12 November 2017

Umat Katolik yang terlambat misa

Misa pertama di Gereja Salib Suci, Tropodo, Waru, Sidoarjo, pagi tadi dipimpin Pater Servas Dange SVD. Lebih sejuk karena mulai pukul 05.30 dan lebih cepat karena ordinarium (Kyrie, Gloria, Sanctus dst) tidak dinyanyikan.

Namun, misa yang terlalu pagi juga membuat cukup banyak umat yang terlambat. Ada yang telat lima menit... seperti saya, tapi ada juga yang telatnya di atas 15 menit. Repot memang umat yang terlambat misa. Sebab bangku-bangku sudah terisi penuh. Gereja Salib Suci ini memang dari dulu selalu ramai.

Nah, orang-orang yang terlambat itu biasanya malu (atau sungkan) maju untuk mengisi bangku kosong. Di bagian depan memang banyak tempat kosongnya. Saya nekat aja maju dan dapat tempat di posisi agak depan samping kiri. Namun ada pula satu keluarga yang memilih pulang karena tidak kebagian tempat duduk.

Gak nyangka, kasus umat terlambat dan sungkan maju ini jadi bahan khotbah Romo Servas. Saya pun merasa tersindir. Takut dimarahi romo. Ternyata yang dibahas adalah umat yang memilih pulang itu tadi. ''Ini harus jadi pelajaran untuk kita semua. Pengalaman itu guru terbaik,'' kata Romo Servas.

Pastor asal Flores ini menyentil sikap umat Katolik di Gereja Salib Suci yang terlalu fokus pada Tuhan dan cuek dengan jemaat yang terlambat. Mestinya ada reaksi. Diarahkan untuk mengisi tempat kosong (biasanya ada di depan). Petugas tatib (tata tertib) pun seharusnya mengantar umat yang terlambat ke tempat yang kosong.

''Kita perlu belajar untuk peduli sesama,'' ujar pater dengan sentilan khasnya.

Kelihatannya Romo Servas merasa kurang enak melihat ada domba-dombanya yang berniat ikut ekaristi tapi gagal hanya karena persoalan sepele. Buat apa gereja punya balai paroki yang luas jika tidak bisa menampung umat yang telat? Toh, tidak lebih dari 10 orang.

Ihwal disiplin ekaristi ini, sikap romo memang berbeda-beda. Ada yang toleran dan memahami seperti Romo Servas. Tapi ada juga yang keras seperti Romo X (sensor). Romo X ini tidak suka melihat umat yang terlambat. Juga tidak suka dengar anak-anak menangis atau jalan-jalan saat liturgi berlangsung.

Umat yang pernah mendengar sentilan (atau kemarahan) Romo X pasti langsung pulang jika misa sudah dimulai. Nekat masuk bisa-bisa jadi bahan homili. Gak enak blass! Dulu saya pernah disindir karena terlambat sekitar 10 menit.

Di NTT, khususnya kampung-kampung di Flores Timur dan Lembata, setahu saya romo-romo tidak marah meskipun banyak umat yang terlambat. Maklum, orang desa harus mengurusi kebun, ternak dsb. Belum lagi harus jalan kaki ke gereja.

Hanya saja, umat yang terlambat itu biasanya punya kesadaran untuk tidak maju sambut komuni. Jika terlambat hingga homili atau khotbah imam. Kalau masih kyrie atau gloria masih dibolehkan komuni. Prinsip ini masih saya pakai sampai sekarang di Jawa.

Lebih baik terlambat daripada tidak misa sama sekali! Begitu alasan pemaaf di NTT. Rupanya pastor asal NTT yang bertugas di Salib Suci itu, Romo Servas, masih menggunakan kearifan lokal NTT untuk 'memahami' umat yang terlambat. Bisa saja ban bocor di jalan, bukan? Bisa juga umat paroki lain yang belum tahu jadwal misa.

1 comment:

  1. Di Injil dikisahkan ada orang cacat yang datang pas Yesus sedang berkhotbah. Orang orang sudah berkumpul saking ramainya si cacat ga bisa masuk. Sampai dia diturunkan dari atap. Yesus menghentikan khotbahnya untuk menyembuhkan si cacat dan mengampuni dosa2nya.

    ReplyDelete