga Rangkah Kidul. Termasuk membenahi kampung ini agar kelihatan lebih maju dan modern. Bukan apa-apa. Meskipun berada di pusat kota, Rangkah Kidul masih terlihat seperti wilayah pinggiran saja. Maklum daerah tambak di lingkar timur.

Sejumlah perumahan dan pergudangan mulai bermunculan di lingkar timur. Ada Taman Tanjung Puri yang hijau dan asri. Ada juga gedung serbaguna Sidoarjo Community Center (SCC) yang megah. Desa Rangkah Kidul harus bisa mengimbanginya.

Bagaimana dengan orkes dangdutnya? Jalan terus atau vakum dulu? ''Musik itu jiwa saya. Nggak mungkin distop,'' ujarnya.

Belum jelas apakah saat pelantikan nanti Inul Daratista akan pamer suara dan goyangan di Rangkah Kidul. Yang pasti Inul sekarang sudah STW dan tidak ngebor lagi.

25 March 2018

Jadwal Pekan Suci 2018 di Sidoarjo

Silakan googling aja. Mbah Google itu pasti tahu semua! Begitu ucapan yang makin lazim di era internet. Mesin pencari asal USA itu memang sudah lama diakui kehebatannya.

Saya pun mencoba cari jadwal Pekan Suci di Sidoarjo. Mulai minggu palem, kamis putih, jumat agung, sabtu suci vigili paskah, minggu paskah. Hasilnya ternyata nihil. Di media sosial pun tidak ada.

Ouww... ternyata Mbah Google tidak sesakti yang dibayangkan orang. Jadwal misa pekan suci di Kabupaten Sidoarjo tidak ada. Cuma jadwal beberapa tahun lalu. Padahal saya membutuhkan jadwal Pekan Suci 2018.

Apa boleh buat. Cara terbaik adalah datang langsung ke gereja. Ada tiga paroki di Kabupaten Sidoarjo: Paroki Salib Suci di Wisma Tropodo Waru, Paroki Santa Maria Annuntiata di Jalan Monginsidi 13 Sidoarjo (Kota), dan Paroki Santo Paulus Jalan Raya Juanda, Gedangan.

Cara lama ini memang jauh lebih efektif. Pasti akurat 100 persen. Beda dengan sistem share di medsos yang tanpa disertai verifikasi atau cek dan ricek.

Berikut jadwal Pekan Suci di tiga Gereja Katolik di Kabupaten Sidoarjo.

1. Paroki St. Maria Annuntiata, Jalan Monginsidi 13 Sidoarjo

KAMIS PUTIH, 29 Maret 2018
* Misa Pertama : 18.00
* Misa kedua : 21.30

JUMAT AGUNG 30 Maret 2018
* Jalan Salib : 07.00
* Misa : 12.00, 15.00 & 18.00

SABTU SUCI 31 Maret 2018
* Misa : 18.00 & 22.00

MINGGU PASKAH 1 April 2018
* Misa : 06.00, 08.30 & 17.00

2. Paroki Santo Paulus, Jalan Raya Juanda Gedangan

KAMIS PUTIH
* Misa : 19.00

JUMAT AGUNG
* Jalan Salib : 07.30
* Misa : 15.00

SABTU SUCI
* Misa : 19.00

MINGGU PASKAH
* Misa : 07.30 & 17.30

3. Paroki Salib Suci, Wisma Tropodo Waru

KAMIS PUTIH
* Misa : 18.00

JUMAT AGUNG
* Jalan Salib : 07.00
* Misa : 15.00

SABTU SUCI
* Misa : 19.00

MINGGU PASKAH
* Misa : 07.30 & 17.30

24 March 2018

Musik Liturgi di Gereja Virtual

Mulai masuk pekan suci. Minggu Palem... Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Paskah.

Saya coba masuk ke Youtube. Mencari lagu-lagu khas pekan suci. Khususnya pasio alias kisaj sengsara. Wow... luar biasa!

Youtube ibarat mukjizat penting abad ini. Ribuan musik liturgi gerejawi ada di sana. Begitu saya ketik 'Bach organ'.. muncul ribuan alternatif tawaran. Tentu saya pilih yang paling dekat dengan liturgi kita di Indonesia. Kepala Yang Berdarah. Di Flores dulu judulnya Kepala Yang Terluka.

Saya begitu kagum pada para organis yang mengisi Youtube dengan musik-musik liturgi. Salah satunya yang pakai nama Virtual Church. Gereja virtual. Gereja cukup di dalam genggaman tangan. Lagu-lagu himne gereja disajikan dalam instrumentalia organ pipa kelas tinggi.

Justru di gereja-gereja biasa, yang bukan virtual, kita sudah tidak menemukan lagi organ pipa. Apalagi dimainkan dengan kualitas tinggi. Lama-lama khasanah musik liturgi yang sangat kaya itu hanya bisa dinikmati di jagat virtual. Bach, Mozart, Palestrina, etc tersedia lengkap di Youtube.

Akhirnya, saya juga iseng mencari Exultet yang jadi lagu pujian lilin paskah. Lagu dengan melodi yang sangat indah itu. Wow... banyak sekali. Mulai versi Latin, Inggris, Spanyol, Italia dsb. Versi Indonesia juga ada tapi kurang bagus. Rekamannya seadanya.

Syukurlah, di era internet ini kita punya akses luar biasa untuk menikmati musik liturgi. Gereja Virtual menyediakan semuanya. Berlimpah ruah.

22 March 2018

David Foster Konser di Surabaya

Aha, David Foster bikin konser di Surabaya, Kamis 22 Maret 2018. Tiga jam. Di Dyandra Jalan Basuki Rahmat yang dulu dikenal sebagai Toko Buku Gramedia pertama di Jawa Timur itu. Tiket paling murah Rp 600 ribu. Paling mahal Rp 5 juta.

David Foster, The Hit Man, ditemani Brian McKnight, Anggun, Dira Sugandi, Yura Yunita, dan Sandhy Sandoro. Saya agak kenal Dira dan Yura ketika masih aktif menonton dan meliput musik jazz. Dira dan Yura penyanyi ciamik di NKRI.

Anggun jangan ditanya lagi lah. Saya juga kenal ketika dia masih gadis remaja yang pakai topi baret. Saat konser di Gebang, Jember, dulu panggungnya ambruk. Anggun meloncat-loncat. ''Mengaku bujangan... kepada setiap wanita... ternyata cucunya segudang....''

David Foster? Luar biasa bapak tua dari Kanada ini. Lagu-lagu garapannya selalu enak. Biasanya ada modulasi atau overtone. Melodius. Itulah yang membius orang Indonesia sejak 80an.

Saya mulai nguping David Foster di kos-kosan Bung Raymond di Pattimura Malang. Sewaktu bung ini masih mahasiswa Brawijaya Malang. Glory of Love. You're the meaning in my life... Hard to say I'm sorry.

Bung asli Maluku ini saya lihat hampir tiap hari belajar memainkan lagu-lagu Foster. Meskipun gak gampang karena biasanya cuma lagu-lagu pop sederhana tiga kunci ala Pance atau Obbie Messakh. Intro lagu-lagu Foster selalu membekas di kepala saya. Sampai sekarang.

Satu lagu David Foster yang saya anggap sedap nian adalah yang dinyanyikan Gordon Lightfoot. Anything for Love. Korus atau refrennya sangat enak... menurut saya.

Sayang, ketika masih jaya-jayanya David Foster tidak datang ke Surabaya. Dia baru bikin konser di usia senja. Setelah 30an tahun berlalu. Penyanyi-penyanyinya pun bukan yang asli bule di kaset macam Peter Cetera atau Gordon. Tapi penyanyi-penyanyi lokal NKRI.

Makanya, saya tidak tertarik untuk menikmati konser The Hit Man itu. Saya lebih senang menikmati rekaman beliau di Youtube. Khususnya album-album versi 80an dan 90an. Rasanya beda.

Wali Kota Tionghoa pun Korupsi

Kaget juga membaca berita tentang korupsi di Malang. Wali Kota Moch Anton jadi tersangka suap pembahasan APBD 2015. Tentu saja ini jadi gempa politik di kota apel nan sejuk itu. Apalagi Anton sedang kampanye untuk maju lagi di pilkada Kota Malang.

Dulu saya pikir Anton kebal korupsi. Gak akan neko-neko setelah terpilih sebagai wali kota Malang. Mengalahkan istrinya petahana yang di atas kertas lebih kuat. Mengapa Anton saya asumsikan kebal korupsi?

Abah Anton ini baba Tionghoa. Sudah kenyang. Ekonominya mapan. Sehingga kursi wali kota jadi ladang pengabdian untuk masyarakat. Urusan cari duit untuk keluarga sudah selesai. Sekaligus membuktikan bahwa orang Tionghoa ternyata bisa menjadi pejabat yang bagus dan amanah... kalau dikasih kesempatan.

Dulu, selama tiga dekade Orde Baru, mana ada orang Tionghoa jadi wali kota? Apalagi di Malang? Kota yang sudah joss sejak era Hindia Belanda. Maka banyak sekali pengusaha Tionghoa di Jatim yang punya harapan besar untuk Anton. Nama Tionghoa akan harum kalau Moch Anton sukses di Malang.

Kedua, Anton ini bukan Tionghoa klasik atau biasa. Dia muslim Tionghoa. Bukan sekadar beragama Islam, Anton sudah lama menjadi ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Malang. Sudah bertahun-tahun dia mengurus komunitas mualaf Tionghoa di kota asalnya itu.

Sebagai orang PITI, Anton lebih mirip santri ketimbang orang-orang Tionghoa di Kapasan, Pasar Atum, atau Pasar Besar Malang. Ngajinya fasih. Karena itu, ketika menjadi wali kota, dia membuat surat edaran tentang salat berjemaah di semua instansi di Kota Malang.

Kebijakan Anton ini dipuji-puji di berbagai kota. Khususnya di media sosial. Mereka ingin agar bupati atau wali kotanya bikin kebijakan serupa. Mewajibkan salat berjemaah di kantor-kantor pemerintah dan swasta.

Luar biasa religius Pak Wali yang Tenglang itu. ''Jangan terpukau Bung. Bisa saja itu cuma pencitraan Anton sebagai wali kota yang sangat religius. Kita lihat saja ke depannya,'' ujar teman lama saat ngopi di kawasan Pattimura, Malang.

Obrolan tentang Abah Anton pun tutup sampai di warkop itu. Sudah setahun berlalu. Eh... sekarang kok ada kabar Anton jadi tersangka korupsi. Jadi pasien KPK. Kok bisa ya? Orang Tionghoa, makmur, religius... tersandung kasus yang berbau uang uang uang.

Ternyata... oh ternyata... korupsi itu tidak kenal SARA. Tak peduli suku, agama, ras, golongan, status sosial, religius, sekuler, dsb. Tiongkok yang komunis dan Indonesia yang religius sama-sama ada korupsinya. 

Ah, jadi malu deh! 
Dulu saya pernah bikin tulisan yang isinya terlalu menyanjung Baba Anton ini.

21 March 2018

Kok Protes Eksekusi Mati di Arab Saudi?

Cukup ramai berita seputar eksekusi mati Zaini di Arab Saudi. Pria asal Bangkalan ini dihukum pancung karena didakwa membunuh juragannya pada 2004. Setelah disidang dsb, terdakwa Zaini harus menjalani hukuman mati.

Prihatin. Sedih. Apalagi kita yang menolak hukuman mati. Tapi mau bagaimana lagi? Arab Saudi punya kedaulatan. Sistem hukum di negaranya memang seperti itu.
Bukankah Indonesia juga sering mengeksekusi mati warga negara asing? Bahkan rombongan berikutnya dikabarkan sudah ada. Tinggal eksekusi aja. Tinggal menunggu situasi kondusif.

Bagaimana dengan protes luar negeri? Khususnya dari negara-negara yang antihukuman mati? Hem... anjing menggonggong kafilah berlalu aja.

Indonesia biasanya sudah punya argumentasi yang dianggap kuat. Darurat narkoba. Hukuman mati memang berlaku di NKRI. Untuk efek jera. Menyelamatkan masyarakat. Dan sebagainya.

Kalau mau jujur, mayoritas orang Indonesia sangat prohukuman mati. Khususnya terhadap bandar-bandar narkoba. Ada juga yang minta agar koruptor ditembak mati.

Lah... kok sekarang protes Arab Saudi? Apa kata dunia? Apa kata Saudi?

''Kamu orang sering eksekusi mati terpidana narkoba dsb kok kita orang mau menengakkan hukum kok gak boleh!! Opo tumon.''

18 March 2018

Gus Irsyad vs Kotak Kosong

Gus Irsyad bakal melawan kotak kosong pada pilbup Pasuruan. Ini baru saya ketahui saat melintas di Pandaan kemarin. Baliho kampanye Irsyad, bupati petahana, dipasang di beberapa tempat strategis.

Inilah kali pertama saya melihat alat peraga kampanye pilkada yang pasangan calonnya tunggal. Dulu calon tunggal biasanya di desa-desa. Calon kades melawan bumbung kosong. Sering kali bumbung kosong yang menang.

Bagaimana kalau rakyat Kabupaten Pasuruan justru memenangkan kotak kosong? Gak mungkin, kata teman baru yang asli Pandaan di halaman Gereja Katolik Santa Theresia Pandaan. Gus Irsyad terlalu kuat, katanya.

Saking kuatnya, tidak ada satu pun partai yang berani mengusung calon lain. Sebab pasti kalah. Buat apa habis yang banyak kalau sudah tahu bakal kalah? Maka merapatlah semua partai ke Gus Irsyad.

 "Malah bagus calon tunggal. Biar gak kisruh kayak pilgub DKI Jakarta. Rakyat itu butuh tenang, sejuk, gak ribut-ribut. Apalagi pakai isu agama, ras, etnis dsb," ujar teman yang ternyata pendukung Bupati Irsyad.

Okelah. Tapi bagaimana kalau kotak kosong yang menang? Mungkin tidak di Pasuruan tapi daerah lain. Apakah harus bikin pilkada ulang? Proses tahapan pilkada dari awal?

"Itu kan asumsi saja. Kalau Pasuruan ini beda. Gus Irsyad pasti menang," katanya sangat tegas.

Gus Irsyad tidak salah. Yang salah tentu partai-partai di parlemen. Kol gak ada yang berani memajukan calon lain? Untuk menantang Gus Irsyad? 

Partai-partai juga tidak salah. Sebab aturannya memang memungkinkan calon tunggal. Mestinya ada syarat batas maksimal persentase dukungan untuk pasangan calon. Tidak hanya batas minimal. Dengan begitu, pilkada atau pilpres punya minimal dua pasangan calon.

Kalau di Jatim cenderung sangat sedikit calon, bahkan calon tunggal, di NTT sebaliknya. Calon-calon bupati sejak era pemilihan langsung terlalu banyak. Terlalu banyak orang yang berambisi menjadi bupati atau gubernur. Jarang ada partai-partai yang bisa menghimpun kekuatan secara optimal. Biasanya cuma 20 persen lebih sedikit.

Yang jelas, dua ekstrem ini tidak bagus. Terlalu banyak calon tidak elok. Apalagi kualitas calonnya di bawah standar. Sebaliknya calon tunggal pun sangat jelek. Tapi yang paling buruk adalah pilkada melawan kotak kosong.

Minggu Sengsara, Pentingnya Nyepi

Minggu Kelima Prapaskah atau Minggu Sengsara. Misa petang kemarin bertepatan dengan Hari Nyepi. Karena itu, pater CM yang pimpin ekaristi sempat menyinggung pentingnya nyepi, hening atau silentium dalam homilinya.

Siapa nama pater itu? "Waduh, gak tau. Beliau romo tamu," kata gadis berkacamata yang jadi dirigen kor di Pandaan Pasuruan. Saya pun tidak lagi bertanya ke umat yang lain. Lah, dirigen aja gak tau. 

Pater berkacamata minus ini menyebut orang-orang modern di zaman now makin sulit melakukan meditasi, saat teduh, silentium, nyepi dsb. Mengapa? Media sosial. Internet. Ponsel pinter yang makin cerdas.

Kalau sekadar pantang makan minum sih mudah. Tapi hening, puasa medsos, internet? "Makanya nyepi itu harus disertai dengan puasa internet. Puasa medsos," ujar romo kongregasi misi itu.

Hem... benar juga. Di dinding gereja saya lihat ada tulisan berisi imbauan mematikan HP di dalam gereja. Agar fokus ekaristi. Membiarkan Tuhan berbicara dalam bahasa yang halus. Tapi satu orang di samping saya tetap saja main HP. Menjawab pesan-pesan WA.

Saya pun sama. HP tetap on. Bukan apa-apa. Saya gunakan untuk membuka aplikasi Puji Syukur. Sebab paroki ini tidak menyediakan buku Puji Syukur dan Alkitab seperti di Surabaya atau Sidoarjo. Maka aplikasi Puji Syukur dan Alkitab di HP menjadi sangat efektif.

Godaan bermedsos dan internet? Tidak usah khawatir. Pakailah mode pesawat. Tapi kita kadang dikira main HP selama misa berlangsung.

Minggu sengsara berarti makin dekat minggu palem dan pekan suci. Injil Yohanes 12:20-33 yang dibacakan di seluruh dunia menceritakan tentang saatnya telah tiba. 

"The hour has come for the Son of Man to be glorified. Amen, amen, I say to you, unless a grain of wheat falls to the ground and dies, it remains just a grain of wheat; but if it dies, it produces much fruit. Whoever loves his life loses it, and whoever hates his life in this world will preserve it for eternal life."

Misa di kota kecil ini rasanya lebih familier. Suasana kekeluargaan sangat kental. Masuk gereja disalami gadis-gadis manis dengan senyum. Pulangnya saling bersalaman. Umat tidak cepat-cepat kabur ke halaman parkir.

16 March 2018

Berdoa dalam bahasa kita sendiri

Waktu masih bocah polos di kampung, pelosok NTT, saya sering dengar Pater Geurtz dan Pater Van der Leur berdoa dalam bahasa Latin. Doa apa saja. Pater Noster, Aver Maria, Credo, Rosario, Vesper dsb pakai Latin. Kalau misa sih pakai bahasa Indonesia. Khotbah campuran bahasa Indonesia + Lamaholot (bahasa daerah Flores Timur).

Pater-pater asal Belanda itu memang bisa berbahasa Lamaholot dengan baik. Bahasa Indonesianya jauh lebih lancar ketimbang orang-orang kampung. Makanya saya heran pater-pater pribumi, asli Lamaholot, justru tidak pernah khotbah pakai bahasa daerah. Kalau diajak ngobrol pun lebih suka pakai bahasa Indonesia yang resmi. Macam di buku atau seminar.

Saat mahasiswa saya jadi ingat masa kecil itu. Alangkah enaknya kalau berdoa pakai bahasa Latin. Lagu gregorian Latin. Pakai slogan-slogan Latin. Pro ecclesia et patria! Ora et labora! Et unam unum sint! 

Lumayan... saya akhirnya bisa hafal banyak lagu liturgi berbahasa Latin. Sesekali bisa dipamerkan meski kualitas suara kurang bagus. Doa rosario pakai Latin itu sepertinya lebih mantap. Mirip pater-pater Eropa di Flores dulu. Sekarang semuanya sudah... resquescat in pace! Requiem aeternam... 

Benarkah bahasa Latin lebih joss? Lebih manjur doanya? Tuhan lebih suka bahasa Latin atau Arab atau Inggris dan bukan Lamaholot? 

Saya merenung di Pamekasan Madura setelah wawancara panjang dengan Ibu Hasaniah Waluyo (RIP). Ibu ini sedang menyelesaikan terjemahan Alkitab dalam bahasa Madura. Ouw... Alkitab berbahasa Madura. "Karena Tuhan berbicara dalam semua bahasa manusia. Bahasa apa saja Tuhan suka," ujar ibu yang murah senyum itu.

Bukankah Alkitab yang dipakai di Indonesia juga pakai bahasa Indonesia? Mengapa berdoa harus pakai Latin? Bahasa yang sangat asing dan sulit. Bukan bahasa kita sehari-hari. Mengapa umat Katolik di kampung-kampung yang buta huruf juga harus menghafal Pater Noster, Aver Maria, Aver Verum Corpus, et cetera?

Sejak itulah saya tidak lagi gandrung doa-doa Latin. Pakai bahasa Indonesia saja. Tidak pakai bahasa Lamaholot karena memang belum ada. Beda dengan gereja-gereja katolik di Jawa yang sejak dulu punya doa dan nyanyian berbahasa Jawa sebelum bahasa Indonesia.

Sejak itu saya jadi geli mendengar pendeta-pendeta aliran karismatik yang doyan kutipan Alkitab pakai bahasa Inggris. Seakan-akan Yesus dulu bicara pakai bahasa Inggris. Seakan-akan Bibel yang asli berbahasa Inggris. Seakan-akan jemaat di Surabaya sangat paham English.

Kini, di grup-grup media sosial yang ramai adalah doa-doa berbahasa Arab. Selamat ulang tahun pakai Arab. Happy milad. Fi amanillah. Barakallah fi umrik...

Rupanya teman-teman grup yang 98 persen muslim ini menganggap doa dalam bahasa Arab itu yang afdal. Lebih manjur. Tuhan lebih senang bahasa Arab. Kalau pakai bahasa Indonesia atau Jawa dianggap kurang islami. Benarkah demikian?

Syukurlah, satu jam lalu saya baca artikel Qaris Tajudin di Tempo. Qaris ini selain muslim tulen juga fasih bahasa Arab. Dia menulis, "... saya pribadi lebih senang berdoa dengan bahasa yang saya pahami. Bahasa Indonesia adalah bahasa ibu, maka itulah yang paling saya hayati."

Plong rasanya membaca tulisan Mas Qaris. Sudah lama saya ingin mengkritik kelatahan teman-teman yang terlalu gandrung bahasa Arab tapi tidak berani. Terlalu sensitif karena terkait agama lain. Maka kritikan tajam Mas Qaris ini boleh dikata mewakili unek-unek yang terpendam sangat lama.

14 March 2018

Agenda Nyepi 2018 di Sidoarjo



Banyak orang yang bertanya agenda Hari Nyepi di Sidoarjo. Mungkin karena saya sering menulis kegiatan umat Hindu di Sidoarjo. Juga kebetulan dekat sama Pak Nyoman Anom Mediana, ketua PHDI Kabupaten Sidoarjo.

Bisa juga karena Pura Jala Siddi Amerta di Jalan Raya Juanda Sidoarjo satu kompleks dengan gereja saya dulu: Gereja Paroki Santo Paulus. Itu salah satu dari dua pura yang ada di Kabupaten Sidoarjo. Pura pertama dan terbesar terletak di Balonggarut, Krembung. 

Tentu yang tahu agenda Hari Nyepi adalah umat Hindu di Sidoarjo. Yang lebih tahu lagi ya Pak Nyoman ketua PHDI Sidoarjo. Maka saya pun mengirim pesan minta agenda Nyepi. Biar bisa diliput wartawan. Tidak sampai satu jam datanglah balasan berikut:

1. Melasti (penyucian buana agung dan buana alit ke sumber air suci/samudera) pada hari Minggu, 11 Maret 2018. Lokasi melasti di Petirtan Jolotundo, Trawas, Mojokerto dan pantai Arafuru, Tanjung Perak, Surabaya.

2. Taur Agung : Jumat, 16 Maret 2018 di Pura Penataran Agung Margowening  Krembung dan Pura Jala Siddi Amerta Juanda, mulai jam 08.00 -- 11.00. 
Pukul 13.00 - 16.00, baksos pembagian sembako dan pelepasan ogoh-ogoh di Desa Balonggarut.

Sedangkan di Pura JSA, Juanda, Taur Agung Jumat jam 08.00 - 13.00, dilanjut dengan pelepasan ogoh-ogoh.

Jam 14.00 ogoh-ogoh menuju Kenjeran, pawai ogoh-ogoh gabung Surabaya di Kenjeran.

3. Nyepi : Sabtu, 17 Maret 2018 dengan melaksanakan catur brata penyepian.

4. Ngembak Gni : Minggu18 Maret 2018 dengan persembahyangan di Pura Krembung dan Pura Juanda.

10 March 2018

Presiden Xi Jinping Rada Mirip Pak Harto



Tiongkok selalu dapat porsi besar di media-media di Indonesia. Suka atau tidak. Sebab negara komunis yang partainya tunggal itu makin berpengaruh di dunia. Duitnya banyak. Investasinya menjangkau seluruh dunia.

Pekan ini koran-koran menyoroti Presiden Xi Jinping. Orang kuat Zhongguo ini disebut-sebut bakal jadi presiden seumur hidup. Konstitusi yang membatasi jabatan presiden dua periode pun diubah. Kongres rakyat, semacam MPR di sini, tinggal ketok palu saja.

Hem... Presiden Xi yang istrinya biduanita terkenal itu, Peng Liyuan, sepertinya meniru Presiden Soeharto di Indonesia. UUD 45 asli yang tidak tegas membatasi masa jabatan presiden membuat Pak Harto bisa berkuasa begitu lama. Suka-suka dia. Dan didukung oleh barisan intelektual tukang orba yang sangat piawai melakukan justifikasi. Plus indoktrinasi lewat PMP, penataran P4, PSPB dsb.

Akankah Tiongkok menjadi lebih maju dan makmur di tangan Xi Jinping?

Beberapa pengamat bilang begitu. Apalagi Tuan Xi ini dikenal punya reputasi hebat selama karirnya di pemerintahan. Mulai dari tingkat wali kota, gubernur hingga presiden. Pertumbuhan ekonomi nyaris 20 persen itu rasanya sulit diikuti negara mana pun.

Yang menarik dari Tiongkok itu adalah kehebatannya dalam memilih jalan sendiri. Tidak nyopas alias copy paste sistem demokrasi liberal ala USA. Juga tidak jiplak model komunis ala Sovyiet. Tiongkok itu memang sistem komunis tapi ada pasar bebasnya. Benar-benar unik.

Kita perlu sabar untuk melihat apakah Presiden Xi mampu menjadikan Tiongkok sebagai negara nomor satu dunia... di bidang ekonomi. Jadi jujukan negara-negara khususnya di selatan untuk memperbaiki ekonomi rakyatnya.

Amerika Serikat di tangan Presiden Trump kelihatannya gamang juga dengan Tiongkok. Ada-ada saja akal Pak Trump untuk menjepit negeri panda itu. Tapi si panda tentu masih punya 1001 jurus silat yang lihai.

Aliran Sapta Darma di Sidoarjo



Selain enam agama resmi, di Indonesia terdapat banyak aliran kepercayaan. Ada yang menyebutnya agama lokal. Tapi sejak dulu aliran-aliran kepercayaan ini selalu diawasi, dibina, dan diarahkan agar tidak menjadi agama baru. Bahkan, para penghayat kepercayaan bumiputra ini dianjurkan untuk masuk salah satu agama resmi. Khususnya yang dominan di tempat tinggalnya.

Nah, salah satu aliran yang cukup besar di Kabupaten Sidoarjo adalah Sapta Darma. Sebagian besar penganut Sapta Darma tinggal di Desa Balongdowo, Kecamatan Candi. Ada juga di Klurak, Gedangan, hingga Balongbendo dan Tarik.

Di Desa Balongdowo yang terkenal sebagai sentra petis dan nelayan kupang itu terdapat sanggar untuk pertemuan dan peribadatan warga Sapta Darma. Sanggar itu juga kerap didatangi sesama warga Sapta Darma dari Surabaya, Mojokero, Kediri, dan daerah lain di Jatim.

"Pertemuannya kadang sebulan sekali, dua bulan sekali, tergantung kebutuhan," ujar Hadi Sanadi, tuntunan kerohanian Persatuan Sapta Darma Indonesia (Persada) Sidoarjo belum lama ini.

Berapa jumlah warga Sapta Darma di Kabupaten Sidoarjo? Hadi tidak punya angka yang pasti. Sebab, banyak warga aliran ini yang tidak mengungkapkan identitasnya secara terang-terangan. Namun, dia memperkirakan antara 400 sampai 500 orang.

Seperti aliran-aliran kerohanian yang lain, Sapta Darma tidak mensyaratkan jadwal kebaktian rutin. Namun, biasanya pertemuan dilakukan pada hari-hari pasaran Jawa seperti Jumat Legi dan Jumat Wage.

Setiap Jumat Wage bahkan ada tugas piket di Sanggar Agung Candi Busana Pare, Kediri. Pada Jumat Wage (18/1/2018) misalnya Hadi Sanadi dan kawan-kawan dari Sapta Darma Sidoarjo bertugas piket di Pare bersama warga Sapta Darma asal Kediri dan Lamongan.

"Jumat Wage itu peringatan turunnya wahyu sujud kerohanian Sapta Darma yang diterima oleh Ki Harjosapoero di Kampung Pandean, Pare, Kediri. Tepatnya 27 Desember 1952," tutur Hadi.

Meski sudah 66 tahun hadir di Indonesia, menurut dia, Sapta Darma--begitu juga aliran-aliran kepercayaan yang lain--sering disalahpahami. Dianggap sebagai saingan agama-agama resmi. Karena itu, Hadi dan kawan-kawan memilih bersikap low profile. Tidak banyak bicara di media. Apalagi mendakwahkan alirannya kepada orang lain.

"Pelajaran agama untuk anak-anak kami di sekolah juga nggak ada. Mereka akhirnya mengikuti pelajaran agama yang diakui pemerintah," ujarnya.

Ini juga yang membuat Sapta Darma sulit berkembang di masyarakat. Regenerasi jadi tidak maksimal. Padahal, Sapta Darma sudah mulai berkembang di kawasan Balongbendo sejak 1985.

Karena itu, Hadi dan kawan-kawan sangat bersyukur ketika putusan Mahkamah Konstitusi (MK) pada November 2017 memberi ruang pengakuan bagi penghayat kepercayaan dalam identitas kependudukan, baik KTP maupun kartu keluarga (KK). Putusan MK itu dianggap sebagai langkah maju.

"Selama ini kolom agama dikosongkan di KTP, KK, dan identitas para penganut Sapta Darma. Kami dianggap seperti warga yang tidak punya agama dan tidak bertuhan," ujarnya.

Meski kolom agamanya dikosongkan, Hadi mengaku tidak kesulitan untuk mengakses fasilitas publik. Ia bersama para pengikut yang lain pun bisa menjalankan ibadah atau sujud dengan bebas. Apalagi hubungan dengan masyarakat sekitar yang mayoritas muslim pun baik-baik saja. "Masalahnya cuma di pendidikan agama anak-anak itu saja," ujarnya.

Sebelum ada putusan MK yang mengakomodasi penghayat kepercayaan di KTP dan identitas lainnya, sebenarnya Sapta Darma dan aliran lain sudah mendapat angin segar dari pemerintah. Yakni Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 27 Tahun 2016 tentang Layanan Pendidikan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa pada Satuan Pendidikan. Dijelaskan di situ bahwa pendidik khusus diberikan oleh pihak sekolah jika ada siswa yang menganut penghayat kepercayaan.

Hanya saja, pelaksanaannya belum mulus di lapangan. Ini juga karena guru untuk penghayat kepercayaan belum banyak. "Makanya, anak-anak bisa mendapat pendidikan dan praktik langsung di sanggar," katanya.

09 March 2018

Jalan Salib dan Cinta Kasih

Ini Jumat ketiga masa prapaskah atau puasa. Kalau di NTT, khususnya Flores, ada tradisi jalan salib di gereja atau kapela. Juga tidak masak pakai garam. Tidak boleh daging dsb.

Jalan salib itu ibadat devosi khas Katolik. Bukan ibadat wajib. Karena itu, di Jawa hampir tidak kelihatan jalan salibnya. Maklum, orang-orang sibuk cari uang. Lantas pergi ke luar kota. Libur akhir pekan.

Beda dengan jalan salib di Flores yang ramai nian. Anak-anak kecil sepertinya menghayati sengsara Kristus yang digambarkan di stasi 1 sampai 14. Antipon jalan salib dengan melodinya yang khas sulit dilupakan. Sampai usia dewasa dan lanjut.

Masa prapaskah sudah tiga minggu. Tapi saya belum pernah dengar orang-orang Katolik di Surabaya dan Sidoarjo, yang saya temui, bicara jalan salib. Yang dibicarakan cuma isu-isu aktual, trending topics, di media sosial.

Tuhan... ampunilah kami orang yang berdosa ini!

Bacaan rohani Jumat 9 Maret 2018 ini membahas hukum yang pertama dan utama. Markus 12:28b-34. "Which is the first of all the commandments?"

Jesus : "The first is this: 'Hear, O Israel! The Lord our God is Lord alone! You shall love the Lord your God with all your heart, with all your soul, with all your mind, and with all your strength.'

The second is this: 'You shall love your neighbor as yourself.' There is no other commandment greater than these."

Pater Geurtz SVD dan Pater Van der Leur SVD di Lembata dulu selalu bilang hukum cinta kasih itu yang paling utama. Cintailah Tuhan dan sesama manusia seperti dirimu sendiri!

Kedua pater asal Belanda ini sudah lama tiada. Pater-pater SVD pun sudah tidak lagi bertugas di Lembata. Diganti para Reverendus Dominus alias RD alias Romo Diosesan alias romo-romo projo. Tapi hukum cinta kasih selalu akan abadi. Lebih-lebih di era hoax and fake news.

Selamat jalan salib!

Salam tanpa kontak mata

Pagi ini Bapa Paul mengirim ucapan ini lewat medsos. Tiap pagi pukul 5 lebih sedikit. Kadang selamat pagi, selamat hari minggu, selamat ke gereja, dan sejenisnya.

Kadang bapa guru asal NTT yang sudah karatan di Jatim ini bertanya. Sudah pigi gerejakah? Siapa romonya? Khotbah tentang apa? Pertanyaan-pertanyaan yang mirip guru SD di pelosok NTT, kampung asalku, ketika saya masih kecil.

Sesekali saya jawab. Tapi lama-lama saya biarkan. Kok kayak mesin aja. Mirip salamnya cewek-cewek-cewek penjaga toko Indomaret dan sejenisnya.

Bapa guru SMA swasta ini juga sering membagikan cerita-cerita yang dianggap bagus untuk motivasi. Sebagian besar bernuansa kristiani. Ya.. saya baca sebentar. Tidak dibalas karena saya tahu itu hasil nyopas alias terusan pesan dari temannya. Temannya juga dapat cerita itu dari temannya. Dan seterusnya.

Kadang saya ingin memblokir nomor orang ini dan beberapa orang lain yang punya hobi sejenis. Termasuk bapa tua 70an tahun yang biasa jadi narasumber untuk menulis cerita-cerita tentang Surabaya tempo dulu.

Waduh... bapa tua ini sangat sering membagikan video lucu yang rada ngeres. Kok masih suka lihat cewek-cewek (nyaris) telanjang? Maklum, zaman dulu belum ada mainan digital kayak media sosial ini. ''Om ini sudah tua tapi jiwanya masih muda,'' kata kakek yang sering muncul di televisi lokal itu.

Lama-lama memori ponsel yang memang terbatas jadi penuh. Apa boleh buat. Langsung dihapus semua pesan video dan gambar yang makan tempat itu.

Anehnya, bapa-bapa yang doyan share gambar dan video itu sangat sulit diajak kopi darat. Beberapa kali saya coba mampir ke rumahnya tapi selalu tutup. Masih di Surabaya. Masih kerja. Masih sibuk.

Begitulah. Di era online ini kita makin sulit menjadi makhluk offline. Doyan mengucapkan salam tanpa perlu kontak mata.