11 December 2017

Mesin penerjemah dianggap seksis

Mesin penerjemah di internet sering dipakai untuk membantu orang Indonesia yang tidak paham atau kalimat asing. Khususnya bahasa Inggris. Namanya juga mesin, kualitas terjemahannya tentu buruk. Tapi untuk kalimat pendek biasanya akurat.

Entah disengaja atau tidak, mesin bernama google translate itu sering membuat terjemahan yang seksis. Memojokkan perempuan. Begitu yang disampaikan Soe Tjen Marching PhD, arek Suroboyo yang kini jadi dosen di London, Inggris. Saya sendiri tidak pernah perhatikan mesin penerjemah itu.

Soe Tjen yang memang aktivis tulen itu menulis:

"How sexist can googletranslate be? Have a look at the translation below. The third person pronoun "dia" in Indonesian is gender neutral. However, googletranslate assumes certain things/positions are ascribed to males/females (the considered more important and more intellectual ones are usually those of males)."

Hehehe.... Kaget juga saya. Setelah saya iseng mengetes mesin penerjemah itu, ternyata ada benarnya. Tapi tidak semua. Ada DIA yang netral, ada yang merujuk gender. DIA CANTIK misalnya menjadi SHE bukan HE.

Lalu, siapa yang bertanggung jawab membuat terjemahan yang dianggap seksis itu? Begitu pertanyaan Soe Tjen. Gak ngerti. Google yang disalahkan? Gak lah.

Sebagai mesin penelusur nomor wahid, Google tentu hanya menyimpan kata-kata atau kalimat yang dibuat pengguna. Simpanan ribuan atau jutaan kata itu kemudian dijadikan semacam pola. Kalau sebagian besar pengguna translate.google.com memberi masukan yang seksis ya Mbah Google ya manut ae.

Sistem itu juga yang dipakai di google maps dan sebagainya. Kalau pengguna memberi masukan yang akurat tentang alamat tertentu, maka hasilnya juga akurat. Sebaliknya, kalau input datanya ngawur alias iseng ya ngawur pula hasilnya.

Inilah yang dialami Pratiwi, mahasiswi dari Bandung, saat mencari situs Terung di Krian Sidoarjo. Nona manis itu begitu bergantung pada gawai. Sangat yakin bahwa google maps itu akurat. Soalnya di Bandung selalu tepat, katanya.

Apa yang terjadi? Mahasiswi ini kesasar jauh dari lokasi. Gara-gara petunjuk di google maps yang mbeleset. "Akhirnya, saya tanya ke orang-orang di pinggir jalan. Alhamdulillah, sampai juga di lokasi," katanya.

Kembali ke terjemahan DIA yang dianggap seksis itu. Suka tidak suka, budaya Indonesia masih patriarkis meski sudah masuk era digital. Mindset yang sudah berlangsung sejak zaman purba itu masih bertahan di jaman now.

PKK masih ada. Darma Wanita ada. Istri masih dianggap bertugas memasak dan membuat wedhang kopi... seperti lirik lagu dangdut koplo yang sangat populer itu. Karena istrinya tidak mau masak, tidak mau bikin kopi, suaminya mencari hiburan di luar rumah. Waduh.... waduh.....

Budaya patriarki inilah yang mungkin tidak ada lagi di Barat. Seperti yang selalu diangkat di video-video Sascha Stevenson tentang bule wanita yang kawin dengan laki-laki Indonesia itu.

1 comment:

  1. Budaya patriarki masih bercokol di barat, masih! Nyatanya Trump kepilih. Sekarang sedang ramai2nya lelaki2 yg berkuasa dituduh pelecehan seksual ... eh masih terjadi itu. Begitu juga masih ada calon senator yg dituduh pelecehan seksual oleh berbagai perempuan yg waktu itu masih di bawah umur, dan orang yg bernama Roy Moore itu tidak mau mundur dr pencalonan dan mungkin bakal menang, krn pemilihan di negara bagian Alabama, yg budaya masih patriarkal dan kental Kristen. Maaf kenyataannya memang budaya patriarkal itu lekat dengan ketaatan beragama.

    ReplyDelete