25 January 2018

Bikin kata pengantar pameran lukisan di Sidoarjo

Masih di awal 2018 teman-teman pelukis Sidoarjo mulai bikin kegiatan pameran. Bahkan dua pameran sekaligus. Pameran solidaritas mengenang pelukis senior almarhum Dharganden di Museum Mpu Tantular, Buduran, dan pameran Napak Tilas SidoARTjo di Gedung Joang Jalan Ahmad Yani 10 Sidoarjo.

Saya kira dua pameran lukisan keroyokan ini merupakan awal yang bagus. Greget kesenian yang sempat loyo, khususnya sejak semburan lumpur akhir Mei 2006, pelan-pelan mulai pulih. Selama ini teman-teman seniman Sidoarjo juga aktif berkarya, tapi pamerannya di Surabaya dan kota-kota lain. Bahkan ada yang di luar negeri seperti Mas Jumaadi di Sydney, Australia.

Yang menarik, di dua pameran ini saya diminta menulis kata pengantar. Untuk melengkapi semacam katalog singkat. Memangnya saya pengamat kesenian, khususnya seni rupa? "Wis lah... pokoknya tulisanmu ditunggu. Paling lambat lima hari," ujar Mas Kris, wartawan RRI yang belakangan juga belajar jadi seniman lukis.

Waduh... pakai deadline segala! Kayak tulisan di media massa saja. "Anda layak jadi pengamat kesenian Sidoarjo," ujar Kris merayu saya. Hehehe...

Tak lama kemudian Juniarto Dwi Nugroho, seniman lukis yang juga pengurus Dewan Kesenian Sidoarjo, meminta hal yang sama. Bikin tulisan pengantar pameran lukisan bersama Komperta (Komunitas Perupa Delta) dan kawan-kawan pelukis Sidoarjo. "Tolong cepat dikirim karena katalognya mau saya cetak," ujar Juniarto yang juga guru seni rupa di beberapa sekolah itu.

Kalau ditodong seperti ini, apa boleh buat, harus dituruti. Sebab bagaimanapun juga Juniarto, Kris, dan para seniman itu memang cowas: konco lawas. Hubungan saya dengan seniman-seniman Sidoarjo itu bukan cuma reporter vs narasumber tapi lebih dari itu. Konco ngopi, guyon, diskusi, hingga piknik ke Jolotundo Trawas.

Saya jadi tahu Jolotundo ya berkat jasa pelukis senior almarhum Bambang Thelo dan pelukis-pelukis Sidoarjo. Mereka juga yang dulu membantu memberikan informasi tentang seluk beluk Sidoarjo dan permasalahannya.

Syukurlah, saat ini eranya HP pintar. Menulis kata pengantar pameran lukisan atau tulisan apa saja bisa dilakukan di mana saja. Paling enak sambil ngopi di warkop. Maka dua tulisan untuk seni rupa itu pun tuntas dalam waktu singkat.

Tidak pakai teori-teori kesenian yang ruwet, cuplik omongan sana sini, daftar pustaka dsb dst. Saya membuat kata pengantar seakan-akan saya sedang didaulat untuk berpidato saat pembukaan acara. Maka isinya pun dibuat enak dan gayeng. Tidak boleh bikin tuan rumah tersinggung.

Selamat pameran untuk teman-teman pelukis Kota Delta Sidoarjo!

No comments:

Post a Comment