25 January 2018

Revolusi Jurnalistik Jawa Pos di Kembang Jepun

Oleh DAHLAN ISKAN

(Kata pengantar buku API REVOLUSI JAWA POS KEMBANG JEPUN)

Generasi Kembang Jepun Jawa Pos yang dimaksud dalam buku Api Revolusi ini terbagi tiga angkatan. Ada angkatan lama. Yang sudah lebih dulu bekerja di Jawa Pos sebelum saya ditunjuk untuk memimpin Jawa Pos. Mereka ada yang sudah puluhan tahun bekerja di koran yang didirikan tahun 1949 oleh Mr The Cung Shen ini. Bisa juga disebut angkatan sebelum Jawa Pos diambil alih oleh PT Grafiti Pers di mana Pak Eric Samola adalah direktur utamanya.

Saya ditugaskan memimpin Jawa Pos sejak 2 April 1982 tapi baru masuk kantor tanggal 5 April 1982. Waktu itu tidak jelas siapa pemimpin redaksinya. Secara formal pimrednya masih Pak Theo Oen Sik. Tapi sudah bertahun-tahun tidak pernah masuk kantor. Lagi bermusuhan dengan pemilik koran itu, The Chung Shen. Pimred sehari-hari dijabat Pak Oetje, tapi yang paling mengerti jurnalistik adalah almarhum Imam Sudjadi.

Saat buku ini terbit di akhir 2017, beberapa orang dari angkatan ini masih hidup dan sehat. Misalnya Pak Koesnan Soekandar yang ganteng, Mas Sudirman yang cabe rawit, Bung Nasaruddin Ismail yang gagah, Nany Wijaya yang kian cantik, Zainal Muttaqin yang waktu itu korektor naskah tapi kemudian menjadi wartawan olahraga. Jangan lupa masih ada Johny Budimartono, redaktur olahraga yang legendaris yang masih aktif jadi komentator olahraga di TV lokal.

Satu deret nama lagi masih hidup dan masih bisa menyaksikan perkembangan Jawa Pos hari ini. Misalnya Eddy Sudaryono (beliau sekarang sakit kena stroke). Santoso Bondet. Itulah angkatan harap-harap cemas. Di satu pihak ada harapan nasib mereka berubah. Terutama di tangan pemimpin baru.

 Sudah terlalu lama mereka menderita. Kinerja perusahaan kian sulit. Tidak ada uang makan. Tidak disediakan minum. Tidak ada tunjangan-tunjangan. Fasilitas kerja pun sangat minim. Pesawat telepon hanya satu. Untuk semua orang redaksi. Itu pun dikunci. Yang ingin telepon harus minta izin. Itu pun harus jelas untuk apa dan telepon ke mana. Dan hanya untuk sambungan lokal.

Mengetik berita hanya boleh di kertas bekas. Waktu itu memang belum ada komputer. Kertas untuk mengetik itu di baliknya harus sudah ada bekas tulisan yang tidak digunakan lagi.

Di lain pihak mereka cemas jangan-jangan tidak dipakai lagi. Mereka mengira pastilah manajemen baru menerapkan syarat-syarat yang tinggi. Mereka merasa belum tentu bisa memenuhi standar seorang wartawan yang saya inginkan. Pastilah, pikir mereka, saya akan menerapkan standar wartawan Tempo.

Itulah angkatan yang di satu pihak tidak ingin lagi gajinya begitu kecil, tapi di lain pihak jangan-jangan justru kehilangan pekerjaan.

Saya tahu perasaan mereka yang seperti itu. Saya harus sabar. Saya tidak ingin heboh-heboh. Akibatnya memang kurang dirasa. Banyak pembaca tidak bisa melihat apa perbedaan edisi Jawa Pos sebelum dan sesudah tanggal 5 April 1982. Tidak ada perubahan radikal. Boleh dikata perubahan isi Jawa Pos seperti siput yang lagi sakit perut. 

Itulah era jurnalistik press release. Wartawan hanya menulis berita berdasar siaran pers. Press release mendominasi isi koran. Tidak ada berita hasil wawancara. Tidak ada berita hasil liputan. Tidak ada berita hasil penyelidikan. Tidak ada feature. Tidak ada pojok. Tidak ada karikatur. Saya menyebutnya tidak ada karya jurnalistik di Jawa Pos.

Pelan-pelan mulailah wartawan Jawa Pos menerima penugasan. Semua penugasan datang dari saya. Wartawan A harus ke mana, mencari siapa dan menanyakan apa. Wartawan B harus ke mana meliput apa. Begitulah. Semua wartawan menunggu penugasan dari saya. Sebelum berangkat mereka saya bekali cara meliput, cara wawancara, dan pertanyaannya apa saja. Inilah era baru untuk wartawan Jawa Pos. Tidak lagi hanya menunggu undangan dari instansi.

Setiap mereka kembali ke Kembang Jepun saya pun menyalaminya. Menyambutnya dengan senyuman. Capek ya? Sulit ya? Ketemu ya? Dapat apa saja? Yang menarik apa?

Ada yang wajahnya penuh semangat. Ingin melaporkan semua penugasan berhasil dilaksanakan. Ada yang agak takut-takut karena gagal. Semuanya saya dengarkan dengan sabar. Yang berhasil saya puji habis. Lalu memintanya segera menuliskannya. Yang gagal saya ajak diskusi mengapa gagal. Lantas apa lagi yang harus dilakukan. Saya dorong dia untuk ke lapangan lagi. 

Untuk kembali ke lapangan seperti itu ada beberapa sikap. Ada yang langsung berangkat sambil membawa semangat baru. Ada yang berangkat dengan ngedumel. Ada pula yang beralasan tidak mungkin berhasil. Misalnya karena sudah larut malam. Atau lokasinya jauh. Atau sudah terlalu lelah. 

Untuk yang seperti terakhir itu biasanya saya mengerutkan kening, menatapnya agak lama dam dengan sekejap saya berangkat ke lapangan. Saya tidak memberi tahu dia saya ke mana. Besok paginya dia akan baca sendiri liputan saya di koran. Yang dia anggap tidak mungkin berhasil itu. Di hari-hari berikutnya dia tidak lagi enggan kalau diminta balik ke lapangan.

Dari jawaban-jawaban mereka yang baru pulang dari lapangan, saya memberi beberapa komentar. Misalnya, nah, bagian itu yang menarik. Bagian itu yang harus dijadikan lead tulisan. Dari sini mereka mulai tahu mana bagian yang paling menarik dari sebuah peristiwa. Untuk dijadikan pembuka sebuah tulisan.

Kemampuan menilai mana bagian yang menarik dari sebuah peristiwa itulah yang harus dilatih. Mereka harus memiliki penciuman berita yang ibarat kemampuan kucing mencium ikan asin.

Kadang mereka kembali ke Kembang Jepun menceritakan panjang lebar apa yang barusan didapatkannya. Tapi ternyata tidak ada satu bagian pun yang menarik untuk ditulis. Tentu saya minta dia kembali ke lapangan untuk melengkapinya.

Setelah mereka menuliskan berita, saya sendiri yang memeriksa tulisan itu. Biasanya si wartawan yang bersangkutan saya minta duduk di sebelah saya. Agar tahu bagaimana menuliskan berita dari bahan yang didapat di lapangan tadi. Di tahap ini saya tidak hanya bertindak sebagai editor tapi juga mentor. 
Dari proses seperti itu mereka bisa belajar dengan cepat. Ada juga yang lambat. Pak Koesnan termasuk yang cepat menyesuaikan diri. Bahkan Nany Wijaya sering menolak menerima bimbingan. Langsung kabur ke lapangan. Dan hasilnya hampir selalu memuaskan.

Dengan ritme kerja seperti itu tentu banyak yang kelelahan. Termasuk kelelahan batin. Apalagi gaji mereka belum banyak berubah. Beban kerja yang berat itulah yang membuat mereka tidak lagi merasa terancam kalau akan masuk wartawan-wartawan baru. Tugas-tugas kian banyak. Tenaga yang ada tidak cukup lagi. Tapi Jawa Pos belum punya uang.

Maka masuklah angkatan baru. Memang kami belum bisa merekrut wartawan hebat. Rekrutmennya masih berdasarkan pertemanan dan pengamatan. Ada teman-teman yang saya bawa dari Tempo Biro Jatim seperti Mas Slamet Oerip Prihadi yang ekstremis rokok, ada teman-teman muda yang dinamis seperti Yamin Ahmad, Aloysius Koes Riyanto, Iwan Irawanto, Kholili Ilyas dll. Inilah generasi wartawan yang kemampuan mengejar beritanya sangat unggul. Terutama berita Kota Surabaya. Hampir tiap hari Jawa Pos membuat pembacanya terkejut oleh berita eksklusif mengagetkan.

Angkatan ketiga di Kembang Jepun adalah angkatan yang rekrutmennya mulai menggunakan syarat kesarjanaan. Harus sarjana muda. Itulah angkatan Margiono yang kelak jadi bos Rakyat Merdeka dan ketua umum PWI Pusat dua periode. Ada Sholihin Hidayat. Ada Boedi Ganet Oetomo, Ita Lizamia, Diah Indra Cahyuni, M Baehaqi.

Saat itu syarat sarjana muda itu sudah mengejutkan bagi Jawa Pos. Belakangan kami sering menertawakan syarat itu. Tapi, dulu, waktu mengumumkannya kami mengumumkannya dengan penuh kebanggaan. Sarjana muda rek! Maklum, kami yang ada di Jawa Pos saat itu umumnya hanya lulusan SLTA. Termasuk saya, Pak Koesnan, Nany Wijaya, Mas Slamet dll itu. Bahkan setelah membaca pengumuman penerimaan wartawan baru itu Pak Koesnan sering guyon begini: untung kita sudah masuk Jawa Pos duluan. Kalau baru masuk sekarang sudah tidak bisa diterima. Lalu... hahahaha... dengan riuhnya.

Mereka yang tidak sarjana muda itu juga sering menghibur diri sendiri begini: lulusan SLTA gini-gini kita tidak akan kalah sama yang sarjana. Dan itu memang bukan sekadar guyon. Nyatanya sampai kantor Jawa Pos pindah dari Kembang Jepun ke Karah Agung masih belum ada yang bisa menulis feature mengalahkan Pak Koesnan.

Dalam praktik kerja sehari-hari memang terjadi persaingan prestasi. Antara yang otodidak dengan yang berbau kampus itu. Saling tidak mau kalah. Saling menunjukkan prestasi. Hasilnya: Jawa Pos kian dilihat orang. Dari koran yang hampir bangkrut dan oplahnya hanya 6.000 eksemplar menjadi koran yang mulai dilirik masyarakat Surabaya.

Angkatan sarjana muda inilah yang mengubah citra Jawa Pos sedikit lebih elit. Mulai ada tulisan-tulisan berbau kampus.
Walhasil tiga angkatan itulah yang mewarnai perjuangan menghidupkan Jawa Pos di Kembang Jepun. Kembang Jepun bukan lagi kantor tapi sudah padepokan. Margionon sering tidak pulang. Tidur dengan kemul sarung di atas meja kerja. Bangunnya pun sering kesiangan. Banyak karyawan yang masuk kantor pagi sungkan melongok ke ruang redaksi. Takut terlihat para redaktur yang masih tidur dengan sarung tersingkap.

Di Kembang Jepun juga oplah Jawa Pos mulai melejit. Khususnya berkat liputan eksklusif dari Manila selama hampir dua bulan terus-menerus. Yakni saat Nany Wijaya tinggal di Manila meliput runtuhnya kekuasaan diktator Marcos. Nany Wijaya membuat rekor yang belum terpecahkan oleh siapa pun sampai sekarang: menghasilkan headline halaman satu selama 40 hari terus-menerus.

Dari Kembang Jepun pula Jawa Pos mulai dikenal keunggulannya dalam liputan sepak bola. Khususnya mengenai Persebaya dan Piala Dunia. Ada Johny Budimartono yang sampai sekarang masih tetap segar, langsing dan bujang. Dialah dewa penulisan sepak bola. Dia pula yang melahirkan wartawan olahraga andal seperti Zainal Muttaqin. Yang kelak di tahun 2000 dan setelahnya lebih dikenal sebagai andalan manajemen di Jawa Pos Group. Yang karirnya pindah ke jalur manajemen. Menjadi dirut Kaltim Pos. Direktur holding Jawa Pos dan dirut perusahaan listrik. Kembang Jepunlah kawah candradimukanya.

Saya menyambut gembira terbitnya buku ini. Sebuah revolusi jurnalistik yang menghasilkan kerjaan media di Indonesia. Sebuah kerja rodi yang menghasilkan kemakmuran bagi generasi sesudahnya.***

4 comments:

  1. Pak Dahlan Iskan, guru inspiratif saya....

    ReplyDelete
  2. Luar biasa pak dahlan bersama wartawan2 senior jawa pos di masa lalu. Semangat dan kerja keras mereka patut jadi teladan bagi jurnalis2 jaman now.

    ReplyDelete
  3. Saya jadi ingat alm bapak dharma dewangga yg sederhana dan murah senyum

    ReplyDelete
  4. Kompas / Gramedia Group dengan baik menanggapi naik daunnya internet sebagai teknologi distribusi information, dan bahkan merambah masuk TV / video production. Bagaimana dengan JawaPosGroup? Apakah strategi dan inisiatif yang sudah dilakukan oleh grup media ini? Dengan internet, batasan antara koran dan TV menjadi "blur".

    ReplyDelete