26 December 2017

Macet di Malang tanpa solusi

Malang tidak lagi asyik untuk berwisata. Selain suhu udara yang tidak sesejuk tahun 1990an, jalan rayanya makin macet. Mulai dari Pasar Lawang hingga masuk wilayah Kota Malang.

Yang paling parah Lawang sampai Karangploso. Mobil dan motor dari arah Surabaya seperti masuk perangkap. Bergerak pelan-pelan kayak siput. Masih lebih cepat pejalan kaki di trotoar.

Polisi, seperti dikutip Malang Pos, menyebut kendaraan mencapai 15 ribu unit per jam. Itu karena banyaknya warga dari Surabaya dan sekitarnya yang berekreasi di Malang Raya. "Apalagi libur Natal dan tahun baru ini bersaman dengan liburan anak sekolah," kata Kasatlantas Polres Malang AKP Probandono.

Kalau saya amati, kemacetan di Malang ini sebetulnya tidak hanya karena libur akhir tahun atau Idulfitri. Setiap hari pun macet. Dan titik-titik rawan kemacetan bisa dilihat dengan mudah. Dan penyebab kemacetan pun gampang diidentifikasi. Tidak perlu jadi ahli untuk menganalisis kemacetan lalu lintas di Malang Raya.

Setahu saya, ruas jalan raya utama sejak 30 tahun lalu sampai sekarang sama saja. Tidak ada pelebaran. Yang sedikit beda adalah pembangunan jembatan layang atau flyover di dekat Terminal Arjosari. Lain-lainnya sami mawon.

Di pihak lain, seperti juga di kota-kota lain, pertumbuhan kendaraan bermotor pribadi luar biasa. Kita makin sulit menyeberang di Malang. Jangankan di jalan protokol Surabaya-Malang, jalan-jalan kecil kayak Kahuripan menuju Alun-Alun Bunder pun super padat. Anda dijamin sulit menyeberang di kawasan alun-alun di depan balai kota itu.

Lalu, apa solusinya? Pemkot Malang sepertinya tidak berbuat banyak. Mungkin karena jalan utama itu tergolong jalan nasional atau jalan provinsi. Tapi kalau tidak ada action, ya situasinya akan semakin parah.

Pemkot Malang mestinya bisa meniru Surabaya yang ngotot membuat jalan pendamping atau frontage road. Padahal Surabaya itu sebetulnya tidak macet parah. Titik kepadatan hanya di Jalan Ahmad Yani dari bundaran Waru karena kendaraan-kendaraan yang datang dari Sidoarjo. Nah, titik macet di Ahmad Yani yang tidak seberapa jauh itu kini sudah sembuh berkat FR itu.

Bandingkan dengan Malang Raya yang macetnya dari Lawang sampai Blimbing. Itu benar-benar parah. Tapi kelihatannya pemkot adem ayem saja. Yang ramai justru orang Surabaya yang sering cuap-cuap di radio. Curhat soal kemacetan di Malang yang tanpa solusi itu.

Abah Anton, wali kota, tentu sudah punya jurus-jurus jitu. Selain minta tolong Tuhan yang mahakuasa tentu saja.

No comments:

Post a Comment