16 January 2018

Susy Nander, Dara Puspita, dan Yon Koeswoyo




Yon Koeswoyo, vokalis sekaligus ikon band legendaris Koes Plus, meninggal dunia pada 5 Januari 2018 lalu. Berpulangnya pria 77 tahun itu merupakan kehilangan besar bagi penggemar musik pop tanah air. Bagi Susy Nander, 70, drummer Dara Puspita, Yon Koeswoyo dan para musisi Koes Bersaudara (kemudian menjadi Koes Plus) punya kesan mendalam dalam perjalanan hidup dan karirnya sebagai pemain band perempuan pertama di Indonesia pada era 1960-an.

Saya menemui Susy Nander di rumahnya, kawasan Puri Surya Gedangan, Sidoarjo. Susy dengan lancar menceritakan riwayat perjalanan Nirma Puspita dan Irama Puspita, girl band papan atas yang kemudian berganti nama menjadi Dara Puspita pada 1965. Musisi senior bernama lahir Sioe Tjwan itu menjadi penabuh bedug Inggris alias drummer grup pop rock itu sejak masih bernama Nirma Puspita. "Anggota Nirma Puspita ada 14 orang. Waktu itu usia kami rata-rata masih 13 tahun," kenangnya.

Namanya juga masih pelajar, harus fokus ke pelajaran, ditambah tekanan orang tua, akhirnya personel band putri ini mrotol satu per satu. Susy memilih bertahanan dan menekuni musik yang memang hobi beratnya. Bersama kakak beradik Titiek Adjie Rachman (gitar melodi) dan Lies Adjie Rachman (gitar pengiring), dan Ani Kusuma (bas), Susy Nander berhasil mengibarkan bendera Irama Puspita di Surabaya dan Jatim umumnya pada pertengahan 1960-an.

Saat itu sedang jaya-jayanya Koes Bersaudara di blantika musik Indonesia. Susy dkk pun gandrung dengan band yang dimotori Tonny Koeswoyo itu. Maka, ketika Koes Bersaudara mengadakan show di THR Surabaya, Susy bersama personel Irama Puspita pun ngebet ingin bertemu Koes Bersaudara di Hotel Simpang. Susy sempat bertemu Handiyanto, teknisi dan manajemen Koes Bersaudara. "Kami hanya ingin minta tanda tangan dan foto bersama. Syukur-syukur diajak jadi band pendamping," tuturnya.

Keinginan Susy dan tiga temannya rupanya disampaikan Handiyanto kepada Tonny Koeswoyo. (Kelak Handiyanto sangat berperan dalam perjalanan Dara Puspita, khususnya saat tur ke Eropa.) Betapa gembiranya Susy dkk ketika Tonny mengajak Irama Puspita ikut tampil di THR. "Wow... itu pengalaman luar biasa. Bisa tampil bersama Koes Bersaudara di satu panggung," ujar nenek yang rutin senam pagi itu.

Tonny Koeswoyo dan personel Koes Bersaudara menilai band remaja belasan tahun ini punya potensi untuk berkembang pesat. Syaratnya, harus hijrah ke Jakarta. Saran dedengkot Koes Bersaudara dan Koes Plus itu pun diikuti Susy Nander dkk. Pada Oktober 1964 mereka berangkat ke Jakarta. Naik kereta api kelas ekonomi. "Bekal kami masing-masing Rp 1.000," tuturnya.

Tinggal di rumah bibi Titiek AR di kawasan Tanah Tinggi, setiap hari Susy dkk berangkat ke markas Koes Bersaudara di Mentawai III/14 Jakarta. Menumpang mobil tetangga, disambung oplet, plus jalan kaki. Saking antusiasnya berguru pada Koes Bersaudara. Rutinitas ini dilakukan sampai bekal mereka habis. Sementara band mereka belum dapat income karena baru merintis karir dari nol di Jakarta.

Nah, Handiyanto dari manajemen Koes Bersaudara rupanya kasihan melihat para musisi muda yang selalu mandi keringat karena berjalan cukup jauh. Ia pun menawarkan Susy dkk untuk tinggal di rumahnya yang dekat dengan studio Koes Bersaudara. Ini membuat hubungan batin mereka dengan Koes Bersaudara makin rapat. "Seperti saudara atau keluarga dekat," tutur Susy.

Ketika Koes Bersaudara dapat job besar pada malam tahun baru 1965, Irama Puspita diajak tampil. Tempatnya di restoran terkenal di kawasan Bandara Kemayoran. Selain Koes Plus dan Irama Puspita, ikut manggung grup-grup top masa itu seperti Panbers, Pantja Nada, Bimbo, dan Los Vitarahma. Sejak itulah nama Irama Puspita makin berkibar di ibukota. Apalagi mereka satu-satunya band yang semua personelnya perempuan. Gaya panggung mereka pun atraktif layaknya band-band luar.
Job demi job pun terus mengalir. Persoalan bekal dan keuangan sudah bisa teratasi. Konser di Istora Senayan pada akhir Februari 1965 membuat nama Irama Puspita kian melambung. Saat itu Ani Kusuma keluar, digantikan Titiek Hamzah sebagai pembetot bas. Pemusik kelahiran Sumatera Barat, 16 Januari 1949, ini sangat berbakat dan mahir menciptakan lagu. Titiek Hamzah yang kemudian banyak memberi warna pada musik Irama Puspta alias Dara Puspita.

Lalu dapat tawaran manggung di Makassar, Sulawesi Selatan. "Promotornya bilang nama Irama Puspita kurang bagus untuk band. Sebaiknya diganti Dara Puspita karena kami berempat masih dara (gadis)," tuturnya.

Usai tragedi berdarah 1965, ketika situasi politik dan keamanan makin stabil, Dara Puspita banjir tawaran manggung. Bahkan, show ke luar negeri seperti Thailand, Malaysia, Singapura, disusul tur panjang di Eropa. Tiga tahun lebih Susy Nander dan kawan-kawan menikmati puncak karir bermusik dengan manggung di berbagai kota besar di Eropa. "Mainnya ya hampir setiap malam. Asyik banget karena kami masih muda-muda semua," ujarnya.

Kembali ke Indonesia pada akhir 1971, band putri yang fenomenal ini justru surut. Tahun 1972 terpaksa bubar. Alasannya, menurut Susy, Lies menikah dan tinggal di Belanda. Titiek Hamzah tidak fokus lagi karena memilih bersolo karir (dan sukses). Mereka juga beberapa kali ditipu oleh promotor nakal. "Kami dipaksa untuk bayar akomodasi, transportasi, dan konsumsi sendiri," paparnya.

Selain itu, selera musik masyarakat Indonesia mulai berubah. Sementara warna musik Dara Puspita yang pop rock kurang diminati. Belum lagi munculnya Oma Irama yang mengusung musik melayu dengan sentuhan hard rock (belakangan disebut dangdut).

Ditanya tentang isu hubungan khususnya dengan Yon Koeswoyo, vokalis Koes Bersaudara, Susy Nander pun tersenyum ramah. Menurut dia, hubungan itu sebetulnya tidak begitu intens layaknya orang berpacaran pada umumnya. Sebab, Susy bersama tiga temannya dari Dara Puspita sudah keburu melakukan show ke luar negeri dalam waktu yang sangat lama. Sekitar 3,5 tahun.

"Ya, otomatis nggak ada hubungan lagi. Lah, zaman dulu belum ada ponsel. Telepon biasa pun susah," ujarnya seraya tersenyum.

Meski begitu, drummer senior yang masih sempat tampil dalam sebuah festival drum di Jakarta tahun lalu ini mengaku sempat berkorespondensi lewat surat. Itu pun tidak sering. Yon Koeswoyo sendiri melepas masa lajangnya saat Susy Nander dkk sedang melakukan tur di Inggris. "Kita kemudian punya kehidupan sendiri-sendiri," ujarnya.

Setelah Dara Puspita bubar, Susy masih sempat bergabung dalam band baru bernama Dara Puspita Min Plus. Disebut min karena tidak ada lagi Lies dan Titiek Hamzah. "Plusnya itu dua anggota baru: Judith Mannopo dan Dora Sahertian," katanya.

Dara Puspita Min Plus ini tidak bisa bertahan lama. Hanya menghasilkan satu album, kemudian tamat riwayatnya. Susy Nander kemudian menikah dengan Leo Kolompoy yang bekerja di sektor minyak dan gas (migas). Susy pun melepas atribut artisnya dan tekun membina rumah tangga yang harmonis hingga sekarang ketika pasutri ini sama-sama berusia kepala tujuh.

Sesekali Susy diajak mengisi pelayanan musik di gerejanya. "Semuanya saya berikan untuk Tuhan. Termasuk mengunjungi para narapidana di penjara," ujarnya. (rek)

4 comments:

  1. Huebaat. Ada wawancara bandmates bu Susy yang sekarang tinggal di Belanda yaitu Bu Lies dan Bu Titiek AR. Ada juga video Bu Lies dan Titiek AR menyanyi dan main gitar .. wow luar biasa.

    ReplyDelete
  2. Njih... betul betul hebat karena tahun 1960an bu susy dkk sudah mampu main band dan bisa tur keliling di eropa. Ketika indonesia masih sangat agraris, penduduk masih banyak yg buta huruf, teknologi masih sederhana. Ini yg bikin saya kagum banget sama seniman2 pelopor macam bu susy, dara puspita, koes plus dan sebagainya. Mereka jelas manusia2 langka pada eranya.
    Huebaat tenan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, Pak Lambertus. Pada masa itu ga bisa lihat YouTube caranya main Beatles gimana. Hanya bisa mendengar dari piringan hitam, lihat foto2nya yang terlambat beberapa bulan. Pun ga ada video cassette player. Main chordnya mereka-reka dari teman, telinga, dengan kreatifitas sendiri. Ruarr biasa. Yang saya mau tanyakan, waktu keliling Eropa itu mainnya di mana, dan lagu-lagu yang dimainkan apa lagunya sendiri atau cover dari band2 rock yang terkenal masa itu.

      Delete
  3. Wah, wah, saya salah persepsi, dulunya saya kira Band Dara Puspita itu terdiri dari Tiga Dara Sitompul plus Susy Nander. Ternyata tidak ada hubungannya.

    ReplyDelete