26 December 2017

Pantai Sendang Biru dengan Homestay Selangit

Salah satu objek wisata yang mulai naik daun di Kabupaten Malang adalah pantai Sendang Biru di Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Pantainya unik, airnya tenang, meskipun terletak di Segoro Kidul alias Laut Selatan yang terkenal ganas. Posisi Sendang Biru, Goa Cina, dan beberapa destinasi wisata lain kebetulan agak menjorok masuk di teluk.

Dibandingkan wisata pantai di Jember, apalagi Kuta dan Sanur di Bali, masih jauh lah. Sendang Biru (sekitar 60 km dari Malang) masih sederhana. Belum dikemas bagus kayak Kuta. Yang ada cuma perahu-perahu nelayan saja. Pengunjung tidak bisa main-main di pasir karena memang tidak ada pasirnya.

Mandi atau berenang? Kelihatannya tidak dianjurkan. Sebab, bagaimanapun juga ini segoro kidul. Airnya tenang tapi dalam. Hanya nelayan setempat yang saya lihat bermain-main di air.

Para pengunjung cuma menghabiskan waktu di warung-warung yang cukup banyak. Pohon-pohon yang rindang dan besar-besar bikin kerasan. Duduk di pantai serasa di pinggir danau tengah hutan saja. Ini juga kelebihan Sendang Biru dibandingkan objek wisata pantai yang lain. Apalagi pesisir pantai Sidoarjo yang panas karena cuma ada pohon-pohon bakau yang tidak tinggi.

Bagaimana dengan penginapan? Tidak ada hotel memang di desa yang umat kristennya cukup banyak itu (ada GKJW yang bagus). Tapi jangan khawatir. Warga Sendang Biru ternyata sangat sadar wisata. Lebih tepat: sadar uang!

Kamar-kamar rumah warga disewakan. Jadi homestay. Mereka juga manfaatkan situs online macam Travelola untuk promosi kamar. Homestay ini tentu sangat membantu pengunjung yang ingin bermalam. Tidak perlu balik ke Malang yang makan waktu lama. Apalagi harus lewat di jalan desa yang gelap gulita di tengah hutan.

Saya iseng-iseng survei tarif homestay di Sendang Biru. Wow... selangit harganya. Ada yang minta Rp 300 ribu, 350, bahkan 400. Saya juga mampir di rumah orang Kristen yang ada pohon natalnya.

Berapa tarif kamar? Bapak yang ramah itu berunding dengan istrinya. Agak lama. Lalu keluar angka 200 ribu. Tarif yang paling murah ketimbang lima rumah lainnya. Padahal, ya, rumah biasa. Tidak ada fasilitas layaknya hotel, selain AC.

Rupanya konsep homestay sudah berubah total di Desa Sendangbiru itu. Aslinya homestay itu numpang nginap di rumah orang. Biayanya pasti lebih murah ketimbang hotel. Suasana rumah, home, yang jadi kelebihan homestay (yang otentik).

Dulu rumah saya di pelosok NTT juga sering diinapi turis Eropa, Jawa, atau tamu dari mana saja. Tidak bayar alias gratis.

Homestay yang asli juga ditemukan di tempat-tempat ziarah Katolik seperti Gua Maria Lourdes, Sendangsono, Kulonprogo, Jogjakarta. Saya beberapa kali homestay di rumah Pak Warno dekat Gua Maria yang terkenal itu. Gratis. Tapi biasanya tamu macam saya menitipi sedikit duit saat pamitan.

Maka, homestay di Sendang Biru ini saya anggap aneh. Masak, harganya lebih mahal daripada hotel di Malang! Masih banyak hotel bagus di Malang yang pasang tarif di bawah 200 ribu. Hotel bintang pun ada yang 300an di luar peak season.

Penginapan untuk backpacker di Malang sekitar Rp 70-80 ribu per malam. Dengan fasilitas yang lebih bagus ketimbang homestay di pantai Malang Selatan itu.

Sambil menyeruput kopi buatan pabrik di Taman Sidoarjo, saya merenungkan perilaku orang desa yang komersial abis alias mata duitan. Menguangkan kamarnya dengan harga yang tidak patut. Lebih mahal ketimbang hotel-hotel di Kota Malang.

Kehangatan dan keramahtamahan orang desa sepertinya tinggal cerita zaman old. Di zaman now... uang adalah segalanya.

5 comments:

  1. Harga itu ditentukan pasokan dan permintaan. Kalau tidak ada alternatif lain, ya mahal lah harga kamar. Walaupun fasilitas tdk memadai spt di kota.

    ReplyDelete
  2. betul... itulah yg bikin saya heran karena permintaan konsumen sebenarnya sangat rendah. jarang banget orang yg menginap di sendang biru.

    makanya saya curhat aja di sini karena sangat kecewa dengan homestay yg kemahalan. sama kecewanya dengan beli mangga di kawasan sumbermanjing yg ternyata rasanya kecut. overvalued. ada prinsip dagang yg diabaikan oleh pemilik rumah yg aji mumpung. orang tenglang jauh lebih fair: tidak pasang harga kelewat mahal tapi juga tidak kelewat murah.

    duren bangkok pasti mahal karena rasanya pancen maknyus, daging tebal dsb. sebaliknya duren alas biasanya murah karena kualitasnya di bawah standar. yg jadi masalah kalo si pedagang jual duren alas dengan harga duren bangkok.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu krn anda tidak nawar, Pak Lambertus.

      Delete