07 January 2018

Presiden Trump makin ndableg di Twitter

Donald J. Trump :

"I use Social Media not because I like to, but because it is the only way to fight a VERY dishonest and unfair "press," now often referred to as Fake News Media. Phony and non-existent "sources" are being used more often than ever. Many stories & reports a pure fiction!"

Presiden USA Donald Trump ini memang ndableg. Gaya bahasanya berbeda dengan pemimpin negara umumnya yang diplomatis dan sopan santun. Setiap hari Trump memuntahkan peluru di media sosial favoritnya: twitter.

Dulu saya pikir Trump jadi lebih arif bijaksana setelah resmi jadi presiden. Perang kata-kata di twitter hanya dipakai saat kampanye menuju Gedung Putih.

Eh... Mbah Trump ini malah tambah nemen aja di twitter. Makin tua malah kelihatan kayak remaja belasan tahun yang belum pengalaman menghirup oksigen kehidupan.

Twitter jadi senjata utama Trump untuk melawan media arus utama (mainstream) yang dituduhnya hanya menyebarkan fake news alias berita bohong. Wartawan-wartawan dimusuhi. Koran, televisi, online... dianggap Trump sebagai musuh.

Waduh.. waduh....

Mengapa seorang presiden negara adikuasa bisa kerdil seperti itu? Doyan perang kata di twitter? Saya tanyakan kepada seorang profesor di Pittsburg, Amerika Serikat.

"Saya juga benci sama Trump. Orang itu tidak pantas jadi presiden," kata profesor yang botak itu.

Masalahnya, orang-orang kritis macam profesor ini biasanya malas menggunakan hak suaranya. Jadi golput. Mereka baru terkejut ketika tokoh yang ndableg dan setengah gila justru menang pemilu.

Kok bisa Trum menang? Perolehan suaranya sampai 60 persen? "Tidak tahu," katanya.

Saya jadi teringat ucapan seorang wartawan senior di Surabaya yang cenderung antidemokrasi dan anti-USA. Mas Qodir itu bilang sistem demokrasi bisa melahirkan presiden atau gubernur atau bupati yang gila. Siapa saja bisa terpilih asal populer dan kaya raya. "Suaranya maling sama saja dengan profesor atau kiai," katanya.

Itu sering diucapkan Mas Qodir ini jauh sebelum Trump jadi presiden USA. Qodir dari dulu ingin presiden + kepala daerah dipilih oleh parlemen. Semacam MPR dan DPR. "Itu yang dimaksudkan sila keempat Pancasila," katanya.

Saya pikir bukan salah Trump yang makin doyan menyerang siapa saja dengan kata-kata kasar + brutal di twitter. Yang salah itu Partai Republik yang mencalonkan Trump sebagai presiden. Sudah tahu Trump ndableg dari dulu kok dicalonkan?

"Yang salah juga orang Amerika kok mau-maunya memilih Trump," kata seorang teman di Surabaya.

Nasi sudah jadi bubur. Trump makin gandrung main twitter dan tidak mau dengar masukan dari media massa yang dianggapnya "very dishonest and unfair".

1 comment:

  1. Sebagai WN USA hanya satu yg bisa saya katakan untuk Trump: jancuuuuuuk!

    ReplyDelete