27 November 2017

Sulitnya mencari pembantu jaman now

Sudah lama beberapa ibu gedongan mengeluhkan betapa susahnya cari asisten rumah tangga (ART). Istilah baru untuk PRT: pembantu rumah tangga. Banyak sih pengusaha penyalur pembantu, baby sitter dan sejenisnya di kota besar.

Tapi menemukan pembantu yang cocok, dan kerasan? Ini yang sulit. Zaman dulu para PRT alias ART ini umumnya betah tinggal bersama majikan. Bertahun-tahun. Sampai punya anak. Sampai tua. Sering dianggap keluarga sendiri.

Jaman now? Pembantu yang bisa bertahan satu tahun saja sudah hebat. Biasanya jelang Lebaran, pembantu-pembantu ini mudik dan... hilang seterusnya. Yang balik lagi ke rumah majikan kurang 10 persen.

ART-ART ini sudah pasti balik lagi ke kota karena butuh penghasilan tetap. Tapi biasanya mereka mencari majikan baru yang dianggap lebih cocok. Plus beban kerja yang lebih ringan. Tapi bayaran sama atau lebih tinggi. Bisa juga cari kerja di pabrik, jaga toko, atau kerjaan lain di luar urusan rumah tangga.

Fenomena ini sebenarnya sudah mulai terasa sejak pertengahan 90an. Cuma tidak sehebat sekarang. Dan itu ada kaitan dengan keberhasilan wajib sekolah 9 tahun di Indonesia. (Saya kurang suka istilah wajib belajar 9 tahun. Bukankah semua orang wajib belajar sampai mati?)

Dengan wajib sekolah 9 tahun, gratis di sekolah negeri, otomatis wawasan para gadis remaja ini jauh lebih terbuka ketimbang gadis-gadis yang hanya tamatan SD. Bahkan biasanya setamat SMP, lanjut SMA atau SMK atau MA. Tentu saja para lulusan SMA dari desa-desa ini enggan jadi ART. Mereka lebih suka jadi art worker semacam penyanyi dangdut dan sejenisnya.

Tapi masih banyak kok lulusan SMA yang jadi pembantu di kota besar? Nah, berdasarkan survei saya, yang enteng-entengan, bukan survei beneran ala LSI, sebagian besar pembantu usia muda (lulusan SMA) ini janda muda. Usianya di bawah 24 tahun. Rata-rata punya anak satu.

''Saya kerja untuk membiayai anak saya di kampung,'' ujar seorang mantan ART yang kabur dari majikannya di Surabaya Barat. ''Saya juga pernah jadi TKI,'' katanya.

Jadi TKI pun sebetulnya sama-sama ART alias bekerja sebagai pembantu juga. Tapi upahnya lebih tinggi ketimbang ART di Jakarta atau Surabaya atau Malang. Gaji bulanan ART di Malaysia di atas upah minimum buruh di Surabaya yang Rp 3,2 juga itu. ''Tapi kangen sama anak dan orang tua,'' katanya.

Lantas, mengapa Mbak ART ini sering gonta-gonti majikan? ''Kalau gak cocok ya cari majikan baru,'' ujarnya enteng.

Perlahan tapi pasti, Indonesia ini mulai mengarah ke kehidupan ala orang Barat. Saya selalu perhatikan film-film Amerika atau Eropa tidak ada yang mamanya ART atau pembantu di rumah. Sang aktor biasanya ke dapur untuk memasak makanan untuk pacarnya. Atau si cewek yang masak sendiri di dapur. Atau mamanya si aktor itu yang masak.

Mungkin karena di Barat yang namanya ART diperlakukan sama dengan pekerjaan-pekerjaan lain dengan gaji yang tinggi. Jam kerja, beban kerja, kontrak, hingga job description... harus dibuat sejelas-jelasnya. Itu yang belum ada di Indonesia.

4 comments:

  1. Bagus toh? Krn kalau tidak PRT diperlakukan semena-mena. Skrg posisi tawar mereka lebih tinggi. Di Barat kebanyakan pekerja2 RT ialah imigran gelap krn yg penduduk asli malas bekerja jadi tukang bersih2 atau tukang cuci (walaupun cucinya pakai mesin) atau tukang masak. Bayarannya tetap relatif tinggi krn mereka kan hrs makan juga. Tetapi jarang sekali rumah2 menggunakan PRT tetap, kecuali yang berpenghasilan $500,000 lebih per tahun. Kalau kelas menengah, biasanya lakukan pekerjaan rumah sendiri.

    ReplyDelete
  2. bagus? saya juga setuju. karena selama ini posisi pembantu memang lemah dan rentan tanpa regulasi yg melindungi mereka. ini juga jadi bahan refleksi keluarga2 kelas menengah atas kita.

    orang2 kita masih mau jadi pembantu tapi di malaysia hongkong taiwan arab dsb.

    ReplyDelete
  3. Ini juga peluang kyaknya unt.adik adik yg msh skolah.kursus atau kuliah.bsa partimer buat nungguin bayi dan balita.bersihin rumah dan kamar mandi.dlsbg.nya.peluang juga unt.usaha siap saji dan frozen food.hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah ada servis dari GoJek, kan, namanya GoClean, Go ini itu macam2.

      Delete