12 February 2018

Sedih banget... Romo Karl-Edmund Prier Diserang di Gereja


Sedih banget membaca pesan berantai dari umat Katolik lewat WA Minggu pagi (11/2/2018). Isinya tentang penyerangan di Gereja Katolik St Ludwina, Sleman, Jogjakarta. Ada seorang laki-laki 20an tahun ngamuk, maki-maki, dan menghunus pedang panjang.

Patung Bunda Maria dan Yesus Kristus dirusak. Kemudian beberapa jemaat juga terkena sabetan. Bahkan pastor yang sedang memimpin misa pun diserang hingga tak sadarkan diri. Saat itu ekaristi sedang masuk Gloria atau Kemuliaan. Masih awal misa.

Saya begitu tersentak ketika membaca kiriman pesan lain dari Pak Paul, guru SMA Petra asal Flores, yang baru pulang misa di Sidoarjo. Romo yang diserang ternyata Pastor Karl Edmund Prier SJ.

Oh Tuhan... Semoga Romo Prier selamat!

Mata saya pun basah. Padahal beberapa menit lalu barusan ikut joget-jogetan koplo di Alun-Alun Sidoarjo. Perayaan hari jadi ke-159 Kabupaten Sidoarjo. Bupati Saiful Ilah seperti biasa menyanyikan lagu dangdut lawas kesukaannya: Rindu dari Ali Alatas yang ngetop tahun 1970an. Delapan penyanyi cantik mendampingi Abah Ipul bernyanyi.

Begitu cepat kegembiraan berganti kesedihan. Romo Prier SJ disabet pedang panjang nan tajam. Ngeri! Sulit membayangkan suasana misa yang pasti kacau balau. Berantakan oleh aksi teroris tunggal itu.

Romo Prier! Semua orang Katolik di Indonesia, khususnya yang aktif di kor (paduan suara), pasti kenal pater asal Jerman yang sudah puluhan tahun jadi WNI itu. Betapa tidak. Romo Prier yang mendirikan Pusat Musik Liturgi (PML) di Jogja. PML ini paling rajin blusukan ke seluruh Indonesia untuk menemukan musik-musik khas nusantara.

Romo Prier yang dibantu Paul Widyawan, komposer dan dirigen kawakan, kemudian mengolah musik nusantara itu menjadi lagu-lagu liturgi Katolik. Eksperimen musik liturgi ala Indonesia ini dilakukan setelah Konsili Vatikan II (1962-1965). Luar biasa kerja keras Romo Prier bersama PML-PML-nya.

Nah, hasil kerja keras Romo Prier dan PML ini kemudian dibukukan menjadi MADAH BAKTI. Buku nyanyian liturgi paling terkenal di kalangan umat Katolik sejak 1980 sampai akhir 1990an. Sebelum diambil alih buku baru bernama PUJI SYUKUR sampai sekarang.

Setahu saya di Indonesia belum ada komposer, ahli musik, yang begitu total menggali musik seperti Romo Prier. Begitu banyak lagu yang ditulis dan diaransemen. Terlalu banyak untuk disebutkan satu per satu. Romo Prier sangat dominan di bidang musik liturgi di Indonesia.

Romo Prier juga menulis begitu banyak buku musik. Empat jilid tebal Sejarah Musik untuk mahasiswa sekolah tinggi musik merupakan kontribusi beliau untuk dunia pendidikan musik di Indonesia. Belum lagi buku-buku tentang ilmu harmoni, kontrapung, hingga teknik menjadi dirigen dan membina paduan suara.

Sebelum ada Google dan internet, saya begitu terpukau dengan empat jilid buku Menjadi Dirigen karya Romo Prier SJ. Khususnya buku merah (jilid satu) dan jilid dua (teknik membentuk suara). Boleh dikata hampir semua pelatih dan dirigen paduan suara mahasiswa di Indonesia (apa pun agamanya) menggunakan buku-buku karya Karl-Edmund Prier SJ.

Teman-teman paduan suara mahasiswa juga sangat terbantu dengan ketekunan Romo Prier dan Paul Widyawan membuat aransemen puluhan (mungkin ratusan) lagu daerah dalam format paduan suara sopran alto tenor bas (SATB). Maka kalau ada lomba atau festival paduan suara pelajar atau mahasiswa, hampir pasti ada lagu-lagu yang diaransemen Romo Prier.

Masih banyak lagi karya-karya pater berusia 80an tahun ini untuk Gereja Katolik dan bangsa Indonesia umumnya. Beliau sangat antusias dan mau membantu siapa saja di bidang musik. Termasuk masuk ke pelosok terpencil untuk membenahi paduan suara setingkat stasi, kring, atau lingkungan.

Karena itu, saya kaget dan tak habis pikir mengapa romo yang jasa-jasanya begitu besar itu justru jadi sasaran penyerangan? Mengapa Tuhan membiarkan hamba-Nya diserang? Justru saat sedang memimpin ekaristi? Mengapa? Mengapa?

Saya pun teringat Paus Yohanes Paulus II (sekarang santo) yang ditembak Mehmet Ali Agca pada 1983. Paus asal Polandia itu harus menjalani perawatan serius. Kira-kira mirip dengan yang dialami Romo Prier sekarang. Paus JP2 kita tahu kemudian mengampuni dan mendoakan Mehmet yang telah menembaknya.

Tuhan, ampunilah dia karena dia tidak tahu apa yang dia perbuat!

Di tengah perjalanan dari Sidoarjo ke Surabaya, saya akhirnya menyimpulkan bahwa Suliyono yang menyerang Romo Prier dan jemaat gereja di Sleman itu pasti tidak suka musik. Pasti tidak suka paduan suara. Pasti tidak suka kesenian.

Juga pasti tidak punya hormat terhadap sesama manusia yang sama-sama ciptaan Tuhan.

16 comments:

  1. Ada2 saja, masakah manusia yang otaknya kopyor karena jidatnya sering terbentur jubin tidak suka musik dan tidak suka kesenian. Padahal musik Indonesia yang merdu dan sendu sangat enak didengarkan. Tiap hari sejak tahun 1980-an saya selalu mendengarkan lagu Benci Tapi Rindu dan Daun Daun Kering, sampai anak2 geleng2 kepala, dalam hati mereka menduga papa-nya sudah edan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Daun daun kering itu lagu contekan. Aslinya oleh penyanyi / pengarang lagu Taiwan yg berjuluk Sanmao (tiga rambut), judulnya Liu lang (berkelana), cari aja di YouTube.

      Delete
    2. Maaf, judul yg benar ialah Ganlanshu (Olive Tree), walaupun isinya tentang kelana.

      Delete
  2. Benci tapi rindu + daun2 kering ciptaan rinto harahap itu dulu bikin mabok orang NTT. lagu melankokis mendayu-dayu.. dinikmati sambil bersenandung merem melek.. romantis: rokok mangan gratis.

    Ada juga daun kering hasil copas pop mandarin. Rakyat NKRI rupanya sejak dulu sudah jago jiplak lagu dan apa aja yg bisa dijiplak. Ndak ada hak cipta memang di NKRI. Di jaman youtube lebih gila lagi. Artis spesial jiplak dan cover lagu malah dielu2kan dan jadi miliarder baru. Lagu apa aja dicover dan ditayang di youtube + dibawakan di konser2 tanpa permisi ke pemilik lagu atau pemegang hak cipta. Ugal-ugalan memang.

    Sayang... opo kowe krungu jerite atiku... jjhiahahancuuk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh iya, maaf. Terima kasih sudah diluruskan.

      Kalau Rinto Harahap tidak perlu menyontek, krn semua lagunya 3 jurus: C, F, dan G. Atau G, C, dan D.

      Delete
    2. hehe betul.. rinto pance obbie dkk memang spesialis lagu pop 3 jurus. koes plus dsb juga gak beda jauh. tapi mereka mampu bikin lagu sederhana yg enak dan disukai masyarakat. itu semua hasil olah cipta sendiri yg bukan jiplakan. itu yg saya hormati dari para penulis lagu lawas rinto harahap dkk.

      beda dengan seniman2 copas yg kelihatannya hebat tapi hasil nyopas karya barat atau mandarin atau jepang. begitu tau lagu sayang yg hit banget dari via vallen itu jiplakan dari jepang, saya langsung kehilangan respek total sama via dan komposernya. padahal saya ikut mengangkat nama via vallen yg semula penyanyi dangdut anyar dari sidoarjo... dan sekarang jadi penyanyi nomer 1 di indonesia.

      dari diskusi dengan Yockie Suryo Prayogo alm, seniman2 musik juga wajib mengikuti norma2 sosial dan hukum yg berlaku di NKRI. Hak cipta, menchanical right, performing right etc wajib dihormati.

      Delete
  3. Tahun 75 murry drummer koes plus ngomong di majalah musik aktuil. sangat menarik dan relevan menurut saya sampai sekarang.

    Murry Koes Plus: Buat saya ya lagu yang manis ke telinga pendengar itulah lagu yang bermutu. Anak Band sekarang ini, banyak bilang bahwa accord yang mencang mencong itu menunjukkan lagunya bermutu. Dia tidak berpikir, bagaimana andainya vocal dia tidak bisa dibawa mencang mencong.

    Saya ambil contoh pada Beatles. Lihat saja pada lagu Girls itu.Mana banyak lari accord-nya. Beatles sebenarnya sederhana tapi harmonis musiknya gini (unjuk jempol jari).Saya seneng banget dengan lagu Beatles, apa lagi tatanan vokalnya. Sekali lagi lagu, bukan mencang mencongnya accord. Biar punya sejuta accord, tapi kalau tidak enak dikuping; saya anggap lagu tadi tidak ada mutunya.''

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahhh anda membawa contoh Beatles. Itu band terbesar sepanjang sejarah. Pd permulaan memang dia lirik lagu2nya dan chordnya sederhana, maklum masih remaja dan belajar mencipta lagu. Jadi kita dapat I want to hold your hand, with love from me to you, all my loving, begitu.

      Ttp mereka punya manajer dan mentor yg hebat, Sir George Martin, yg selalu berusaha memasukkan unsur2 baru. Misalnya PS I Love You, di akhirnya yang “...you you you.. , I love you...” itu merupakan lagu rock pertama yg menggunakan dua flat chords berturut-turut. Setelah itu barulah ditiru oleh band2 yg lain, hingga sekarang.

      Dalam lagu Dear Prudence, John Lennon menggunakan Travis Style finger picking (belajar dr Donovan) mengikuti tren lagu folk. Seperti lagunya Sempurna (Andra and the Backbone) dan Dust in the Wind (Kansas),

      Dalam lagu Penny Lane mereka masukkan solo trompet klasik.

      Waktu hard rock mulai bermunculan mereka pun ga kalah keluarkan lagu2 menghentak macam Get Back, Come Together, Dont Let Me Down yg jauh dr kesan manis.

      Something yg digubah oleh George Harrison pun mengandung chord2 yg “melenceng”, ttp membuat lagu menjadi manis. Dalam Norwegian Wood, mrk bereksperimen dgn sitar.

      Jd, itulah jeniusnya Beatles, setelah mulai terkenal mereka tetap belajar dan bereksperimen, dan itulah bedanya Koes Plus dengan Beatles. Shg yg satu mati ditelan jaman, yg lain anggota2nya masih survive tetap berkarya dan lagu2nya tak lelang oleh waktu.

      Delete
    2. Iki ilmu yg joss tenan. Beatles pancen hebat. Koes Plus juga hebat untuk ukuran NKRI lah. Lagu2nya yg gak mencang mencong itu juga tetap disukai rakyat nusantara.

      Gara2 daun kering, kita lupa membahas pater prier yg dibacok di jogja.
      Slamet dengerin musik!

      Delete
    3. Tahun 1963 ketika saya sekolah di SMA St. Louis Surabaya, anak2 ngeband dalam acara perayaan Natal. Mula2 mereka memainkan lagu2 seperti Band Varia Nada atau Panca Nada, Band yang paling Top di Surabaya zaman itu. Mendadak teman2 pada teriak2 hysteris. Aku jadi bingung tak mengerti, lalu bertanya kepada teman sebelah-ku, opo-o arek2 koq jerat jerit koyo wong edan ?
      Temanku memandang dengan mata terbelalak, dan berkata; kon iku pancene kampungan tenan, mosok kon gak wero mereka sedang memainkan lagu2-nya The Beatles ! Gua tahu darimana, nama The Beatles juga baru kali ini mendengar dari lu. Aku tole Blambangan kenalnya cuma Rachmat Kartolo karo Dara Puspita.
      Tak lama setelah itu musik ngak-ngik-ngok dilarang oleh Bung Karno.

      Delete
    4. Haiya bapa tenglang... terima kasih bapa sudah cerita pengalaman masa lalu yg bagus. Kebetulan pemusik2 lawas macam Pantja Nada itu ada yg pernah kita wawancarai... lebih tepat ngopi bareng. Pimpinannya bapa enteng tanamal yg punya pengaruh besar di dunia rekaman kaset atau plat di NKRI. Lagu2 lawas itu boleh juga. Sederhana dan enak...cocok dengen jaman lawas yg belum neka neko.

      Oh ya... saya juga masih sering mampir ke rumahnya tante susy nander drummer dara puspita di gedangan sidoarjo. Sudah tua tapi rajin senam dan pigi gereja melayani Tuhan katanya.

      Beatles memang dilarang keras sama Bung Karno karena dianggap musik ngak ngik ngok.. tidak sesuai dengen kita punya kepribadian. Aha.. namanya juga masa perang dingin kapitalis vs komunis bukan? Makanya kalo tidak salah orang2 Indonesia jaman dulu nguping Beatles sembunyi2..

      Setelah orde barunya bapa harto menang, tentunya band2 pada meniru gaya beatles dan band2 barat yg tadinya dianggap ngak ngik ngok. Namanya juga roda pedati selalu berputar jarene seniman keroncong alm Gesang.

      Delete
    5. Lambertus yg budiman, kalau ingin tahu lebih dalam tentang music the Beatles, google Allan Pollack. Iki profesor musik sodok gendeng yang menganalisa setiap lagu Beatles scr mendetail, secara ilmu musik!

      Kalau kita mau jujur, musisi "rock" Indonesia paling kreatif itu bukan Koes Plus atau God Bless, tetapi Rhoma Irama. Walaupun gelarnya Raja Dangdut, dia memasukkan elemen2 rock di dalam musiknya. Lagu2 God Bless, Koes Plus itu biasa2 saja untuk kita2 yang terbiasa mendengar musik barat yang begitu ragam. Kalau lagu2 Rhoma Irama, baru terasa jreng, lain drpd yang lain. Aransemen Penasaran, Begadang, Begadang di Warung Kopi, itu sejajar dengan lagu2 rock internasional.

      Kalau jaman sekarang, yang paling kreatif itu si Ahmad Dhani. Dia eksperimen dengan segala instrumen, beat, dan genre. Sayang dia banyak distraksi masalah pribadi dan politik.

      Scr politik saya tidak sehaluan dengan mereka, tetapi kalau soal musik, dari Indonesia yang lain drpd yang lain ya mereka itu.

      Delete
    6. Maaf, tambah informasi lagi tentang Sir George Martin dan The Beatles.

      John Lennon menyimpulkan hubungan kerja band mereka dengan George Martin sbb: “George tidak pernah bekerja dengan rock and roll sebelum dia bertemu kami, dan kami belum pernah rekaman di studio, jadi kami banyak belajar bersama. George punya pengetahuan dan latar belakang musik yang luas sekali, sehingga dia bisa menerjemahkan bagi kami dan memberikan banyak saran.

      Inilah sumbangan-sumbangan Tuan Martin yang paling terkenal: chord pembuka Hard Day’s night; piano solo ala Baroque dalam In My Life; kwartet dawai / biola yang agung dalam Yesterday; oktet yg bersahut-sahutan dalam Eleanor Rigby; keahlian teknis yg bagaikan sulapan dalam Strawberry Fields Forever, dan penutup sisi ke-2 Abbey Road.

      https://www.economist.com/blogs/prospero/2016/03/music-history

      Delete
    7. Joss tenan.. Mr Pollack. Saya barusan baca beberapa kajianny tentang lagu2 beatles. Seperti mimpi aja. Gak pernah saya bayangkan ada musikolog yg begitu tekun membedah lagu2 pop sampai detail dan sedalam itu.

      Ah.. jadi ingat istilah lama mesu budi. Asketisme intelektual. Prof Pollack seorang asketis yang larut dalam ilmu pengetahuan. Seperti ibadah aja. Orang2 seperti itu sangat sangat langka di dunia... tapi sumbangannya untuk peradaban sangat sangat sangat dahsyat.

      Suwun...sudah dikasih tau referensi tentang Beatles. Benar kata2 pater2 belanda jaman biyen: semakin kita membaca, semakin kita belajar, semakin kita merasa tidak ada apa2nya.

      Selamat makan roti dan keju cak!

      Delete
  4. Maaf kita jd ngobrol tentang musik pop dan rock, bukannya musik gerejawi. Rm Prier ini seperti Beatles dan Rhoma Irama, yang kreatif bereksperimen dan memasukkan unsur-unsur lokal di dalam lagu-lagu gubahannya. Semoga beliau berumur panjang dan tetap berkarya.

    ReplyDelete
  5. Pater Prier SJ ini pakar musik liturgi asal Jerman kaliber dunia. Dulu saya terpukau dengan permainan organ karya Bach yg luar biasa di kaset. Belum ada CD... apalagi youtube. Komposisi musik liturgi yg ditulis beliau juga khas komposer yg punya jurus silat komplet. Termasuk nada2 mencong yg sangat kaya.

    Pater Prier selalu memberi keterangan di halaman terakhir buku2 partitur paduan suara gereja terbitan PML Jogja dalam 6 level sesuai tingkat kesulitan sebuah komposisi. Dari pengamatan saya, lagu2 liturgi yg biasa dinyanyikan kor2 di NKRI jarang yg masuk level 4. Yang level 3 juga tidak banyak. Biasanya level 3 hanya dipakai saat lomba tingkat paroki atau keuskupan. Level 4 biasanya untuk lomba2 paduan suara mahasiswa atau antarpelajar SMA tingkat nasional misalnya di ITB.

    Dari sini bisa disimpulkan bahwa orang Indonesia itu cenderung kesulitan membawakan atau menikmati lagu2 yg akornya banyak atau mencang mencong. Lagu2 sederhana yg tiga empat jurus itu yang populer.

    ReplyDelete