10 December 2017

Giliran patung balet di Citraland diturunkan

Sudah belasan tahun patung sepasang penari balet jadi penanda kawasan Citraland Surabaya. Patung balerina itu garapan seniman top negeri ini. Cocok dengan visi Pak Ciputra sejak dulu: membangun kawasan bernuansa seni.

Selama ini ya aman-aman saja. Orang melintas di sekitar patung itu begitu saja. Tak pernah ada polemik atau kontroversi di media massa. Silakan buka arsip koran-koran lama terbitan Surabaya sejak awal 2000. Tidak ada polemik soal patung.

Polemik patung di Surabaya, yang masih saya ingat, cuma satu. Patung kerapan sapi di dekat belokan Basuki Rahmat dan Urip Sumoharjo. Patung balapan sapi khas Madura itu dianggap tidak cocok dengan spirit Kota Pahlawan.

"Mestinya dipasang patung pejuang kemerdekaan yang lebih mencerminkan semangat arek-arek Surabaya. Bukan malah ditaruh patung sapi," ujar Cak Kadar suatu ketika.

Almarhum yang dikenal sebagai budayawan senior ini mengusulkan agar patung kerapan sapi itu dipindahkan ke Madura. Polemik ini sempat ramai di media massa (belum ada media sosial). Tapi pelan-pelan hilang begitu saja. Dan sampai sekarang patung kerapan sapi masih tegar berdiri.

Begitulah. Selama bertahun-tahun para seniman dan pemerhati kota hanya konsen dengan ruang publik. Khususnya karya seni yang dibuat dengan uang rakyat alias APBD. Perumahan dianggap sebagai ranah swasta meskipun nantinya juga jadi permukiman penduduk.

Karena itu, hampir semua perumahan kelas tengah atas punya tetenger atau landmark. Ciputra yang sejak dulu ngomong kota nuansa seni pun melengkapi perumahan-perumahannya dengan seni patung dsb. Indah nian... bagi orang yang punya apresiasi seni.

Anehnya, di era media sosial yang heboh, muncul pandangan baru yang keras. Massa main geruduk. Minta agar patung yang dianggap porno atau bertentangan dengan keyakinan mereka harus diturunkan. Main ultimatum harus dibongkar dalam tempo sekian hari.

Itulah yang terjadi di Sidoarjo. Patung petani, nelayan, dan perajin hasil tambak Kota Delta diturunkan karena tekanan massa. Pakai argumentasi dan legitimasi agama. Maka patung yang masih baru itu pun diturunkan.

Dari Sidoarjo, aksi protes patung dilakukan di Tuban. Patung Dewa Kwan Kong di kompleks kelenteng diminta bongkar karena dianggap tidak sesuai dengan karakter lokal. Media sosial heboh. Sebab patung Kwan Kong ini dibandingkan dengan patung Jenderal Sudirman.

Mudah ditebak. Pihak kelenteng, orang Tionghoa, tidak mau ambil risiko. Di mana-mana minoritas itu lebih suka bermain aman... kecuali Ahok yang berani melawan arus. Akhirnya dimakan arus politik SARA juga.

Kemarin giliran Surabaya yang kena. Modusnya sama. Ada ormas ngeluruk patung balerina di Citraland yang dianggap porno. Patung itu kemudian ditutupi kain putih. Tentu saja manajemen Citraland tidak mau ambil risiko. Besoknya patung itu diturunkan.

Rasanya aksi seperti ini bakal terus ada di NKRI ini. Seiring makin kuatnya masyarakat yang berhaluan konservatif. Biasanya menjelang pemilihan umum kepala daerah, pemilihan legislatif, atau pemilihan presiden isu SARA jadi menu gorengan yang panas. Apalagi sudah terbukti berhasil di Jakarta.

8 comments:

  1. Kalau yang di Tuban itu saya setuju.. karena case-nya sama dengan patung karapan sapi di Surabaya yaitu tidak sesuai karakter lokal, terlebih Tuban adalah kampung halaman dari Ronggolawe yang berjasa mengalahkan invasi Mongol dan mendirikan Majapahit bersama Raden Wijaya.

    Tapi saya kurang setuju dengan pembongkaran patung di Sidoarjo. Alasannya apa? Bukannya ini simbol kalau perekonomian Sidoarjo memang digerakkan oleh petani, nelayan dan tambak? Ini kan bukan simbol penyembahan atau apa. Lalu yang baru-baru ini terjadi di Citraland juga demikian, setahu saya tidak ada warga setempat yang protes... hanya orang luar saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Warga citraland dan sekiarnya ya gak masalah selama 15 tahun ini. Yang panas justru ormas baru yg punya paham keagamaan konservatif itu. Anehnya pemerintah daerah dan kepolisian membiarkan saja... ya seakan ada pembenaran untuk kelompok itu.

      Delete
    2. Itu yg beragama baru tingkat identitas. Bolo2an. Baru tarafi syariat aja belum lulus, apalagi taraf hakikat.

      Katanya Cak Nur, orang berbeda agama itu di tingkat imanen akan ketemu pada ethical concern. Artinya ada nilai2 etika yg semua setuju, misalnya tidak mencuri, tidak korupsi, tidak berselingkuh dengan istri atau suami orang lain. Pada tingkat imanen, barulah ada pemahaman bhw sumbernya manusia itu dari Cinta yang sama, entah apapun nabimu.

      Lha orang2 yg main sweeping dan bongkar ini pd tahap syariat saja mereka tidak mau memahami bhw orang beragama lain itu pun punya aturan2 yg sama dalam hal etika kehidupan. Menghormati kesamaan. Yg dikoar2kan, oh itu patung Kwan Kong, bukan identitasku. Berani2nya mengusik identitasku. Bongkar! Tanpa mempelajari apa sih yg disimbolkan dan ingin diceritakan oleh patung tersebut. Emang payah politik identitas yg berdasarkan agama.

      Delete
  2. Patung kwan kong di tuban ini menurut saya terkait persembahyangan di kelenteng. Kwan Kong dewa utama di kepercayaan khas tionghoa. Mirip patung bunda maria atau yesus di katolik. Kalau ditaruh di lingkungan sendiri ya mestinya gak masalah. Kayak patung Kwan Im di kelenteng kenjeran surabaya yg super jumbo itu.

    Tapi kalau dicari-cari alasan untuk bongkar ya pasti ketemu aja. Lama2 patung Ken Dedes yang susunya kelihatan di singosari juga dibongkar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terpisah dr pendapat umat beragama lain, sy kira orang klenteng itu kurang menggunakan pendekatan kultural. Sebelum bangun patung, apalagi yg raksasa , seharusnya konsultasi dengan ulama, dengan dinas budaya, ojo mentang mentang. Walaupun di lingkungan sendiri, dari laut kan bisa dilihat. Kalau ada pendekatan kebudayaan, mungkin bisa dibuat pelajaran sejarah. Instead of Guanyu, bisa dibuat patung laksamana Zheng He yg muslim dan pernah mampir di sana. Atau ukurannya dikurangi. Atau dibangunkan juga patung Ronggolawe atau Raden Wijaya. Yang smart gitu lho.

      Delete
  3. Orang kelenteng bangun patung Kwan Kong itu betul karena TITD di Tuban itu rumahnya Dewa Kwan Kong. Gak cocok kalau bikin patung Cheng Hoo opo maneh Ronggolawe. Kalau Ronggolawe biar urusan pemda aja.

    Yang jadi masalah memang betul itu: kurang ngopi dan ngobrol sama tokoh2 dan ulama setempat sebelum bikin patung Kwan Kong berukuran jumbo. Saya sendiri malah senang dan menikmati karya seni rupa seperti patung2 itu, kayak Buddha tidur di Mojokerto. Tapi ya... di NKRI ini rakyatnya makin konservatif dan menutup diri. Kalau di barat rakyatnya makin cuek dengan agama, di NKRI malah sebaliknya.

    Ini juga pelajaran bagus untuk orang kelenteng di Tuban dan NKRI.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah benar. Dalam dunia design kita diajari design thinking, yang dimulai dengan empathy terhadap pengguna. Dalam hal ini, konsumen karya seni berupa patung itu bukan hanya umat Konghutju, tetapi juga wong muslim setempat. Sebelumnya ngopi dulu, membangun komunikasi dan secara iteratif konsultasikan desain patungnya dengan ulama2 dan dinas budaya setempat.

      Delete
    2. joss.. kebetulan saya sangat dekat dengan beberapa seniman patung di surabaya sidoarjo dan sekitar. eyang thalib alm yg bikin banyak patung pahlawan di surabaya kayak wr supratman atau gubernur suryo. pak santoso bikin patung cak durasim di surabaya dan ikan2 di sidoarjo. ada juga pematung dari mojokerto yg bikin kwan im di kenjeran.

      makanya saya apresiasi betul karya seni patung mereka. oh ya... pak nyoman winten yg bikin patung nelayan petani dll di sidoarjo itu seniman kelas dunia. belum lagi pak nyoman nuarta yg bikin kerapan sape di surabaya.

      seni patung harus dapat tempat dalam desain atau tata kota. cuman ya memang perlu ada omong2 yg enak biar tidak dibongkar. soale patung iku gak murah. eman2 duite ilang percuma.

      Delete