28 November 2017

Siapa suruh berdoa minta hujan

Saya cukup sering berdoa minta hujan pada Oktober dan November lalu. Maklum, suhu lagi panas ekstrem. Begitu banyak orang Surabaya dan Sidoarjo mengeluhkan suhu yang sudah mendekati 40 celcius. Tapi... doa-doa itu belum dikabulkan oleh Sang Mahakuasa Alam Semesta.

Maka, saya menjadi sering banget minggat ke Trawas Mojokerto. Kawasan pegunungan yang tingginya 800an meter dari muka laut. Suhunya memang enak banget untuk tidur nyenyak. Kontras dengan di Surabaya.

Saking seringnya naik, Mbak Hasanah yang sudah saya anggap keluarga di kawasan Jolotundo heran. Jangan-jangan ada masalah di bawah. Benar. Masalahnya ya suhu yang panas ekstrem. Tidak bisa tidur.

Sang surya, ada doa atau tidak, terus bergerak ke selatan. Gerakan semu matahari karena yang bergeser sebenarnya bumi. Akhirnya permintaan saya mulai dikabulkan Gusti Allah. Hujan mulai turun di Surabaya dan Sidoarjo. Dahsyat!

Saking derasnya, air tergenang di mana-mana. Surabaya terendam parah Kamis lalu. Minggu giliran Porong yang terendam air hingga satu meter. Jalan Raya Porong di kawasan lumpur jadi sungai. Rel kereta api tidak bisa digunakan.

Pagi ini ada laporan bahwa Berbek Waru juga banjir. Genangan setinggi pinggang orang dewasa. Wuih...

Cuaca saat ini memang ekstrem. Selama dua bulan panas ekstrem, diimbangi dengan hujan yang juga ekstrem. Oh ya... tidak jauh dari warkop ini hampir 800 rumah di Tambakrejo, Tambaksawah, dan Tambaksumur ambruk diterjang angin puting beliung pada Rabu sore pekan lalu.

Bukankah kita yang berdoa minta hujan? Setelah dikasih hujan, mengapa menyalahkan hujan? Saya pun merenung. Serba salah kita orang ini. Ibarat makan buah simalakama. Tidak hujan panasnya ekstrem, hujan sedikit saja sudah banjir.

''Paling enak itu ya hujan tapi tidak banjir,'' kata Maya asal Gedangan Sidoarjo.

Hehehe.... Manusia memang suka enaknya sendiri. Sementara alam juga punya rumus keseimbangan sendiri.

No comments:

Post a Comment