10 February 2018

Diskon Gusur Rabat

Pagi ini saya menemukan kata IMPAK di Kompas edisi 27 Januari 2017. Koran lama yang saya temukan di warkop dekat Bandara Juanda. Rupanya kertas-kertas koran ini mau dijadikan bungkus makanan.

"... memberikan IMPAK besar untuk memerangi korupsi di pemerintahan (Liberia)," tulisan Anton Sanjoyo wartawan senior yang lebih dikenal sebagai komentator sepak bola di televisi. Tulisan itu tentang George Weah, mantan bintang sepak bola yang belum lama ini dilantik jadi presiden Liberia.

Kata IMPAK di sini tentu serapan dari IMPACT yang English itu. Setahu saya, orang Indonesia lebih banyak pakai DAMPAK untuk IMPACT. Sangat jarang yang pakai IMPAK karena sudah ada DAMPAK. Ini sesuai dengan petuah Pusat Bahasa agar kita tidak boleh terlalu mudah menyerap kata asing. Boleh kalau memang belum ada padanannya dengan bahasa Indonesia.

Jika terlalu banyak kata serapan, sementara kata-kata asli sudah ada, bukan tidak mungkin kata-kata lama akan hilang. Ada di kamus tapi tidak dipakai. Kata KARCIS (aslinya dari Belanda) sudah lama hilang. Orang lebih suka pakai TIKET (asli English).

Minggu lalu saya sengaja ngetes seorang nona yang baru lulus dari sebuah universitas negeri di Surabaya. (Kata NONA juga hampir tidak dipakai lagi di Jawa. Orang lebih suka CEWEK.) "RABAT itu apa?" begitu pertanyaan saya dalam konteks jual beli barang dan jasa.

"Maksudnya RAPAT ya? Itu sih meeting atau pertemuan," jawab nona manis.

"Bukan RAPAT tapi RABAT. Pakai P bukan B."

"Saya kok belum pernah dengar kata RABAT."

Aha... kata RABAT memang sudah lama tenggelam di dasar kamus. Khususnya di Jawa. Saya bilang RABAT itu sama artinya dengan DISKON (serapan English juga DISCOUNT). Si nona masih belum ngeh karena tidak pernah mengenal kata RABAT ini.

Di masa lalu, ketika masih ada pengaruh kakek-nenek yang bisa berbahasa Belanda, potongan harga bisa dikenal dengan KORTING. Ada pula istilah REDUKSI yang artinya sama dengan diskon atau rabat.

Kini, seiring makin dahsyatnya pengaruh bahasa Inggris, orang Indonesia kelihatannya lebih suka istilah yang NGINGGRIS. Memaksakan kata-kata serapan baru dari bahasa Inggris meskipun sudah ada sinonimnya dalam bahasa Indonesia.

Karena itu, saya salut dengan mendiang Anton Moeliono yang semasa hidupnya sangat rajin "menemukan" istilah-istilah baru dari khasanah pribumi seperti PETAHANA untuk INCUMBENT. Meskipun beberapa media lebih suka pakai INKUMBEN seperti majalah Tempo.

1 comment:

  1. Saya rasa, untuk membendung dan menanggulangi pemakaian Bahasa Indonesia yang cenderung salah kaprah, dibutuhkan para guru bahasa yang berasal dari bekas Negara Indonesia Timur.
    Saya yang pernah bersekolah sampai lulus SMA di Indonesia, tidak pernah merasakan adanya kekurangan dalam Bahasa Indonesia untuk mencurahkan isi hati, baik secara lisan maupun dengan tulisan. Walaupun sudah lebih dari setengah abad menjadi TKI dinegeri orang, saya tetap mimpi dalam bahasa Indonesia. Coba Anda menulis surat kepada Bapak SBY, mohon kepada beliau, agar sudikah sekiranya beliau, mengurangi pemakaian kalimat2 dengan bahasa gado2.

    ReplyDelete