06 December 2017

Air Supply vs Musisi Indonesia

Graham Russel dan Hitchcock tiba di Sidoarjo, tepatnya di Bandara Juanda kemarin sore. Rabu malam langsung konser di Surabaya. Sekaligus merayakan 40 tahun karir bermusik kedua seniman sepuh ini sebagai motor Air Supply.

Luar biasa. Graham 67 tahun, Russel 68. Jelang kepala tujuh. Tapi mereka masih keliling dunia untuk bikin konser. Bukan cuma sekadar nostalgia, tapi pertunjukan dengan standar normal Air Supply. Lihat saja tiket masuk ke Grand City yang sangat mahal untuk ukuran Jatim.

Standar yang sama dengan ketika Air Supply lagi di atas angin tahun 80an atau 90an. ''Kami ingin ajak masyarakat Surabaya untuk senang-senang. Menyanyi dan joget bersama,'' kata Russel yang barusan konser di Hongkong.

Musik pop yang melodius, manis, ala Air Supply memang cocok banget dengan selera orang Indonesia. Seperti Peter Cetera yang biasa digandengan David Foster. Tidak heran Air Supply ini sudah sering konser di Indonesia, khususnya Jakarta. Surabaya baru sekali ini.

Setiap kali melihat konser band atau artis senior Barat, saya selalu terenyuh. Prihatin. Sebab penyanyi atau musisi NKRI tidak pernah bertahan lama di blantika musik. Industri musik kita tidak ramah bagi musisi senior. Pop Indonesia hanya kasih tempat untuk artis di bawah 27 tahun rata-rata.

Usia di atas 30 biasanya sudah sepi pasaran. Sulit bikin album. Apalagi bisa tur ke berbagai kota. Satu-satunya band yang eksis sampai tua adalah Godbless yang dimotori Achmad Albar itu. Sayang, standar pertunjukannya beda jauh dengan era keemasan dua atau tiga dekade lalu.

Para musisi sepuh pun harus kerja serabutan agar bisa tetap makan minum. Bahkan ada rocker top lawas yang terpaksa jadi dukun alias paranormal. ''Saya sering ajukan proposal tapi selalu ditolak. Gak laku,'' ujar rocker lawas yang sudah almarhum itu.

Ada juga rocker yang jadi pendeta. Seperti Sunatha Tanjung dari AKA Band. Gitaris ini bisa tenang di usia senja karena sudah ada sumber nafkah... meskipun kalah jauh ketimbang bayaran rock star di masa jayanya. ''Sedikit tapi ada berkatnya. Buat apa bayaran besar tapi tidak berkat. Cepat habis,'' ujar gitaris kawakan ini kepada saya beberapa tahun lalu.

Melihat Air Supply yang masih greng, keliling dunia, saya makin prihatin dengan banyak band bagus kita yang bubar. Dewa 19 hilang karena pentolannya Ahmad Dhani sibuk main politik. Sibuk jadi oposan yang setiap hari menyerang pemerintah. Tidak ada waktu lagi untuk bikin lagu, main band, atau konser.

''Padahal Dhani ini punya talenta luar biasa di musik. Belum tentu 25 tahun sekali ada musisi sekaliber Ahmad Dhani,'' kata Once vokalis Dewa 19.

No comments:

Post a Comment