01 December 2017

Persebaya memang luar biasa

Selamat untuk Persebaya!
Selamat datang kembali ke Liga 1!

Awalnya saya meragukan Persebaya bisa lolos ke Liga 1 musim depan. Ini setelah melihat penampilan arek-arek Green Force yang tidak menjanjikan di beberapa pertandingan awal Liga 2 yang selalu disiarkan tvOne itu. Apalagi ketika masih dipegang pelatih Iwan Setiawan.

Para pemain sering salah passing. Salah pengertian. Skema bermainnya juga kurang jelas. Karena itu, tidak heran Persebaya didikte tim kecil macam Madiun Putra. Kemudian kalah oleh Martapura FC. Suporter militan Bonek sempat berteriak keras dengan memasang spanduk protes di kawasan Gedangan, Waru, Krian, Porong dsb.

Oh ya... sebagian besar warga Sidoarjo memang pendukung berat Persebaya. Sejak era perserikatan pemain-pemain bagus dari Sidoarjo menjadi andalan Persebaya. Bahkan, kapten Persebaya sekarang pun asli Sidoarjo.

Syukurlah, manajemen Persebaya tanggap. Iwan Setiawan dipecat. Diganti Angel Alfredo Viera. Coach asal Argentina ini memang jempolan meski awalnya juga kesulitan membenahi permainan Green Force. Alfredo mengubah gaya Persebaya menjadi tim yang bermain pendek, cepat, banyak menguasai bola. Cocok dengan fisik pemain-pemain Persebaya yang kecil dan pendek.

Perlahan tapi pasti, penampilan Persebaya makin joss saja. Makin dominan di lapangan. Menang menang menang.... Posisi di klasemen pun terangkat. Kalau begini terus, peluang besar untuk tampil di 16 besar.

Benar saja. Persebaya akhirnya menjadi the winning team. Tampil di 8 besar, Persebaya mencatat rekor sempurna. Menang 100 persen. Lima pertandingan menang. Opo ora hebat?

Saat melawan PSPS sebenarnya arek-arek sangat tertekan. Maklum, pemain-pemain dari Pekanbaru Riau ini punya badan besar dengan skill tinggi. Kalah penguasaan bola, tapi serangan baliknya sangat berbahaya. Apalagi kalau bola sudah dikuasai striker naturalisasi itu. Belum lagi tembakan jarak jauh Viktor Pae asal Papua yang sangat keras.

Syukurlah, coach Alfredo punya strategi meredam PSPS. Begitu dapat peluang, arek-arek bergerak sangat cepat dan bikin gol. Saya kira itulah kemenangan penting yang membuat motivasi arek-arek untuk promosi ke Liga 1 makin membuncah.

Sekarang Persebaya sudah dapat tiket Liga 1. Menjadi salah satu dari 18 klub elite yang berkompetisi di kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Tentu saja kualitas tim-tim Liga 1 jauh lebih bagus ketimbang Liga 2. Materi pemain yang ada saat ini saya rasa belum cukup untuk bersaing di papan atas alias enam besar.

Belajar dari kompetisi Liga 1 kemarin, materi pemain yang ciamik menjadi resep sukses Bhayangkara FC sebagai juara. Tim milik polisi itu diperkuat pemain-pemain bagus di semua lini. Otak lini tengahnya Evan Dimas yang notabene mantan pemain Persebaya. Di depan ada Spaso yang haus gol.

Bhayangkara ini unik karena tidak punya suporter. Sejak bermarkas di Gelora Delta Sidoarjo, kemudian pindah ke Bekasi, saya lihat pendukungnya cuma polisi. Itu pun dimobilisasi ke stadion. Bhayangkara tidak punya ikatan batin kedaerahan seperti Persebaya, Arema, Persija, Persib, atau PSMS.

Tapi kok bisa tampil ciamik dan stabil sepanjang 34 pertandingan di Liga 1?

Yah... sekali lagi karena materi pemainnya yang memang hebat. Bukan lantaran faktor nonteknis sebagaimana sempat dituduhkan Haruna, manajer Madura United, beberapa waktu lalu. Fakta di lapangan menunjukkan Bhayangkara selalu tampil bagus dan dominan. Justru pemain-pemain-pemain Madura yang main kayu sehingga dapat tiga kartu merah. Termasuk si Peter mantan pemain Liga Inggris itu.

Pesta kemenangan Persebaya sudah selesai. Sekarang giliran manajemen untuk menyiapkan tim yang berkualitas untuk menyongsong Liga 1 musim depan. Sebab suporter setia alias Bonek dari dulu menginginkan Persebaya menjadi juara kompetisi kasta tertinggi di Indonesia. Bukan cuma sekadar bertahan di Liga 1.

4 comments:

  1. Nek jamanku sik cilik biyen arek Suroboyo luwih fanatik karo Niac Mitra. Aku pernah nonton Niac Mitra lawan Arsenal nang Stadion Tambaksari, pas sekalian perpisahan karo striker Fandi Ahmad lan kiper David Lee. Huebaaaat, Niac Mitra menang 2-0. Umpan-umpan antara Joko Malis, Rudy Keltjes, karo Fandi Ahmad ibarate ono matane neng mburine endas!

    ReplyDelete
  2. Aha... itu era keemasan galatama sebelum terjadi degradasi kualitas yg membuat galatama pelan2 ditinggalkan penonton. Galatama kemudian kalah pamor sama perserikatan ya persebaya dkk itu. Kemudian kompetisi balbalan disubstitusi dengan melakukan unifikasi perserikatan dan galatama. Tapi substitusi liga ini ternyata belum sebagus galatama jaman biyen.

    Djoko Malis, Keltjes, Fandi Ahmad dan sebagian besar eks pemain niac mitra kemudian jadi pelatih balbalan yg ciamik soro. Rudy Keltjes saya kenal baik ketika pegang Deltras sidoarjo. Orangnya tegas dan sangat disiplin. Tapi ya itu... tim-tim yg dia pegang hampir tidak ada yg juara.

    Fandi Ahmad juga pegang beberapa klub di Jawa. Orangnya galak dan tegas... tapi timnya cuman papan tengah alias medioker.

    Jadi, pemain2 top yang substitusi profesi ke coach itu jarang yg bisa bikin timnya ciamik soro. Aji Santoso eks bintang Arema dan Persebaya salah satu pengecualian. Bisa bawa timnya juara dan bagus melatih.

    Saya masih sering kontak coach Alhadad eks striker niac mitra untuk pinjam mulutnya ngomong masalah balbalan. Kemarin Alhadad yg dulu striker top Niac Mitra ini pegang Persida Sidoarjo di Liga 2. Hasilnya? Gak tau menang dan degradasi ke Liga 3 hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin maksudnya Djoko Malis. Kalo Fandi Ahmad sesudah Niac Mitra jadi striker yg cukup sukses di FC Groningen.

      Delete
    2. Pemain2 top yang substitusi profesi ke coach itu jarang yg bisa bikin timnya ciamik? Enggak juga ah, bro. Widodo C. Putro sukses jadi pelatih Bali United. Rahmad Darmawan juga. Ada Kiatisuk Senamuang yang sukses di Timnas Thailand. Kalau mau di Liga Primer Inggris ada Pep Guardiola sama Antonio Conte. Hehee...

      Delete