10 December 2017

Ngobrol rupiah di warung kopi

Warkop milik Bu Mualim di Rungkut Surabaya ini menarik. Di atas meja dipajang cukup banyak uang lama dan baru. Ada juga ringgit Malaysia, mata uang Portugal, USA, Spanyol, hingga Malaysia. Katanya dikasih seorang kolektor uang lama di Surabaya.

Di depan saya ada uang kertas Rp 10.000. Tiganya masih laku, satunya yang bergambar Sri Sultan Hamengkubuwono IX sudah lama ditarik. Sembari ngopi pahit, saya membayangkan masa lalu. Tahun 1992. Ketika uang Rp 10 ribu itu baru dirilis.

Wow... betapa hebatnya nilai uang 10 ribu pada awal 1990an itu. Duit segitu bisa dapat bensin 10 liter. Beli beras juga dapat banyak. Pegang uang Rp 10.00 gambar Sultan juga habisnya lama. Apalagi cuma untuk ngopi dan beli pisang goreng yang enak.

Kini, akhir 2017, uang Rp 10.000 gambar Frans Kaisiepo (emisi 2016) cuma uang receh di Indonesia. Kalau ditukar bensin cuma dapat satu liter lebih sedikit. Beras juga dapat sedikit. Rujak cingur cuma dapat kembali Rp 1.000.

Betapa hancurnya nilai rupiah. Khususnya sejak krisis moneter 1997. Nilai tukar uang kita merosot sekian ratus persen. ''Enak jaman Pak Harto. Barang-barang murah, bensin murah, sembako murah,'' ujar seorang bapak di warkop pinggir jalan itu.

Mahal dan murah itu relatif. Orang kaya sekali makan bisa habis Rp 100 ribu. Wong cilik cukup makan nasi kucing Rp 3.000. Tidak tepat juga membandingkan nominal harga hari ini dengan 20 atau 30 tahun lalu.

Yang sebenarnya terjadi itu bukan harga-harga yang naik, membubung tinggi, tapi inflasi yang parah. Nilai tukar rupiah anjlok luar biasa. Sementara penghasilan rakyat hanya naik sedikit.

Bagaimana cara membuat rupiah tidak hancur-hancuran seperti ini? Kulo mboten sumerep. Mbak Sri selaku menteri keuangan pasti paling tahu jurus-jurus silat moneter.

1 comment:

  1. Enak jaman pak Harto, tetapi jangan lupa yang membuat rupiah anjlok sampai 17000 IDR itu siapa, ya Suharto! Berkat kroni kapitalisme dan korupsi yang besar2an. Setelah 19 tahun reformasi , nilai rupiah masih 13.500 berarti kan masih lebih baik drpd waktu Suharto turun.

    Bgmn caranya supaya nilai tukar menguat? Hanya satu: pertumbuhan ekonomi. Majukan pendidikan jangan berkutat masalah agama. Pasti ekonomi akan maju. Seperti Korea, Jepang, Singapura, Taiwan, dll negara Asia sebelumnya.

    ReplyDelete