06 February 2018

JSOP resah melihat industri musik

Yockie Suryo Prayogo itu bukan sekadar pemusik. Itu yang diucapkan Fariz RM di rumah duka almarhum JSOP (sapaan akrab Yockie, arsitek musik pop kawakan) kemarin.

Fariz yang juga komposer hebat tentu tidak asal bicara. Di usia remaja dia diajak JSOP untuk membuat sejumlah proyek musik era 70an dan 80an yang fenomenal. Di antaranya Badai Pasti Berlalu serta Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR).

Proyek-proyek musik JSOP kemudian mewarnai jagat musik pop Indonesia hingga sekarang. Termasuk Godbless dengan Semut Hitam, Menjilat Matahari, Maret 1989, Badut-Badut Jakarta. Sentuhan khas JSOP juga sangat terasa di Kantata Takwa, Swami, dan beberapa band idealis lainnya. Jangan lupa Biar Semua Hilang ciptaan JSOP (dipopulerkan Nicky Astria) - lagu wajib lomba vocal group saat saya sekolah dan kuliah dulu.

Sebagai seniman, pemikir, dan budayawan, JSOP ibarat mahaguru yang tak ingin bangsa ini terjebak dalam lumpur kebanalan yang hampa. Tak ingin seniman-seniman musik khususnya didikte oleh cukong-cukong yang hanya memburu profit. Musik pop Indonesia harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Setelah membaca kabar kematian JSOP, kemarin saya membaca kembali puluhan tulisan JSOP di internet. Almarhum memang rajin mempublikasikan pikiran-pikirannya sejak kemunculan blog pada awal 2000-an. Di situ kita bisa melihat betapa seorang JSOP sangat konsisten dengan idealisme berkesenian dan berkebudayaan yang diyakininya.

Ketika hendak mengadakan konser LCLR + pada Januari 2016, JSOP membuat catatan menarik. Tentang industri musik yang dia nilai sudah tidak sehat lagi. Yang membuat musik pop kita tidak lagi variatif, tidak punya roh dsb dsb.

Berikut kutipan tulisan JSOP:

"Perjuangan musik [pop] semenjak tahun 2000an adalah melepaskan ketergantungan nasib industri panggung musik hiburan dari subsidi sponsorship, dimana wilayah otoritas para pemodal sudah jauh melewati batas2 kewajaran dalam mempengaruhi perkembangan iklim dunia musik itu sendiri. Hilangnya keberagaman produk karena tidak adanya bargaining position diantara pemodal dengan produsen2nya membuat kondisi2 transaksional keduanya bukan hal yang mudah seperti membalikkan kedua telapak tangan, agar seniman2 musik jenis lainnya bisa menyelenggarakan kegiatan2 konser musik seperti termaksud di atas.

"Dunia musik pop adalah dunia kegiatan berekspresi yang berada diranah kegiatan ekonomi. Oleh karenanya harus dipahami sebagai kegiatan dari sebuah profesi yang berperilaku profesional. Profesi pemusik wajib berkesadaran untuk mengelola pasar ekonominya sendiri. Melahirkan produk2 berkualitas yang dibutuhkan oleh masyarakat konsumennya dengan sendirinya akan menciptakan 'posisi tawar' yang setara dengan kepentingan pemodal. Pasar itu tidak datang dengan sendirinya. Pasar itu dibentuk oleh sistim rekayasa. Labelisasi2 yang menyesatkan pikiran harus dibenahi dan dikendalikan.

"Salah satu cara berkesadaran membentuk dan merawat pasar ekonomi musik adalah dengan menciptakan dialektika yang 'riil' antara pemusik dengan masyarakatnya sendiri melalui produk2 musikalnya. Tidak ada manfaatnya pemusik bernilai jual tinggi karena disubsidi oleh sponsorship apabila pada kenyataannya dia asing dihadapan masyarakat dilingkungannya sendiri. Seorang artis yang profesional mengenal dengan baik kebutuhan konsumen2nya lalu menentukan nilai yang equivalent dengan apa yang memang pantas diperolehnya.

"Saya wajib merawat apa yang mulai bisa saya kerjakan lagi hingga hari ini... berkegiatan konser musik/lagu saya sendiri. Upah atau pendapatan tinggi bukanlah tujuan dari konser2 musik sepanjang hidup saya selama ini. Namun harapan agar saya bisa mewakili kebutuhan konsumsi musik bagi masyarakat saya sendiri adalah jauh lebih penting dan diatas segalanya. Konser berbiaya mahal yang tak terjangkau daya beli masyarakat adalah ancaman yang menjadi tantangan untuk harus kita taklukkan bersama2.

"Artis musik yang hidupnya bisa sejahtera atau kaya sendirian itu sama saja dengan bunuh diri secara perlahan2. Kesejahteraan materi itu akibat dari pengabdian seseorang kepada profesi apapun namanya … dan yang memberikan apresiasi bukanlah sekelompok kecil pemodal2 tetapi masyarakat luas yang sudah cerdas secara keseluruhan."

Selamat jalan JSOP!

No comments:

Post a Comment