26 February 2018

Romo Karl-Edmund Prier SJ Memaafkan Teroris



Oleh Romo Karl-Edmund Prier SJ

Teman-teman yang baik.

Hampir dua minggu sudah lewat sejak saya hampir menjadi arwah. Namun nampaknya ada malaikat pelindung yang ikut campur tangan.

Betul, saya sebenarnya bisa lari keluar gereja seperti kebanyakan orang yang mengikuti misa tanggal 11 Februari 2018 di Gereja Stasi St. Lidwina Bedog. Namun suara hati saya berkata: Jangan pergi. "Gembala yang baik tidak boleh lari bila serigala datang" (hm).

Saya tetap berdiri di altar untuk membelokkan perhatian si pelaku dari umat kepada saya. Sesudah memukul domba, "serigala" memang datang untuk memukul gembala. Melalui gang tengah gereja dengan *pedang panjang yang diangkat tinggi* dia *berteriak "Allahu akbar"*. Namun di muka altar ia berhenti sebentar, seakan-akan masih berpikir kok orang ini tidak takut? Bagaimana saya bisa membuat dia takut?

Pada saat itu saya merasa seperti Daud yang menghadap Goliat (hm). Anehnya tanpa takut sama sekali. Kemudian si Goliat datang ke belakang altar dimana saya berdiri, dua kali aku dipukul di punggung, pukulan ketiga di kepala.

Saya hanya berputar ke kanan, tetap berdiri di situ, tidak jatuh. Banyak darah mengalir dari kepala saya, maka saya pergi tanpa diikuti oleh dia.

Ketua Stasi Bedog mendekati saya dan berkata: kita pergi ke rumah sakit.

Sesudah itu si Goliat memenggal kepala patung Bunda Maria dan Hati Kudus Yesus, merusak mimbar dll. Beberapa orang dari umat berusaha untuk melawan dia dengan tongkat, dengan melempar kursi dll. namun tidak berhasil juga.

Polisi yang segera tiba juga dilawan dan dilukai dengan pedang, sampai akhirnya suatu peluru dalam kaki menghentikan aksi babi buta itu.

Di UGD Panti Rapih saya dan tiga bapak lain yang berluka berat segera berbalut dan di-scan kepala. Dr. Wiryawan, ahli bedah berkata pada saya: ini harus dioperasi; tetapi untung selaput otak dan otak sendiri masih utuh.

Operasi langsung terjadi juga tanpa kesulitan. Sebagai oleh-oleh / relikui saya mendapat pecahan tengkorak yang diambil dokter dari dalam kepala saya.

Ada tiga hal menarik yang terjadi sesudah itu:

Pertama, kunjungan Sri Sultan hari Minggu tgl 11 Februari di ICU Panti Rapih. "Saya minta maaf pada Romo."

Baru kemarin saya diberi tahu oleh teman saya serumah, Romo Nugroho SJ, bahwa kalimat ini tidak pernah terdengar sebelumnya dari mulut Sang Raja Yogya.

Kedua, Senin 12 Februari di Bedog, umat Katolik mulai membersihkan gereja; namun anehnya segera didampingi oleh umat Islam sebagai tanda solidaritas. Bersama-sama gereja dicat baru hingga sekarang nampak lebih segar.

Bahkan seorang haji pada hari Senin langsung menyumbangkan patung Bunda Maria dan Hati Kudus Yesus baru. Seorang lain lagi menyumbangkan CCTV / alat alarm yang juga langsung dipasang di gereja.

Semuanya ini terjadi tanpa panitia dan rencana RAB dsb.  Hebat. Suatu tanda kuat, bahwa masyarakat Yogyakarta berusaha keras untuk memperbaiki image sebagai kota nyaman yang akhir-akhir ini agak luntur.

Ketiga, Senin 19 Februari di Gereja Bedog dirayakan ibadat syukur: Gereja diberkati kembali oleh Bapak Uskup Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko. Para kurban pun hadir, masih dengan balut-balut, namun dengan rasa syukur di hati.

Yang hadir bukan saja umat Bedog, tetapi dari seluruh kota Yogyakarta, katanya 1400 orang. Tentu kompleks gereja dijaga ketat juga oleh polisi. Dalam homili saya dipersilakan untuk sharing. Saya tegaskan dua hal: Pertama, "Jangan takut! Kita mengalami bantuan luar biasa pada saat dimana diperlukan".

Kedua, "Saya maafkan Sulyono dengan ikhlas. Karena saya juga tiap hari berdoa dalam Bapa Kami …seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami."

Sekarang saya menikmati masa pemulihan. Rasanya tidak sakit tetapi masih lemas, karena Hb (darah) masih rendah. Balutnya sudah dilepas, tinggal menunggu rambutnya tumbuh kembali.

Terima kasih atas segala doa dan perhatian yang sangat saya hargai. Maaf bahwa komunikasi sejak 11 Februari agak macet. Melalui surat umum ini saya ingin membalas segala email, SMS, WA yang saya terima dari Anda.

Salam dalam Kristus
Karl-Edmund Prier SJ

7 comments:

  1. Mas tenankah E-Mail ku iki Riko balas ?
    Melihat dan menyimak khotbah2 para achli agama Indonesia di Youtube, yang isinya kebencian, hujatan, hinaan, hasutan terhadap orang2 yang beragama beda, merinding bulu kuduk-ku.
    Saya jadi teringat tayangan TV tentang Vietnam.
    Di Vietnam ada agama yang namanya Caodaisme.
    Caodaisme adalah synkretisme, Synthese, assimilasi dari seluruh agama-agama yang ada diatas bumi. Semua ajaran agama yang baik2 diambil intisarinya, diolah dan dicampur menjadi satu.
    Caodaisme adalah Synkretismus, Amalgam dari ajaran Yahudi, Katholik, Kristen Protestan, Islam, Buddha, Taoisme, Konghuchu, Hindu, Shinto, dan kepercayaan lokal.
    Inti dari ajarannya adalah, Karma, Inkarnasi, Vegetarisme, Anti Miras, Anti-Egoisme, Altruisme,
    Toleran, Kasih Sayang kepada sesama manusia, Kerendahan Hati, Kesederhanaan, Anti-Ketamakan, dll., emboh pokoke kabeh sing apik2.
    Supaya semboyan Bhineka Tunggal Ika bukannyalah omong kosong belaka, adakah bijaknya kita meniru
    keturunan empek Ho Chi-min.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haiya... opolosan ajaran macem2 agama adalah hil yang mustahal di NKRI. Kenapa? Sekarang ini orang2 NKRI lagi gandrung ke ajaran yg dianggap asli + murni + otentik. Apa2 yg sudah bercampur budaya lokal dianggap sesat. Makanya orang Indonesia sangat doyan ribut2 di media sosial dsb.
      Usulan jenengan ini kelihatannya bagus dan baek banget tapi bisa dianggap berbahaya. Panjenengan bisa berurusan dengan ormas2 dan polisi.

      Delete
    2. Wkwkwkwkwk ... bahkan teman saya yg fanatik Katolik pun giat mempromosikan misa berbahasa latin seperti sebelum Konsili Vatikan ke-2. Padahal Bahasa Latin gak iso, hanya tahu kulitnya. Krn lebih asyik, lebih khusyuk, katanya. Lain daripada yang lain.

      Delete
  2. Aha.. kata RIKO ini sudah lama isun tidak denger di warkop2 surabaya sidoarjo. Tapi belakangan mulai rame lagi karena ada satu lagu dangdut banyuwangian yg sangat populer. Isinya tentang selingkuh utowo main serong sana sini. Isun weroh dewe...

    Jarene pater2 iku Riko kudu cinta sesama manusia seperti dirimu sendiri. Mungkin itu yg membuat pater jesuit ini tenang2 aja meski diserang teroris babi buta.

    ReplyDelete
  3. Mas, isun gregeten meneh, setelah melihat dan menyimak sebuah khotbah dari seorang Kyai Haji di Youtube. Dia mengatakan, bahwa Nusantara ( tempat kita dilahirkan ) adalah daerah barbar, kacau balau, sebelum kedatangan orang2 Arab yang membawa ajaran Islam kesini. Alasan dia di Nusantara sebelum Islam datang, TIDAK ADA KATA ADIL.
    Logika dia: tak ada kata Adil, maka tidak ada Keadilan. Di seluruh dunia, kecuali di pulau Jawa, tidak mengenal kata KEROYOK, apakah ditempat lain tidak ada PENGEROYOKAN ? Di Tiongkok juga tidak ada kata Adil, apakah orang Cina disana tidak memiliki rasa keadilan ?
    Dia malahan sok akademik memakai istilah Linguistik. Anehnya para hadirin tidak ada yang berani protes terhadap seorang yang menyandang gelar KH. Saya waktu bayi dimomong oleh seorang pengasuh dari Jawa, seorang yang buta huruf, tetapi selalu menasehati saya ; ojo ngono, ora ilok ! Saya tidak meneruskan menonton ceramahnya
    si KH., sebab isinya toh kebencian, hasutan belaka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haiya.. jarene wong tenglang iki kan kayak jualan barang2 di toko kelontong. Yang namanya pedagang mesti wae bilang dia punya barang paleng baik kwaliteit nomer siji.. sementara barang2nya pedagang laen dia bilang kwaliteit nomer pitu likur utowo rombengan aja hiahaha

      Delete
  4. Hehe... njih tuan guru. Kalo nonton ceramah2 di youtube ya sebagian besar isinya kayak gitu. Orang2 berlomba jadi nomer satoe... jadi yg terbaik. Orang lain itu jelek. Dan konten macam itu yg laku.

    ReplyDelete