25 January 2018

Revolusi Jurnalistik Jawa Pos di Kembang Jepun

Oleh DAHLAN ISKAN

(Kata pengantar buku API REVOLUSI JAWA POS KEMBANG JEPUN)

Generasi Kembang Jepun Jawa Pos yang dimaksud dalam buku Api Revolusi ini terbagi tiga angkatan. Ada angkatan lama. Yang sudah lebih dulu bekerja di Jawa Pos sebelum saya ditunjuk untuk memimpin Jawa Pos. Mereka ada yang sudah puluhan tahun bekerja di koran yang didirikan tahun 1949 oleh Mr The Cung Shen ini. Bisa juga disebut angkatan sebelum Jawa Pos diambil alih oleh PT Grafiti Pers di mana Pak Eric Samola adalah direktur utamanya.

Saya ditugaskan memimpin Jawa Pos sejak 2 April 1982 tapi baru masuk kantor tanggal 5 April 1982. Waktu itu tidak jelas siapa pemimpin redaksinya. Secara formal pimrednya masih Pak Theo Oen Sik. Tapi sudah bertahun-tahun tidak pernah masuk kantor. Lagi bermusuhan dengan pemilik koran itu, The Chung Shen. Pimred sehari-hari dijabat Pak Oetje, tapi yang paling mengerti jurnalistik adalah almarhum Imam Sudjadi.

Saat buku ini terbit di akhir 2017, beberapa orang dari angkatan ini masih hidup dan sehat. Misalnya Pak Koesnan Soekandar yang ganteng, Mas Sudirman yang cabe rawit, Bung Nasaruddin Ismail yang gagah, Nany Wijaya yang kian cantik, Zainal Muttaqin yang waktu itu korektor naskah tapi kemudian menjadi wartawan olahraga. Jangan lupa masih ada Johny Budimartono, redaktur olahraga yang legendaris yang masih aktif jadi komentator olahraga di TV lokal.

Satu deret nama lagi masih hidup dan masih bisa menyaksikan perkembangan Jawa Pos hari ini. Misalnya Eddy Sudaryono (beliau sekarang sakit kena stroke). Santoso Bondet. Itulah angkatan harap-harap cemas. Di satu pihak ada harapan nasib mereka berubah. Terutama di tangan pemimpin baru.

 Sudah terlalu lama mereka menderita. Kinerja perusahaan kian sulit. Tidak ada uang makan. Tidak disediakan minum. Tidak ada tunjangan-tunjangan. Fasilitas kerja pun sangat minim. Pesawat telepon hanya satu. Untuk semua orang redaksi. Itu pun dikunci. Yang ingin telepon harus minta izin. Itu pun harus jelas untuk apa dan telepon ke mana. Dan hanya untuk sambungan lokal.

Mengetik berita hanya boleh di kertas bekas. Waktu itu memang belum ada komputer. Kertas untuk mengetik itu di baliknya harus sudah ada bekas tulisan yang tidak digunakan lagi.

Di lain pihak mereka cemas jangan-jangan tidak dipakai lagi. Mereka mengira pastilah manajemen baru menerapkan syarat-syarat yang tinggi. Mereka merasa belum tentu bisa memenuhi standar seorang wartawan yang saya inginkan. Pastilah, pikir mereka, saya akan menerapkan standar wartawan Tempo.

Itulah angkatan yang di satu pihak tidak ingin lagi gajinya begitu kecil, tapi di lain pihak jangan-jangan justru kehilangan pekerjaan.

Saya tahu perasaan mereka yang seperti itu. Saya harus sabar. Saya tidak ingin heboh-heboh. Akibatnya memang kurang dirasa. Banyak pembaca tidak bisa melihat apa perbedaan edisi Jawa Pos sebelum dan sesudah tanggal 5 April 1982. Tidak ada perubahan radikal. Boleh dikata perubahan isi Jawa Pos seperti siput yang lagi sakit perut. 

Itulah era jurnalistik press release. Wartawan hanya menulis berita berdasar siaran pers. Press release mendominasi isi koran. Tidak ada berita hasil wawancara. Tidak ada berita hasil liputan. Tidak ada berita hasil penyelidikan. Tidak ada feature. Tidak ada pojok. Tidak ada karikatur. Saya menyebutnya tidak ada karya jurnalistik di Jawa Pos.

Pelan-pelan mulailah wartawan Jawa Pos menerima penugasan. Semua penugasan datang dari saya. Wartawan A harus ke mana, mencari siapa dan menanyakan apa. Wartawan B harus ke mana meliput apa. Begitulah. Semua wartawan menunggu penugasan dari saya. Sebelum berangkat mereka saya bekali cara meliput, cara wawancara, dan pertanyaannya apa saja. Inilah era baru untuk wartawan Jawa Pos. Tidak lagi hanya menunggu undangan dari instansi.

Setiap mereka kembali ke Kembang Jepun saya pun menyalaminya. Menyambutnya dengan senyuman. Capek ya? Sulit ya? Ketemu ya? Dapat apa saja? Yang menarik apa?

Ada yang wajahnya penuh semangat. Ingin melaporkan semua penugasan berhasil dilaksanakan. Ada yang agak takut-takut karena gagal. Semuanya saya dengarkan dengan sabar. Yang berhasil saya puji habis. Lalu memintanya segera menuliskannya. Yang gagal saya ajak diskusi mengapa gagal. Lantas apa lagi yang harus dilakukan. Saya dorong dia untuk ke lapangan lagi. 

Untuk kembali ke lapangan seperti itu ada beberapa sikap. Ada yang langsung berangkat sambil membawa semangat baru. Ada yang berangkat dengan ngedumel. Ada pula yang beralasan tidak mungkin berhasil. Misalnya karena sudah larut malam. Atau lokasinya jauh. Atau sudah terlalu lelah. 

Untuk yang seperti terakhir itu biasanya saya mengerutkan kening, menatapnya agak lama dam dengan sekejap saya berangkat ke lapangan. Saya tidak memberi tahu dia saya ke mana. Besok paginya dia akan baca sendiri liputan saya di koran. Yang dia anggap tidak mungkin berhasil itu. Di hari-hari berikutnya dia tidak lagi enggan kalau diminta balik ke lapangan.

Dari jawaban-jawaban mereka yang baru pulang dari lapangan, saya memberi beberapa komentar. Misalnya, nah, bagian itu yang menarik. Bagian itu yang harus dijadikan lead tulisan. Dari sini mereka mulai tahu mana bagian yang paling menarik dari sebuah peristiwa. Untuk dijadikan pembuka sebuah tulisan.

Kemampuan menilai mana bagian yang menarik dari sebuah peristiwa itulah yang harus dilatih. Mereka harus memiliki penciuman berita yang ibarat kemampuan kucing mencium ikan asin.

Kadang mereka kembali ke Kembang Jepun menceritakan panjang lebar apa yang barusan didapatkannya. Tapi ternyata tidak ada satu bagian pun yang menarik untuk ditulis. Tentu saya minta dia kembali ke lapangan untuk melengkapinya.

Setelah mereka menuliskan berita, saya sendiri yang memeriksa tulisan itu. Biasanya si wartawan yang bersangkutan saya minta duduk di sebelah saya. Agar tahu bagaimana menuliskan berita dari bahan yang didapat di lapangan tadi. Di tahap ini saya tidak hanya bertindak sebagai editor tapi juga mentor. 
Dari proses seperti itu mereka bisa belajar dengan cepat. Ada juga yang lambat. Pak Koesnan termasuk yang cepat menyesuaikan diri. Bahkan Nany Wijaya sering menolak menerima bimbingan. Langsung kabur ke lapangan. Dan hasilnya hampir selalu memuaskan.

Dengan ritme kerja seperti itu tentu banyak yang kelelahan. Termasuk kelelahan batin. Apalagi gaji mereka belum banyak berubah. Beban kerja yang berat itulah yang membuat mereka tidak lagi merasa terancam kalau akan masuk wartawan-wartawan baru. Tugas-tugas kian banyak. Tenaga yang ada tidak cukup lagi. Tapi Jawa Pos belum punya uang.

Maka masuklah angkatan baru. Memang kami belum bisa merekrut wartawan hebat. Rekrutmennya masih berdasarkan pertemanan dan pengamatan. Ada teman-teman yang saya bawa dari Tempo Biro Jatim seperti Mas Slamet Oerip Prihadi yang ekstremis rokok, ada teman-teman muda yang dinamis seperti Yamin Ahmad, Aloysius Koes Riyanto, Iwan Irawanto, Kholili Ilyas dll. Inilah generasi wartawan yang kemampuan mengejar beritanya sangat unggul. Terutama berita Kota Surabaya. Hampir tiap hari Jawa Pos membuat pembacanya terkejut oleh berita eksklusif mengagetkan.

Angkatan ketiga di Kembang Jepun adalah angkatan yang rekrutmennya mulai menggunakan syarat kesarjanaan. Harus sarjana muda. Itulah angkatan Margiono yang kelak jadi bos Rakyat Merdeka dan ketua umum PWI Pusat dua periode. Ada Sholihin Hidayat. Ada Boedi Ganet Oetomo, Ita Lizamia, Diah Indra Cahyuni, M Baehaqi.

Saat itu syarat sarjana muda itu sudah mengejutkan bagi Jawa Pos. Belakangan kami sering menertawakan syarat itu. Tapi, dulu, waktu mengumumkannya kami mengumumkannya dengan penuh kebanggaan. Sarjana muda rek! Maklum, kami yang ada di Jawa Pos saat itu umumnya hanya lulusan SLTA. Termasuk saya, Pak Koesnan, Nany Wijaya, Mas Slamet dll itu. Bahkan setelah membaca pengumuman penerimaan wartawan baru itu Pak Koesnan sering guyon begini: untung kita sudah masuk Jawa Pos duluan. Kalau baru masuk sekarang sudah tidak bisa diterima. Lalu... hahahaha... dengan riuhnya.

Mereka yang tidak sarjana muda itu juga sering menghibur diri sendiri begini: lulusan SLTA gini-gini kita tidak akan kalah sama yang sarjana. Dan itu memang bukan sekadar guyon. Nyatanya sampai kantor Jawa Pos pindah dari Kembang Jepun ke Karah Agung masih belum ada yang bisa menulis feature mengalahkan Pak Koesnan.

Dalam praktik kerja sehari-hari memang terjadi persaingan prestasi. Antara yang otodidak dengan yang berbau kampus itu. Saling tidak mau kalah. Saling menunjukkan prestasi. Hasilnya: Jawa Pos kian dilihat orang. Dari koran yang hampir bangkrut dan oplahnya hanya 6.000 eksemplar menjadi koran yang mulai dilirik masyarakat Surabaya.

Angkatan sarjana muda inilah yang mengubah citra Jawa Pos sedikit lebih elit. Mulai ada tulisan-tulisan berbau kampus.
Walhasil tiga angkatan itulah yang mewarnai perjuangan menghidupkan Jawa Pos di Kembang Jepun. Kembang Jepun bukan lagi kantor tapi sudah padepokan. Margionon sering tidak pulang. Tidur dengan kemul sarung di atas meja kerja. Bangunnya pun sering kesiangan. Banyak karyawan yang masuk kantor pagi sungkan melongok ke ruang redaksi. Takut terlihat para redaktur yang masih tidur dengan sarung tersingkap.

Di Kembang Jepun juga oplah Jawa Pos mulai melejit. Khususnya berkat liputan eksklusif dari Manila selama hampir dua bulan terus-menerus. Yakni saat Nany Wijaya tinggal di Manila meliput runtuhnya kekuasaan diktator Marcos. Nany Wijaya membuat rekor yang belum terpecahkan oleh siapa pun sampai sekarang: menghasilkan headline halaman satu selama 40 hari terus-menerus.

Dari Kembang Jepun pula Jawa Pos mulai dikenal keunggulannya dalam liputan sepak bola. Khususnya mengenai Persebaya dan Piala Dunia. Ada Johny Budimartono yang sampai sekarang masih tetap segar, langsing dan bujang. Dialah dewa penulisan sepak bola. Dia pula yang melahirkan wartawan olahraga andal seperti Zainal Muttaqin. Yang kelak di tahun 2000 dan setelahnya lebih dikenal sebagai andalan manajemen di Jawa Pos Group. Yang karirnya pindah ke jalur manajemen. Menjadi dirut Kaltim Pos. Direktur holding Jawa Pos dan dirut perusahaan listrik. Kembang Jepunlah kawah candradimukanya.

Saya menyambut gembira terbitnya buku ini. Sebuah revolusi jurnalistik yang menghasilkan kerjaan media di Indonesia. Sebuah kerja rodi yang menghasilkan kemakmuran bagi generasi sesudahnya.***

Bikin kata pengantar pameran lukisan di Sidoarjo

Masih di awal 2018 teman-teman pelukis Sidoarjo mulai bikin kegiatan pameran. Bahkan dua pameran sekaligus. Pameran solidaritas mengenang pelukis senior almarhum Dharganden di Museum Mpu Tantular, Buduran, dan pameran Napak Tilas SidoARTjo di Gedung Joang Jalan Ahmad Yani 10 Sidoarjo.

Saya kira dua pameran lukisan keroyokan ini merupakan awal yang bagus. Greget kesenian yang sempat loyo, khususnya sejak semburan lumpur akhir Mei 2006, pelan-pelan mulai pulih. Selama ini teman-teman seniman Sidoarjo juga aktif berkarya, tapi pamerannya di Surabaya dan kota-kota lain. Bahkan ada yang di luar negeri seperti Mas Jumaadi di Sydney, Australia.

Yang menarik, di dua pameran ini saya diminta menulis kata pengantar. Untuk melengkapi semacam katalog singkat. Memangnya saya pengamat kesenian, khususnya seni rupa? "Wis lah... pokoknya tulisanmu ditunggu. Paling lambat lima hari," ujar Mas Kris, wartawan RRI yang belakangan juga belajar jadi seniman lukis.

Waduh... pakai deadline segala! Kayak tulisan di media massa saja. "Anda layak jadi pengamat kesenian Sidoarjo," ujar Kris merayu saya. Hehehe...

Tak lama kemudian Juniarto Dwi Nugroho, seniman lukis yang juga pengurus Dewan Kesenian Sidoarjo, meminta hal yang sama. Bikin tulisan pengantar pameran lukisan bersama Komperta (Komunitas Perupa Delta) dan kawan-kawan pelukis Sidoarjo. "Tolong cepat dikirim karena katalognya mau saya cetak," ujar Juniarto yang juga guru seni rupa di beberapa sekolah itu.

Kalau ditodong seperti ini, apa boleh buat, harus dituruti. Sebab bagaimanapun juga Juniarto, Kris, dan para seniman itu memang cowas: konco lawas. Hubungan saya dengan seniman-seniman Sidoarjo itu bukan cuma reporter vs narasumber tapi lebih dari itu. Konco ngopi, guyon, diskusi, hingga piknik ke Jolotundo Trawas.

Saya jadi tahu Jolotundo ya berkat jasa pelukis senior almarhum Bambang Thelo dan pelukis-pelukis Sidoarjo. Mereka juga yang dulu membantu memberikan informasi tentang seluk beluk Sidoarjo dan permasalahannya.

Syukurlah, saat ini eranya HP pintar. Menulis kata pengantar pameran lukisan atau tulisan apa saja bisa dilakukan di mana saja. Paling enak sambil ngopi di warkop. Maka dua tulisan untuk seni rupa itu pun tuntas dalam waktu singkat.

Tidak pakai teori-teori kesenian yang ruwet, cuplik omongan sana sini, daftar pustaka dsb dst. Saya membuat kata pengantar seakan-akan saya sedang didaulat untuk berpidato saat pembukaan acara. Maka isinya pun dibuat enak dan gayeng. Tidak boleh bikin tuan rumah tersinggung.

Selamat pameran untuk teman-teman pelukis Kota Delta Sidoarjo!

Sys NS ikon radio lawas yang fenomenal

Bintang-bintang lama ikon pop 70an dan 80an pulang satu per satu. Belum lama Yon Koeswoyo, vokalis Koes Plus, dipanggil, barusan giliran Sys NS yang harus menghadap Sang Mahadaya. Sys NS tutup usia pada 23 Januari 2018 karena sakit jantung.

Sys NS, bagi saya yang pernah menikmati masa kejayaan radio, sering bawa radio kecil ke mana-mana, merupakan orang yang luar biasa. Saat itu dia pentolan Prambors. Radio yang menyebarluaskan gaya hidup anak muda ibukota ke kota-kota kecil + desa-desa di seluruh Indonesia.

Radio-radio swasta lokal biasanya ikut memutar banyolan khas Sys NS dan kawan-kawan Sersan Prambors. Serius tapi santai! Itulah istilah lawas, sersan, yang masih saya pakai sampai hari. Sersan aja... gak usah tegang-tegang, begitu pesan saya kepada mahasiswa komunikasi yang magang wartawan.

Namanya juga radio, saya hanya bisa membayangkan wajah Sys dkk di Prambos. Suara Ida Arimurti yang gurih. Ada Tono Sebastian yang suaranya dipakai untuk iklan-iklan top masa lalu. Contohnya iklan Marlboro yang dahsyat itu. "Nomor satu di Amerika... nomor satu di Indonesia!"

Betapa kagumnya saya dengan energi kreatif Sys NS dkk di Prambor zaman biyen. Betapa tidak. Mereka bikin LCLR: lomba cipta lagu remaja yang kualitasnya luar biasa. Musik pop yang sangat berkelas. Sampai sekarang pun saya tak bosan memutar lagu-lagu hasil LCLR di ponsel.

Kok bisa ya remaja tahun 70an dan 80an bisa bikin musik dengan syair yang dahsyat macam Kidung, Lilin Kecil? Aransemennya digarap Yockie Suryoprayogo - sekarang lagi sakit parah setelah bikin konser Menjilat Matahari.

Dahsyat nian pencapaian remaja masa lalu yang dikatalisasi Sys dkk di Prambors! Saya bandingkan syair dan musik lagu-lagu jaman now. Wow.. jauh banget jarak mutunya. Padahal yang menulis syair bukan remaja tapi om-om di atas 35 tahun. Lagu-lagu renyah yang easy come easy go....

Setelah reformasi, Sys NS ikut main politik. Sempat nunut sukses bersama SBY dan Partai Demokrat. Tapi kesenimanannya masih ada sisa. Ini terlihat saat dia bersama Ida Arimurti memandu Zona 80, acara lagu-lagu lawas di Metro TV.

Di situ barulah saya sadar bahwa duet maut Sys dan Ida di Radio Prambors itu ternyata tidak cocok di televisi. Kurang asyik. Tidak lancar mengalir seperti yang saya nikmati di radio-radio saat saya masih SMA dan kuliah. Orang radio yang hebat memang tidak otomatis jadi presenter televisi yang bagus.

Lama tidak mengikuti perkembangan Sys NS, saya membaca judul berita di internet. Sys NS sudah pulang.

Selamat jalan Mas!

16 January 2018

Susy Nander, Dara Puspita, dan Yon Koeswoyo




Yon Koeswoyo, vokalis sekaligus ikon band legendaris Koes Plus, meninggal dunia pada 5 Januari 2018 lalu. Berpulangnya pria 77 tahun itu merupakan kehilangan besar bagi penggemar musik pop tanah air. Bagi Susy Nander, 70, drummer Dara Puspita, Yon Koeswoyo dan para musisi Koes Bersaudara (kemudian menjadi Koes Plus) punya kesan mendalam dalam perjalanan hidup dan karirnya sebagai pemain band perempuan pertama di Indonesia pada era 1960-an.

Saya menemui Susy Nander di rumahnya, kawasan Puri Surya Gedangan, Sidoarjo. Susy dengan lancar menceritakan riwayat perjalanan Nirma Puspita dan Irama Puspita, girl band papan atas yang kemudian berganti nama menjadi Dara Puspita pada 1965. Musisi senior bernama lahir Sioe Tjwan itu menjadi penabuh bedug Inggris alias drummer grup pop rock itu sejak masih bernama Nirma Puspita. "Anggota Nirma Puspita ada 14 orang. Waktu itu usia kami rata-rata masih 13 tahun," kenangnya.

Namanya juga masih pelajar, harus fokus ke pelajaran, ditambah tekanan orang tua, akhirnya personel band putri ini mrotol satu per satu. Susy memilih bertahanan dan menekuni musik yang memang hobi beratnya. Bersama kakak beradik Titiek Adjie Rachman (gitar melodi) dan Lies Adjie Rachman (gitar pengiring), dan Ani Kusuma (bas), Susy Nander berhasil mengibarkan bendera Irama Puspita di Surabaya dan Jatim umumnya pada pertengahan 1960-an.

Saat itu sedang jaya-jayanya Koes Bersaudara di blantika musik Indonesia. Susy dkk pun gandrung dengan band yang dimotori Tonny Koeswoyo itu. Maka, ketika Koes Bersaudara mengadakan show di THR Surabaya, Susy bersama personel Irama Puspita pun ngebet ingin bertemu Koes Bersaudara di Hotel Simpang. Susy sempat bertemu Handiyanto, teknisi dan manajemen Koes Bersaudara. "Kami hanya ingin minta tanda tangan dan foto bersama. Syukur-syukur diajak jadi band pendamping," tuturnya.

Keinginan Susy dan tiga temannya rupanya disampaikan Handiyanto kepada Tonny Koeswoyo. (Kelak Handiyanto sangat berperan dalam perjalanan Dara Puspita, khususnya saat tur ke Eropa.) Betapa gembiranya Susy dkk ketika Tonny mengajak Irama Puspita ikut tampil di THR. "Wow... itu pengalaman luar biasa. Bisa tampil bersama Koes Bersaudara di satu panggung," ujar nenek yang rutin senam pagi itu.

Tonny Koeswoyo dan personel Koes Bersaudara menilai band remaja belasan tahun ini punya potensi untuk berkembang pesat. Syaratnya, harus hijrah ke Jakarta. Saran dedengkot Koes Bersaudara dan Koes Plus itu pun diikuti Susy Nander dkk. Pada Oktober 1964 mereka berangkat ke Jakarta. Naik kereta api kelas ekonomi. "Bekal kami masing-masing Rp 1.000," tuturnya.

Tinggal di rumah bibi Titiek AR di kawasan Tanah Tinggi, setiap hari Susy dkk berangkat ke markas Koes Bersaudara di Mentawai III/14 Jakarta. Menumpang mobil tetangga, disambung oplet, plus jalan kaki. Saking antusiasnya berguru pada Koes Bersaudara. Rutinitas ini dilakukan sampai bekal mereka habis. Sementara band mereka belum dapat income karena baru merintis karir dari nol di Jakarta.

Nah, Handiyanto dari manajemen Koes Bersaudara rupanya kasihan melihat para musisi muda yang selalu mandi keringat karena berjalan cukup jauh. Ia pun menawarkan Susy dkk untuk tinggal di rumahnya yang dekat dengan studio Koes Bersaudara. Ini membuat hubungan batin mereka dengan Koes Bersaudara makin rapat. "Seperti saudara atau keluarga dekat," tutur Susy.

Ketika Koes Bersaudara dapat job besar pada malam tahun baru 1965, Irama Puspita diajak tampil. Tempatnya di restoran terkenal di kawasan Bandara Kemayoran. Selain Koes Plus dan Irama Puspita, ikut manggung grup-grup top masa itu seperti Panbers, Pantja Nada, Bimbo, dan Los Vitarahma. Sejak itulah nama Irama Puspita makin berkibar di ibukota. Apalagi mereka satu-satunya band yang semua personelnya perempuan. Gaya panggung mereka pun atraktif layaknya band-band luar.
Job demi job pun terus mengalir. Persoalan bekal dan keuangan sudah bisa teratasi. Konser di Istora Senayan pada akhir Februari 1965 membuat nama Irama Puspita kian melambung. Saat itu Ani Kusuma keluar, digantikan Titiek Hamzah sebagai pembetot bas. Pemusik kelahiran Sumatera Barat, 16 Januari 1949, ini sangat berbakat dan mahir menciptakan lagu. Titiek Hamzah yang kemudian banyak memberi warna pada musik Irama Puspta alias Dara Puspita.

Lalu dapat tawaran manggung di Makassar, Sulawesi Selatan. "Promotornya bilang nama Irama Puspita kurang bagus untuk band. Sebaiknya diganti Dara Puspita karena kami berempat masih dara (gadis)," tuturnya.

Usai tragedi berdarah 1965, ketika situasi politik dan keamanan makin stabil, Dara Puspita banjir tawaran manggung. Bahkan, show ke luar negeri seperti Thailand, Malaysia, Singapura, disusul tur panjang di Eropa. Tiga tahun lebih Susy Nander dan kawan-kawan menikmati puncak karir bermusik dengan manggung di berbagai kota besar di Eropa. "Mainnya ya hampir setiap malam. Asyik banget karena kami masih muda-muda semua," ujarnya.

Kembali ke Indonesia pada akhir 1971, band putri yang fenomenal ini justru surut. Tahun 1972 terpaksa bubar. Alasannya, menurut Susy, Lies menikah dan tinggal di Belanda. Titiek Hamzah tidak fokus lagi karena memilih bersolo karir (dan sukses). Mereka juga beberapa kali ditipu oleh promotor nakal. "Kami dipaksa untuk bayar akomodasi, transportasi, dan konsumsi sendiri," paparnya.

Selain itu, selera musik masyarakat Indonesia mulai berubah. Sementara warna musik Dara Puspita yang pop rock kurang diminati. Belum lagi munculnya Oma Irama yang mengusung musik melayu dengan sentuhan hard rock (belakangan disebut dangdut).

Ditanya tentang isu hubungan khususnya dengan Yon Koeswoyo, vokalis Koes Bersaudara, Susy Nander pun tersenyum ramah. Menurut dia, hubungan itu sebetulnya tidak begitu intens layaknya orang berpacaran pada umumnya. Sebab, Susy bersama tiga temannya dari Dara Puspita sudah keburu melakukan show ke luar negeri dalam waktu yang sangat lama. Sekitar 3,5 tahun.

"Ya, otomatis nggak ada hubungan lagi. Lah, zaman dulu belum ada ponsel. Telepon biasa pun susah," ujarnya seraya tersenyum.

Meski begitu, drummer senior yang masih sempat tampil dalam sebuah festival drum di Jakarta tahun lalu ini mengaku sempat berkorespondensi lewat surat. Itu pun tidak sering. Yon Koeswoyo sendiri melepas masa lajangnya saat Susy Nander dkk sedang melakukan tur di Inggris. "Kita kemudian punya kehidupan sendiri-sendiri," ujarnya.

Setelah Dara Puspita bubar, Susy masih sempat bergabung dalam band baru bernama Dara Puspita Min Plus. Disebut min karena tidak ada lagi Lies dan Titiek Hamzah. "Plusnya itu dua anggota baru: Judith Mannopo dan Dora Sahertian," katanya.

Dara Puspita Min Plus ini tidak bisa bertahan lama. Hanya menghasilkan satu album, kemudian tamat riwayatnya. Susy Nander kemudian menikah dengan Leo Kolompoy yang bekerja di sektor minyak dan gas (migas). Susy pun melepas atribut artisnya dan tekun membina rumah tangga yang harmonis hingga sekarang ketika pasutri ini sama-sama berusia kepala tujuh.

Sesekali Susy diajak mengisi pelayanan musik di gerejanya. "Semuanya saya berikan untuk Tuhan. Termasuk mengunjungi para narapidana di penjara," ujarnya. (rek)

11 January 2018

Gus Ipul dan Khofifah Sama Saja

Pemilihan gubernur Jatim 2018 ini bisa dipastikan aman dan kondusif (pinjam istilah polisi). Mustahil kayak Jakarta yang super panas dengan gorengan SARA itu. Bahkan, di daerah lain pun tidak akan panas.

Jakarta panas karena ada Ahok. Sudah minoritas pangkat tiga, gubernur inkumben itu ngomong kebablasan di Pulau Seribu. Ibarat kiper yang mengoper bola ke striker lawan yang haus gol. Ahok bukan hanya kalah telak, tapi masuk penjara. Hancur pula rumah tangganya.

Itulah politik. Bikin Wong Tenglang (Tionghoa) yang umumnya apolitik, cenderung apatis, khususnya di Jawa, tambah apatis main politik. Lebih baik goreng saham, goreng tanah, goreng sembako... ketimbang digoreng monster-monster politik.

"Bagus mana Gus Ipul atau Khofifah? Saya minta masukan Bung sebagai pengamat di Jatim," tanya seorang ketua partai politik di Sidoarjo. Sejak kapan saya jadi pengamat? Hehehe...

"Kami butuh masukan dari orang media lah," ujar kenalan yang bakal jadi caleg nomor 1 itu.

Yah... saya bilang sama saja. Gus Ipul dan Khofifah sama-sama bagus. Sama-sama NU. Sama-sama asli Jatim. Sama-sama pengalaman. Jadi, silakan anda dkk memutuskan salah satu dari dua calon ini.

Kalau saya yang suka ludruk dan wayang kulit sih lebih suka Gus Ipul. Sebab, guyonan Gus Ipul itu luar biasa. Jarang ada pejabat di Indonesia yang punya kemampuan humor sehebat Gus Ipul alias Saifullah Yusuf. Yang bisa mengimbangi Gus Ipul hanya Ki Enthus bupati Tegal yang juga dalang terkenal.

Soal gender? Tidak relevan. Buktinya, PPP yang dulu ngotot mempermasalahkan Megawati (karena menolak perempuan jadi pemimpin) sekarang justru mendukung Khofifah. Kiai-kiai di Jatim juga tidak pernah menyoal jenis kelamin seorang pimpinan daerah. Kecuali yang homoseks!

Khofifah tipe petarung. Sudah dua kali ikut pilgub Jatim, kalah terus. Tapi belum kapok. Kali ini rupanya mantan pentolan PMII asal Wonocolo ini yakin bisa menang. Ingin menuntaskan ambisinya yang tertunda selama 10 tahun.

Sebagai wagub dua periode, Gus Ipul punya modal lebih dari cukup untuk menang. Siapa pun pasangannya, Gus Ipul jelas di atas angin. Monggo Bung... silakan pilih pasangan calon yang peluang menangnya tinggi.

Pagi ini pentolan parpol itu kirim pesan. "Saya cocok sama Gus Ipul, tapi DPP menginstruksikan agar kami mendukung Khofifah," katanya.

Monggo... sami mawon!

09 January 2018

Ahok ceraikan istri... wassalam

Tahun 2018 diawali dengan suasana yang muram. Malam pergantian tahun tidak semeriah biasanya. Yon Kowswoyo vokalis Koes Plus yang fenomenal itu berpulang ke pangkuan-Nya pada usia 77.

Selamat jalan Mas Yon, ikon Koes Plus. Seniman yang setia mengabdi seni hingga ajal menjemput. Sulit dibayangkan bakal ada band-band atau penyanyi kita yang bisa bikin lebih dari 100 album. Apalagi di era Youtube yang tidak membutuhkan album fisik.

Masih di awal 2018, Ahok menggugat cerai istrinya Veronica Tan. Ada apa dengan Ahok yang sedang menjalani penjara dua tahun? Hanya Ahok dan Vero yang tahu.

Tak dinyana, nestapa politik yang menimpa Ahok punya implikasi sejauh ini. Kalah pilgub, masuk bui, rumah tangga hancur. Perceraian ini sungguh di luar dugaan kita di luar lingkaran Ahok dan Vero.

Masuk penjara, dengan dakwaan seperti itu, sejatinya tidak akan menghancurkan karir Ahok. Beda kalau kasus korupsi atau mencuri duit rakyat atau rasuah. Nama Ahok justru tetap berkibar.

Sayang, kasus rumah tangga ini membuat Ahok boleh dikata selesai di politik. Sebab orang kita yang konservatif masih melihat seorang pemimpin dari keharmonisan rumah tangganya. Pamor Ahok jelas ambruk setelah menggugat cerai istrinya. Meskipun bisa saja yang salah pihak wanita.

"Seorang pemimpin itu keluarganya harus beres dulu," ujar Jerry yang mantan dosen di Surabaya. "Makanya saya tidak mendukung Prabowo."

Bukankah banyak pejabat kita yang keluarganya juga tidak harmonis? Malah ada pejabat dari parpol yang poligami?

"Betul Bung... tapi mayoritas rakyat tetap menginginkan pejabat yang keluarganya rukun damai sentosa," ujar Jerry yang asli Maluku itu.

Nasi sudah jadi bubur. Kita boleh berharap tapi Ahok yang punya otoritas di keluarganya. Sebagai orang cerdas, jenius, risk taker... Ahok tentu sudah punya 1001 pertimbangan yang dianggap terbaik bagi dirinya, Vero, dan anak-anaknya.

07 January 2018

Presiden Trump makin ndableg di Twitter

Donald J. Trump :

"I use Social Media not because I like to, but because it is the only way to fight a VERY dishonest and unfair "press," now often referred to as Fake News Media. Phony and non-existent "sources" are being used more often than ever. Many stories & reports a pure fiction!"

Presiden USA Donald Trump ini memang ndableg. Gaya bahasanya berbeda dengan pemimpin negara umumnya yang diplomatis dan sopan santun. Setiap hari Trump memuntahkan peluru di media sosial favoritnya: twitter.

Dulu saya pikir Trump jadi lebih arif bijaksana setelah resmi jadi presiden. Perang kata-kata di twitter hanya dipakai saat kampanye menuju Gedung Putih.

Eh... Mbah Trump ini malah tambah nemen aja di twitter. Makin tua malah kelihatan kayak remaja belasan tahun yang belum pengalaman menghirup oksigen kehidupan.

Twitter jadi senjata utama Trump untuk melawan media arus utama (mainstream) yang dituduhnya hanya menyebarkan fake news alias berita bohong. Wartawan-wartawan dimusuhi. Koran, televisi, online... dianggap Trump sebagai musuh.

Waduh.. waduh....

Mengapa seorang presiden negara adikuasa bisa kerdil seperti itu? Doyan perang kata di twitter? Saya tanyakan kepada seorang profesor di Pittsburg, Amerika Serikat.

"Saya juga benci sama Trump. Orang itu tidak pantas jadi presiden," kata profesor yang botak itu.

Masalahnya, orang-orang kritis macam profesor ini biasanya malas menggunakan hak suaranya. Jadi golput. Mereka baru terkejut ketika tokoh yang ndableg dan setengah gila justru menang pemilu.

Kok bisa Trum menang? Perolehan suaranya sampai 60 persen? "Tidak tahu," katanya.

Saya jadi teringat ucapan seorang wartawan senior di Surabaya yang cenderung antidemokrasi dan anti-USA. Mas Qodir itu bilang sistem demokrasi bisa melahirkan presiden atau gubernur atau bupati yang gila. Siapa saja bisa terpilih asal populer dan kaya raya. "Suaranya maling sama saja dengan profesor atau kiai," katanya.

Itu sering diucapkan Mas Qodir ini jauh sebelum Trump jadi presiden USA. Qodir dari dulu ingin presiden + kepala daerah dipilih oleh parlemen. Semacam MPR dan DPR. "Itu yang dimaksudkan sila keempat Pancasila," katanya.

Saya pikir bukan salah Trump yang makin doyan menyerang siapa saja dengan kata-kata kasar + brutal di twitter. Yang salah itu Partai Republik yang mencalonkan Trump sebagai presiden. Sudah tahu Trump ndableg dari dulu kok dicalonkan?

"Yang salah juga orang Amerika kok mau-maunya memilih Trump," kata seorang teman di Surabaya.

Nasi sudah jadi bubur. Trump makin gandrung main twitter dan tidak mau dengar masukan dari media massa yang dianggapnya "very dishonest and unfair".

Natal dan Tahun Baru tanpa Kustomisasi

Sudah tiga empat tahun ini saya jarang menerima ucapan selamat natal dan tahun baru yang cutomized. Kustomisasi memang barang langka di zaman now. Era digital, media sosial, membuat orang malas mengetik beberapa kata sederhana : selamat natal + selamat tahun baru.

Cukup mencomot kartu ucapan digital di internet... lalu dikirim. Bagus-bagus tapi standar. Sama saja untuk semua orang. Tidak jelas siapa gerangan yang mendesain greeting card yang ciamik itu. Sebab tidak ada copyright di medsos.

Beda dengan masa lalu di zaman analog. Ketika kita masih menulis nama orang yang kita kirimi kartu + sedikit basa-basi + tanda tangan.

Di zaman SMS pun kita masih punya ruang untuk mengetik nama dan sedikit ucapan standar. Tidak main share begitu saja. Masa analog itu sudah lalu. Old school. Masa ketika kartu natal masih ditulis tangan seperti syair lagu White Christmas yang terkenal itu.

Tahun ini saya hanya dapat kiriman 3 ucapan selamat yang customized. Diketik sendiri oleh Bung Jerry teman lama yang Protestan + dua kawan yang bukan kristiani. Tentu saya jawab dengan antusias. Plus sedikit bumbu guyonan... selamat makan sagu papua untuk Jerry.

Anehnya, pesan-pesan natal dari teman yang katolik + kristen lain semuanya digital. Hasil copy paste atau comotan dari internet. Biasanya share dari teman... yang juga mencomot dari temannya dst.
Tidak ada kustomisasi. Seperti surat kendaraan bodong yang tidak ada identitasnya. Maka, saya pun diam saja. Tidak membalas ucapan-ucapan khas era digital itu.

Saya malah jengkel karena kiriman kartu-kartu digital itu justru menyedot memori ponsel + menyedot pulsa internet. Sebab kebanyakan kartu digital itu pakai musik dan video. Bagus tapi menjengkelkan.

Pagi ini, seperti pagi-pagi yang lain, saya kembali menerima ucapan selamat pagi dari seorang guru sekolah swasta terkenal di Surabaya. Tidak diketik sendiri, tidak ada kustomisasi. Cuma mencomot kartu digital yang tersedia berlimpah-limpah di jagat maya.

Maka, saya pun langsung menghapus tanpa membaca dulu. Orang itu sepertinya tidak punya waktu lagi untuk mengetik beberapa kata sederhana. Padahal selama ini dia dikenal sebagai penulis beberapa buku yang pasti terbiasa mengetik ribuan kata.

Selamat tahun baru!