24 November 2017

Surat kertas jadi barang langka

Kapan terakhir kali Anda menerima surat kertas? Bukan surat elektronik. Surat pribadi, bukan surat dinas atau penawaran produk dan semacamnya?

Hem... bisa saya pastikan di jaman now yang serba digital ini hampir tidak ada lagi surat pribadi. Menulis surat pakai tulisan tangan, masukkan amplop, tempel prangko... kirim lewat kantor pos. Tidak mungkin lagi memasukkan ke kotak surat karena sudah tidak ada lagi.

Selama tahun 2017, yang usianya tinggal sebulan ini, saya hanya terima SATU surat. Pengirimnya Cak Kris, wartawan senior RRI Surabaya. Isinya meminta saya menulis artikel pendek untuk katalog beberapa pelukis Sidoarjo yang hendak pameran di Surabaya.

Tanggalnya 27 Januari 2017. Wow... sudah lama banget. Saya kebetulan nemu karena bongkar tumpukan kertas di kantor. ''Saya terpaksa tulis surat itu karena baterai HP-ku mati,'' ujar Kris yang juga dikenal sebagai kurator seni rupa di Surabaya dan Sidoarjo itu.

Satu-satunya surat ini masih mendingan. Tahun lalu tidak ada surat kertas. Praktis sejak akhir Agustus 2013 saya tak lagi mendapat surat kertas khas old school. Tepatnya ketika Ibu Siti Riyati, pelukis senior yang akrab disapa Eyang di Ngagel Jaya Selatan, meninggal dunia. Tiga tahun saya tinggal bersama Eyang yang fasih bahasa Belanda, Inggris, dan lebih suka berkomunikasi dengan Jawa krama inggil itu.

Eyang yang rumahnya super luas itu tentu saja sangat mampu membeli HP alias ponsel. Beli mobil juga bisa lah. Tapi almarhumah yang kelahiran 1933 itu lebih suka menulis surat atau catatan. Setiap hari. Surat-surat itu kemudian dikirim ke sejumlah kenalan, mantan murid, hingga kerabat.

Surat atau pesan untuk saya biasanya ditaruh di atas meja. Biasanya mengingatkan ada agenda pameran, pengajian, pertemuan RW 3 dan sebagainya. Sebaliknya, saya juga diminta menulis surat atau pesan kalau tidak pulang. Ke mana, untuk apa, pulangnya kapan dsb.

''Eyang Yati itu memang punya bakat menulis. Surat-suratnya enak dibaca dengan tulisan tangan miring ke kanan yang indah. Khas orang-orang lama,'' ujar Mas Yanto, pelukis yang sering menerima surat dari si Eyang.

Saya sering mengajari Eyang untuk menulis pesan pakai SMS saja. Lebih mudah dan cepat. Langsung dibalas. Kalau pakai surat lama baru sampai. Malah sering terjadi surat hilang di jalan. ''Gak enak SMS itu. Saya lebih suka telepon langsung dan pakai surat,'' kata mbah yang doyan berlanggan majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat sejak gadis hingga tutup usia itu.

Begitulah. Surat kertas kini tinggal kenangan. Anak-anak muda generasi milenial mungkin belum pernah melihat wujud surat yang pakai prangko. Atau menerima surat dari teman atau keluarga via pos. Sebab sistem komunikasi digital atau seluler di jaman now memang jauh lebih efektif ketimbang via surat lawas.

Tidak perlu menunggu dua tiga hari, seminggu atau dua minggu. Dalam hitungan detik kita bisa mengirim surat elektronik (email) dengan siapa saja, di mana saja. ''Anehnya, sekarang ini janjian sama orang malah sering mbeleset. Beda dengan dulu ketika belum ada smartphone yang canggih,'' ujar Cak Kris.

3 comments:

  1. Dulu waktu masih belajar di luar negeri, saya berhubungan jarak jauh dengan seorang gadis. Karena belum ada internet untuk orang awam, berkomunikasi harus dengan surat. Makan waktu 10-12 hari untuk menyeberangi lautan Pasifik. Telepon mahal sekali, jadi harus dijatahi seminggu sekali. Itupun hanya beberapa menit. Setelah 10-12 hari lewat, kita menunggu tukang pos datang dengan hati berdebar-debar. Kalau sekarang, tinggal buka email, skype / faceTime / whatsApp. Berhubungan jarak jauh menjadi mudah.

    ReplyDelete
  2. Terakhir dapat surat tahun 2004 an.dari fans radio.

    ReplyDelete
  3. luar biasa memang revolusi teknologi informasi yg kita nikmati sekarang. benar2 mengubah kebiasaan umat manusia.

    ReplyDelete