26 February 2018

Imlek Pertama tanpa Ibu Juliani

Tahun baru Imlek 2018 ini agak lain dari biasanya. Tidak ada lagi Ibu Juliani Pudjiastuti. Pimpinan Kelenteng Hong San Ko Tee Surabaya itu sudah dipanggil Tuhan beberapa bulan lalu. Padahal ibu inilah yang selalu mengundang saya untuk ikut merasakan kebahagian saat pergantian tahun.

Bukan hanya saya yang kehilangan Bu Juliani. Teman-teman wartawan lain pun tak lagi punya narasumber utama tentang tradisi dan adat istiadat Tionghoa di Surabaya. Memang ada banyak kelenteng di Surabaya. Tapi pengurusnya tidak seramah dan sedekat Bu Juliani.

Berbeda dengan pengurus kelenteng-kelenteng lain yang memperlakukan wartawan hanya sebagai tukang cari berita, motret, wawancara, mendiang Bu Juliani menganggap para reporter sebagai tamu terhormat. Setara dengan tamu-tamu VIP macam pejabat atau bos-bos pabrik. Bu Juliani juga memperlakukan wartawan layaknya teman atau keluarga sendiri.

"Makan dulu... ada nasi goreng, mi, rawon, soto, buah. Wawancara nanti aja... gampang itu," ujar Bu Juliani dengan senyum yang khas. "Kalau kalian nggak makan, aku gak mau diwawancarai," tambahnya disambut tawa renyah para reporter koran, televisi, dan media online.

Maka, jangan terkejut kalau berita-berita tentang masyarakat Tionghoa di Surabaya, khususnya suasana Imlek, paling banyak dari Bu Juliani. Kelenteng Cokro, karena lokasinya di Jalan Cokroaminoto 12, menjadi paling terkenal di Surabaya. Padahal usianya kalah tua dibandingkan dengan kelenteng di Jalan Dukuh, Cokelat, atau Kapasan.

Kenangan manis dengan mendiang Bu Juliani itu yang terbayang saat malam Imlek jelang tahun anjing kemarin. Suasana masih ramai. Umat banyak. Tidak beda jauh dengan ketika masih ada Bu Juliani. Makanan yang disediakan pun berlimpah.

Pun banyak orang yang bukan Tionghoa terlihat duduk di kursi bawah tenda. Ada juga mobil milik Metro TV yang melakukan siaran langsung Sincia di Kelenteng Cokro.

Syukurlah, Bu Juliani rupanya sudah menyiapkan anak-anaknya untuk mengelola Kelenteng Cokro jauh sebelum berpulang. Ini penting karena banyak kelenteng di Jatim yang kacau setelah ketuanya meninggal dan anak-anaknya tidak mau meneruskan. Biasanya karena agamanya berbeda. Dipegang yayasan pun belum tentu bagus karena banyak kepala dan kepentingan.

Saya lihat Erwina Tedjaseputra, putri Bu Juliani yang sama-sama berbadan subur, dapat peran utama malam itu. Erwina juga ngobrol banyak dengan saya. Termasuk cerita saat-saat akhir ibunya. "Ini semua sudah kehendak Tuhan," katanya.

Tepat pukul 00.00 diadakan doa bersama. Sekitar 10 menit. Lalu makan bersama nasi goreng, soto dsb diiringi barongsai. Biasanya menu sederhana ala Jatim itu disiapkan sendiri oleh Bu Juliani dan anak buahnya. Saya lupa tanya Erwina siapa gerangan yang masak. Yang pasti... cukup enak. Maklum, lapar!

Selamat tahun anjing!
Gong xi fa cai!

Romo Karl-Edmund Prier SJ Memaafkan Teroris



Oleh Romo Karl-Edmund Prier SJ

Teman-teman yang baik.

Hampir dua minggu sudah lewat sejak saya hampir menjadi arwah. Namun nampaknya ada malaikat pelindung yang ikut campur tangan.

Betul, saya sebenarnya bisa lari keluar gereja seperti kebanyakan orang yang mengikuti misa tanggal 11 Februari 2018 di Gereja Stasi St. Lidwina Bedog. Namun suara hati saya berkata: Jangan pergi. "Gembala yang baik tidak boleh lari bila serigala datang" (hm).

Saya tetap berdiri di altar untuk membelokkan perhatian si pelaku dari umat kepada saya. Sesudah memukul domba, "serigala" memang datang untuk memukul gembala. Melalui gang tengah gereja dengan *pedang panjang yang diangkat tinggi* dia *berteriak "Allahu akbar"*. Namun di muka altar ia berhenti sebentar, seakan-akan masih berpikir kok orang ini tidak takut? Bagaimana saya bisa membuat dia takut?

Pada saat itu saya merasa seperti Daud yang menghadap Goliat (hm). Anehnya tanpa takut sama sekali. Kemudian si Goliat datang ke belakang altar dimana saya berdiri, dua kali aku dipukul di punggung, pukulan ketiga di kepala.

Saya hanya berputar ke kanan, tetap berdiri di situ, tidak jatuh. Banyak darah mengalir dari kepala saya, maka saya pergi tanpa diikuti oleh dia.

Ketua Stasi Bedog mendekati saya dan berkata: kita pergi ke rumah sakit.

Sesudah itu si Goliat memenggal kepala patung Bunda Maria dan Hati Kudus Yesus, merusak mimbar dll. Beberapa orang dari umat berusaha untuk melawan dia dengan tongkat, dengan melempar kursi dll. namun tidak berhasil juga.

Polisi yang segera tiba juga dilawan dan dilukai dengan pedang, sampai akhirnya suatu peluru dalam kaki menghentikan aksi babi buta itu.

Di UGD Panti Rapih saya dan tiga bapak lain yang berluka berat segera berbalut dan di-scan kepala. Dr. Wiryawan, ahli bedah berkata pada saya: ini harus dioperasi; tetapi untung selaput otak dan otak sendiri masih utuh.

Operasi langsung terjadi juga tanpa kesulitan. Sebagai oleh-oleh / relikui saya mendapat pecahan tengkorak yang diambil dokter dari dalam kepala saya.

Ada tiga hal menarik yang terjadi sesudah itu:

Pertama, kunjungan Sri Sultan hari Minggu tgl 11 Februari di ICU Panti Rapih. "Saya minta maaf pada Romo."

Baru kemarin saya diberi tahu oleh teman saya serumah, Romo Nugroho SJ, bahwa kalimat ini tidak pernah terdengar sebelumnya dari mulut Sang Raja Yogya.

Kedua, Senin 12 Februari di Bedog, umat Katolik mulai membersihkan gereja; namun anehnya segera didampingi oleh umat Islam sebagai tanda solidaritas. Bersama-sama gereja dicat baru hingga sekarang nampak lebih segar.

Bahkan seorang haji pada hari Senin langsung menyumbangkan patung Bunda Maria dan Hati Kudus Yesus baru. Seorang lain lagi menyumbangkan CCTV / alat alarm yang juga langsung dipasang di gereja.

Semuanya ini terjadi tanpa panitia dan rencana RAB dsb.  Hebat. Suatu tanda kuat, bahwa masyarakat Yogyakarta berusaha keras untuk memperbaiki image sebagai kota nyaman yang akhir-akhir ini agak luntur.

Ketiga, Senin 19 Februari di Gereja Bedog dirayakan ibadat syukur: Gereja diberkati kembali oleh Bapak Uskup Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko. Para kurban pun hadir, masih dengan balut-balut, namun dengan rasa syukur di hati.

Yang hadir bukan saja umat Bedog, tetapi dari seluruh kota Yogyakarta, katanya 1400 orang. Tentu kompleks gereja dijaga ketat juga oleh polisi. Dalam homili saya dipersilakan untuk sharing. Saya tegaskan dua hal: Pertama, "Jangan takut! Kita mengalami bantuan luar biasa pada saat dimana diperlukan".

Kedua, "Saya maafkan Sulyono dengan ikhlas. Karena saya juga tiap hari berdoa dalam Bapa Kami …seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami."

Sekarang saya menikmati masa pemulihan. Rasanya tidak sakit tetapi masih lemas, karena Hb (darah) masih rendah. Balutnya sudah dilepas, tinggal menunggu rambutnya tumbuh kembali.

Terima kasih atas segala doa dan perhatian yang sangat saya hargai. Maaf bahwa komunikasi sejak 11 Februari agak macet. Melalui surat umum ini saya ingin membalas segala email, SMS, WA yang saya terima dari Anda.

Salam dalam Kristus
Karl-Edmund Prier SJ

12 February 2018

Sedih banget... Romo Karl-Edmund Prier Diserang di Gereja


Sedih banget membaca pesan berantai dari umat Katolik lewat WA Minggu pagi (11/2/2018). Isinya tentang penyerangan di Gereja Katolik St Ludwina, Sleman, Jogjakarta. Ada seorang laki-laki 20an tahun ngamuk, maki-maki, dan menghunus pedang panjang.

Patung Bunda Maria dan Yesus Kristus dirusak. Kemudian beberapa jemaat juga terkena sabetan. Bahkan pastor yang sedang memimpin misa pun diserang hingga tak sadarkan diri. Saat itu ekaristi sedang masuk Gloria atau Kemuliaan. Masih awal misa.

Saya begitu tersentak ketika membaca kiriman pesan lain dari Pak Paul, guru SMA Petra asal Flores, yang baru pulang misa di Sidoarjo. Romo yang diserang ternyata Pastor Karl Edmund Prier SJ.

Oh Tuhan... Semoga Romo Prier selamat!

Mata saya pun basah. Padahal beberapa menit lalu barusan ikut joget-jogetan koplo di Alun-Alun Sidoarjo. Perayaan hari jadi ke-159 Kabupaten Sidoarjo. Bupati Saiful Ilah seperti biasa menyanyikan lagu dangdut lawas kesukaannya: Rindu dari Ali Alatas yang ngetop tahun 1970an. Delapan penyanyi cantik mendampingi Abah Ipul bernyanyi.

Begitu cepat kegembiraan berganti kesedihan. Romo Prier SJ disabet pedang panjang nan tajam. Ngeri! Sulit membayangkan suasana misa yang pasti kacau balau. Berantakan oleh aksi teroris tunggal itu.

Romo Prier! Semua orang Katolik di Indonesia, khususnya yang aktif di kor (paduan suara), pasti kenal pater asal Jerman yang sudah puluhan tahun jadi WNI itu. Betapa tidak. Romo Prier yang mendirikan Pusat Musik Liturgi (PML) di Jogja. PML ini paling rajin blusukan ke seluruh Indonesia untuk menemukan musik-musik khas nusantara.

Romo Prier yang dibantu Paul Widyawan, komposer dan dirigen kawakan, kemudian mengolah musik nusantara itu menjadi lagu-lagu liturgi Katolik. Eksperimen musik liturgi ala Indonesia ini dilakukan setelah Konsili Vatikan II (1962-1965). Luar biasa kerja keras Romo Prier bersama PML-PML-nya.

Nah, hasil kerja keras Romo Prier dan PML ini kemudian dibukukan menjadi MADAH BAKTI. Buku nyanyian liturgi paling terkenal di kalangan umat Katolik sejak 1980 sampai akhir 1990an. Sebelum diambil alih buku baru bernama PUJI SYUKUR sampai sekarang.

Setahu saya di Indonesia belum ada komposer, ahli musik, yang begitu total menggali musik seperti Romo Prier. Begitu banyak lagu yang ditulis dan diaransemen. Terlalu banyak untuk disebutkan satu per satu. Romo Prier sangat dominan di bidang musik liturgi di Indonesia.

Romo Prier juga menulis begitu banyak buku musik. Empat jilid tebal Sejarah Musik untuk mahasiswa sekolah tinggi musik merupakan kontribusi beliau untuk dunia pendidikan musik di Indonesia. Belum lagi buku-buku tentang ilmu harmoni, kontrapung, hingga teknik menjadi dirigen dan membina paduan suara.

Sebelum ada Google dan internet, saya begitu terpukau dengan empat jilid buku Menjadi Dirigen karya Romo Prier SJ. Khususnya buku merah (jilid satu) dan jilid dua (teknik membentuk suara). Boleh dikata hampir semua pelatih dan dirigen paduan suara mahasiswa di Indonesia (apa pun agamanya) menggunakan buku-buku karya Karl-Edmund Prier SJ.

Teman-teman paduan suara mahasiswa juga sangat terbantu dengan ketekunan Romo Prier dan Paul Widyawan membuat aransemen puluhan (mungkin ratusan) lagu daerah dalam format paduan suara sopran alto tenor bas (SATB). Maka kalau ada lomba atau festival paduan suara pelajar atau mahasiswa, hampir pasti ada lagu-lagu yang diaransemen Romo Prier.

Masih banyak lagi karya-karya pater berusia 80an tahun ini untuk Gereja Katolik dan bangsa Indonesia umumnya. Beliau sangat antusias dan mau membantu siapa saja di bidang musik. Termasuk masuk ke pelosok terpencil untuk membenahi paduan suara setingkat stasi, kring, atau lingkungan.

Karena itu, saya kaget dan tak habis pikir mengapa romo yang jasa-jasanya begitu besar itu justru jadi sasaran penyerangan? Mengapa Tuhan membiarkan hamba-Nya diserang? Justru saat sedang memimpin ekaristi? Mengapa? Mengapa?

Saya pun teringat Paus Yohanes Paulus II (sekarang santo) yang ditembak Mehmet Ali Agca pada 1983. Paus asal Polandia itu harus menjalani perawatan serius. Kira-kira mirip dengan yang dialami Romo Prier sekarang. Paus JP2 kita tahu kemudian mengampuni dan mendoakan Mehmet yang telah menembaknya.

Tuhan, ampunilah dia karena dia tidak tahu apa yang dia perbuat!

Di tengah perjalanan dari Sidoarjo ke Surabaya, saya akhirnya menyimpulkan bahwa Suliyono yang menyerang Romo Prier dan jemaat gereja di Sleman itu pasti tidak suka musik. Pasti tidak suka paduan suara. Pasti tidak suka kesenian.

Juga pasti tidak punya hormat terhadap sesama manusia yang sama-sama ciptaan Tuhan.

10 February 2018

Diskon Gusur Rabat

Pagi ini saya menemukan kata IMPAK di Kompas edisi 27 Januari 2017. Koran lama yang saya temukan di warkop dekat Bandara Juanda. Rupanya kertas-kertas koran ini mau dijadikan bungkus makanan.

"... memberikan IMPAK besar untuk memerangi korupsi di pemerintahan (Liberia)," tulisan Anton Sanjoyo wartawan senior yang lebih dikenal sebagai komentator sepak bola di televisi. Tulisan itu tentang George Weah, mantan bintang sepak bola yang belum lama ini dilantik jadi presiden Liberia.

Kata IMPAK di sini tentu serapan dari IMPACT yang English itu. Setahu saya, orang Indonesia lebih banyak pakai DAMPAK untuk IMPACT. Sangat jarang yang pakai IMPAK karena sudah ada DAMPAK. Ini sesuai dengan petuah Pusat Bahasa agar kita tidak boleh terlalu mudah menyerap kata asing. Boleh kalau memang belum ada padanannya dengan bahasa Indonesia.

Jika terlalu banyak kata serapan, sementara kata-kata asli sudah ada, bukan tidak mungkin kata-kata lama akan hilang. Ada di kamus tapi tidak dipakai. Kata KARCIS (aslinya dari Belanda) sudah lama hilang. Orang lebih suka pakai TIKET (asli English).

Minggu lalu saya sengaja ngetes seorang nona yang baru lulus dari sebuah universitas negeri di Surabaya. (Kata NONA juga hampir tidak dipakai lagi di Jawa. Orang lebih suka CEWEK.) "RABAT itu apa?" begitu pertanyaan saya dalam konteks jual beli barang dan jasa.

"Maksudnya RAPAT ya? Itu sih meeting atau pertemuan," jawab nona manis.

"Bukan RAPAT tapi RABAT. Pakai P bukan B."

"Saya kok belum pernah dengar kata RABAT."

Aha... kata RABAT memang sudah lama tenggelam di dasar kamus. Khususnya di Jawa. Saya bilang RABAT itu sama artinya dengan DISKON (serapan English juga DISCOUNT). Si nona masih belum ngeh karena tidak pernah mengenal kata RABAT ini.

Di masa lalu, ketika masih ada pengaruh kakek-nenek yang bisa berbahasa Belanda, potongan harga bisa dikenal dengan KORTING. Ada pula istilah REDUKSI yang artinya sama dengan diskon atau rabat.

Kini, seiring makin dahsyatnya pengaruh bahasa Inggris, orang Indonesia kelihatannya lebih suka istilah yang NGINGGRIS. Memaksakan kata-kata serapan baru dari bahasa Inggris meskipun sudah ada sinonimnya dalam bahasa Indonesia.

Karena itu, saya salut dengan mendiang Anton Moeliono yang semasa hidupnya sangat rajin "menemukan" istilah-istilah baru dari khasanah pribumi seperti PETAHANA untuk INCUMBENT. Meskipun beberapa media lebih suka pakai INKUMBEN seperti majalah Tempo.

06 February 2018

JSOP resah melihat industri musik

Yockie Suryo Prayogo itu bukan sekadar pemusik. Itu yang diucapkan Fariz RM di rumah duka almarhum JSOP (sapaan akrab Yockie, arsitek musik pop kawakan) kemarin.

Fariz yang juga komposer hebat tentu tidak asal bicara. Di usia remaja dia diajak JSOP untuk membuat sejumlah proyek musik era 70an dan 80an yang fenomenal. Di antaranya Badai Pasti Berlalu serta Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR).

Proyek-proyek musik JSOP kemudian mewarnai jagat musik pop Indonesia hingga sekarang. Termasuk Godbless dengan Semut Hitam, Menjilat Matahari, Maret 1989, Badut-Badut Jakarta. Sentuhan khas JSOP juga sangat terasa di Kantata Takwa, Swami, dan beberapa band idealis lainnya. Jangan lupa Biar Semua Hilang ciptaan JSOP (dipopulerkan Nicky Astria) - lagu wajib lomba vocal group saat saya sekolah dan kuliah dulu.

Sebagai seniman, pemikir, dan budayawan, JSOP ibarat mahaguru yang tak ingin bangsa ini terjebak dalam lumpur kebanalan yang hampa. Tak ingin seniman-seniman musik khususnya didikte oleh cukong-cukong yang hanya memburu profit. Musik pop Indonesia harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Setelah membaca kabar kematian JSOP, kemarin saya membaca kembali puluhan tulisan JSOP di internet. Almarhum memang rajin mempublikasikan pikiran-pikirannya sejak kemunculan blog pada awal 2000-an. Di situ kita bisa melihat betapa seorang JSOP sangat konsisten dengan idealisme berkesenian dan berkebudayaan yang diyakininya.

Ketika hendak mengadakan konser LCLR + pada Januari 2016, JSOP membuat catatan menarik. Tentang industri musik yang dia nilai sudah tidak sehat lagi. Yang membuat musik pop kita tidak lagi variatif, tidak punya roh dsb dsb.

Berikut kutipan tulisan JSOP:

"Perjuangan musik [pop] semenjak tahun 2000an adalah melepaskan ketergantungan nasib industri panggung musik hiburan dari subsidi sponsorship, dimana wilayah otoritas para pemodal sudah jauh melewati batas2 kewajaran dalam mempengaruhi perkembangan iklim dunia musik itu sendiri. Hilangnya keberagaman produk karena tidak adanya bargaining position diantara pemodal dengan produsen2nya membuat kondisi2 transaksional keduanya bukan hal yang mudah seperti membalikkan kedua telapak tangan, agar seniman2 musik jenis lainnya bisa menyelenggarakan kegiatan2 konser musik seperti termaksud di atas.

"Dunia musik pop adalah dunia kegiatan berekspresi yang berada diranah kegiatan ekonomi. Oleh karenanya harus dipahami sebagai kegiatan dari sebuah profesi yang berperilaku profesional. Profesi pemusik wajib berkesadaran untuk mengelola pasar ekonominya sendiri. Melahirkan produk2 berkualitas yang dibutuhkan oleh masyarakat konsumennya dengan sendirinya akan menciptakan 'posisi tawar' yang setara dengan kepentingan pemodal. Pasar itu tidak datang dengan sendirinya. Pasar itu dibentuk oleh sistim rekayasa. Labelisasi2 yang menyesatkan pikiran harus dibenahi dan dikendalikan.

"Salah satu cara berkesadaran membentuk dan merawat pasar ekonomi musik adalah dengan menciptakan dialektika yang 'riil' antara pemusik dengan masyarakatnya sendiri melalui produk2 musikalnya. Tidak ada manfaatnya pemusik bernilai jual tinggi karena disubsidi oleh sponsorship apabila pada kenyataannya dia asing dihadapan masyarakat dilingkungannya sendiri. Seorang artis yang profesional mengenal dengan baik kebutuhan konsumen2nya lalu menentukan nilai yang equivalent dengan apa yang memang pantas diperolehnya.

"Saya wajib merawat apa yang mulai bisa saya kerjakan lagi hingga hari ini... berkegiatan konser musik/lagu saya sendiri. Upah atau pendapatan tinggi bukanlah tujuan dari konser2 musik sepanjang hidup saya selama ini. Namun harapan agar saya bisa mewakili kebutuhan konsumsi musik bagi masyarakat saya sendiri adalah jauh lebih penting dan diatas segalanya. Konser berbiaya mahal yang tak terjangkau daya beli masyarakat adalah ancaman yang menjadi tantangan untuk harus kita taklukkan bersama2.

"Artis musik yang hidupnya bisa sejahtera atau kaya sendirian itu sama saja dengan bunuh diri secara perlahan2. Kesejahteraan materi itu akibat dari pengabdian seseorang kepada profesi apapun namanya … dan yang memberikan apresiasi bukanlah sekelompok kecil pemodal2 tetapi masyarakat luas yang sudah cerdas secara keseluruhan."

Selamat jalan JSOP!

05 February 2018

Selamat Jalan Maestro Yockie Suryo Prayogo

Siang kemarin, Minggu 4 Februari 2018, saya mampir di pendapa Candi Watutulis, Prambon, Sidoarjo. Buadi, pengurus candi, menyuguhkan kopi hitam setengah pahit. Setengah jam kemudian datang seniman musik setempat Mas Yus.

Meskipun belum akrab, maklum pertemuan pertama, obrolan kami sangat asyik. Lebih banyak tentang musik pop, keroncong, dangdut, hingga koplo yang sedang booming. Musisi lawas macam Yus seperti sulit mengikuti jiwa musik jaman now.

Gampang mainnya tapi gak nyantol, katanya. Beda dengan musik-musik lawas yang tetap membekas sampai sekarang. Lalu Yus kasih contoh beberapa lagu pop lawas. Salah satunya yang dibawakan Ramona Purba. Seniman serba bisa ini kemudian menyenandungkan lirik yang puitis dan dalam.

Anak-anak muda sekarang mungkin sulit menikmati lagu 80an seperti itu Mas, kata saya. Sama sulitnya dengan kita menikmati lagu-lagu koplo saat ini. Sering ikut goyang, malah sering nyanyi, sering memainkan melodinya... tapi cuma di permukaan saja. Cepat hilang. Gak nyantol di hati.

Spontan saya memutar lagu lawas dari ponsel saya. Selamat Jalan Kekasih. Penyanyinya bukan Chrisye tapi Yockie Suryo Prayogo - biasa kami sapa JSOP. Intronya pendek, sederhana... dan JSOP menyanyi.

resah rintik hujan
yang tak henti menemani...
sunyinya malam ini
sejak dirimu jauh dari pelukan
selamat jalan kekasih....

Yus tersenyum dan menyimak lagu karangan JSOP dengan antusias. Lagu yang luar biasa, katanya. Makin sulit dijumpai hari ini di era digital.

Lalu saya menceritakan diskusi selama bertahun-tahun dengan JSOP, mantan pemain kibod Godbless, sejak awal munculnya blog, kemudian media sosial, khususnya Facebook. Mas JSOP sangat serius dan intens membahas permasalahan di industri musik Indonesia yang masih centang perenang.

Ketika para seniman, khususnya komposer seperti dirinya, belum mendapat apresiasi yang layak. JSOP sangat sering menyinggung norma positif + norma sosial yang makin dipinggirkan di jaman now. Sampai sekarang profesi seniman, musisi... dianggap tidak ada, katanya.

Obrolan di pendapa candi dekat pabrik gula yang tutup tahun 2017 itu pun kian mengalir lancar. Yus bilang senang ngobrol dengan saya yang dinilai punya kemampuan untuk menganalisis musik. Yockie Suryo Prayogo itu salah satu ikon musik di tanah air, katanya.

Saya pamit pulang karena harus ngantor. Deadline dimajukan 90 menit. Kapan-kapan kita kolaborasi, main bareng, ujar Yus yang mengira saya seorang musisi.

Eh... rupanya beberapa lagu dan aransemen musik karya JSOP yang diputar di Watutulis Prambon itu semacam isyarat alam. Bahwa sang maestro, JSOP, pamit dari alam fana menuju kasunyatan. Menuju ke pangkuan sang mahadaya.

Pagi jelang siang, Senin 5 Februari 2018, muncul berita di internet. Mas JSOP meninggal dunia pada usia 63 tahun. Sempat koma selama dua bulan selepas konser terakhirnya bersama sejumlah musisi papan atas negeri ini.

Selamat jalan Mas JSOP!

Semoga berbahagia bersama Sang Pencipta di surga!