26 February 2018

Imlek Pertama tanpa Ibu Juliani

Tahun baru Imlek 2018 ini agak lain dari biasanya. Tidak ada lagi Ibu Juliani Pudjiastuti. Pimpinan Kelenteng Hong San Ko Tee Surabaya itu sudah dipanggil Tuhan beberapa bulan lalu. Padahal ibu inilah yang selalu mengundang saya untuk ikut merasakan kebahagian saat pergantian tahun.

Bukan hanya saya yang kehilangan Bu Juliani. Teman-teman wartawan lain pun tak lagi punya narasumber utama tentang tradisi dan adat istiadat Tionghoa di Surabaya. Memang ada banyak kelenteng di Surabaya. Tapi pengurusnya tidak seramah dan sedekat Bu Juliani.

Berbeda dengan pengurus kelenteng-kelenteng lain yang memperlakukan wartawan hanya sebagai tukang cari berita, motret, wawancara, mendiang Bu Juliani menganggap para reporter sebagai tamu terhormat. Setara dengan tamu-tamu VIP macam pejabat atau bos-bos pabrik. Bu Juliani juga memperlakukan wartawan layaknya teman atau keluarga sendiri.

"Makan dulu... ada nasi goreng, mi, rawon, soto, buah. Wawancara nanti aja... gampang itu," ujar Bu Juliani dengan senyum yang khas. "Kalau kalian nggak makan, aku gak mau diwawancarai," tambahnya disambut tawa renyah para reporter koran, televisi, dan media online.

Maka, jangan terkejut kalau berita-berita tentang masyarakat Tionghoa di Surabaya, khususnya suasana Imlek, paling banyak dari Bu Juliani. Kelenteng Cokro, karena lokasinya di Jalan Cokroaminoto 12, menjadi paling terkenal di Surabaya. Padahal usianya kalah tua dibandingkan dengan kelenteng di Jalan Dukuh, Cokelat, atau Kapasan.

Kenangan manis dengan mendiang Bu Juliani itu yang terbayang saat malam Imlek jelang tahun anjing kemarin. Suasana masih ramai. Umat banyak. Tidak beda jauh dengan ketika masih ada Bu Juliani. Makanan yang disediakan pun berlimpah.

Pun banyak orang yang bukan Tionghoa terlihat duduk di kursi bawah tenda. Ada juga mobil milik Metro TV yang melakukan siaran langsung Sincia di Kelenteng Cokro.

Syukurlah, Bu Juliani rupanya sudah menyiapkan anak-anaknya untuk mengelola Kelenteng Cokro jauh sebelum berpulang. Ini penting karena banyak kelenteng di Jatim yang kacau setelah ketuanya meninggal dan anak-anaknya tidak mau meneruskan. Biasanya karena agamanya berbeda. Dipegang yayasan pun belum tentu bagus karena banyak kepala dan kepentingan.

Saya lihat Erwina Tedjaseputra, putri Bu Juliani yang sama-sama berbadan subur, dapat peran utama malam itu. Erwina juga ngobrol banyak dengan saya. Termasuk cerita saat-saat akhir ibunya. "Ini semua sudah kehendak Tuhan," katanya.

Tepat pukul 00.00 diadakan doa bersama. Sekitar 10 menit. Lalu makan bersama nasi goreng, soto dsb diiringi barongsai. Biasanya menu sederhana ala Jatim itu disiapkan sendiri oleh Bu Juliani dan anak buahnya. Saya lupa tanya Erwina siapa gerangan yang masak. Yang pasti... cukup enak. Maklum, lapar!

Selamat tahun anjing!
Gong xi fa cai!

4 comments:

  1. Gong xi fa cai, tepatnya diucapkan kepada ibu-ibu dan bapak-bapak yang baru memulai usaha warung Tegal, rujak cingur, tembel ban, dll., memberi selamat agar harta mereka bertambah.
    Mengharapkan seseorang bertambah kaya, bisa diucapkan kapan saja, setahun 365 hari, bukan hanya pada Sincia.
    Sungguh aneh harapan orang China Zaman Now, yang dipentingkan harta melulu.
    Orang Melayu mengucapkan : Selamat Hari Raya Idhul Fitri, Maafkan Lahir Bathin dan Semoga Selalu Sehat Wa'alfiat ! Mereka tidak ada yang menyinggung tentang harta.
    Saya diajari oleh Mama, kalau berkunjung kerumah orang yang lebih tua pada waktu Sincia sampai Capgomeh harus sojia dan mengucapkan; Sin cun kiong hi, thiam hok thiam siu. Mengucapkan Selamat Sincia, semoga selalu bahagia dan panjang umur. Bahagia terlebih dahulu, barulah panjang umur. Panjang umur thok, yo podo wae didungake menderita atau tersiksa.

    ReplyDelete
  2. Thiam hok thiam siu (tian fu tian shou = 添福添寿 = tambah berkat tambah umur panjang).

    ReplyDelete
  3. Fu dan Shou itu berasal dari 3 dewa / bintang (san xing) yang disebut Fu, Lu, dan Shou. Fu bisa diartikan kebahagiaan, tetapi juga bisa diartikan fortune atau kemakmuran. Krn itu bisa disimpulkan dari sononya Tionghoa itu mata duiten, ga peduli Hongkong atau Hoakiau dari Hokkian, wkwkwkwk. Hanya yang satu eksplisit, yang lain lebih halus.

    Entah mengapa Lu atau Luk (Status atau pangkat) ditinggalkan dalam ucapan Sincia oleh Tionghoa peranakan itu. Mungkin krn dalam jaman Belanda gak ada Cino dadi pejabat atau penguasa, jadi percuma mengucapkan selamat semoga naik pangkat, karena di tingkat 0 pun tak dapat.

    ReplyDelete
  4. Haiya... saya kira ajaran tenglang ini yg sekarang rame2 diamalkan di seluruh dunia. Jaman biyen wong tenglang dianggep mata duitan menyembah dewa wang.. tapi sekarang saya lihat cinta uang sudah jadi gaya hidup buanyaak orang. Termasuk pejabat2 dan politisi...
    Tokoh2 agama, bapa mama pendeta juga khotbah berbusa2 yg ujung2nya duit juga to... saudara2 kalo engkau tabur buanyaak, engkau juga akan panen buanyaak... kalo engkau tidak nanam, engkau bisa panen apa? Haiyahaha

    ReplyDelete