03 November 2017

Roti Paulus yang legendaris di Surabaya

Pagi ini saya ketemu Roti Paulus di sebuah warkop kawasan Waru Sidoarjo. Ah... jadi ingat almarhum Ibu Riyati di Ngagel Jaya Selatan Surabaya yang biasa sarapan roti ini. Saya juga selalu kebagian tugas membelikan Roti Paulus di Jalan Dinoyo 154 Surabaya.

"Ojo lali... Roti Paulus lho. Jangan roti yang lain," begitu pesan eyang yang saya menganggap saya keluarga sendiri.

Sejak dulu Roti Paulus memang bermarkas di Dinoyo 154. Tidak jauh dari jembatan BAT yang terkenal itu. Sekarang merek yang ditonjolkan adalah Roti Pioneer. Tapi orang lawas macam eyang yang meninggal pada usia 80 tahun itu adalah Paulus.

Ingat Paulus, ingat roti! Kalau di Flores, ingat Paulus ingat Perjanjian Baru. Rokor gefkol testim tifi: roma korintus galatia efesus kolose tesalonika timotius titus filemon. Ingat pelajaran agama Katolik di kampung halaman ketika SD dan SMP.

Mengapa eyang kok doyan banget Roti Paulus? Enak dan awet, katanya. Juga murah. Bu Yati yang pernah mengalami pendidikan Belanda dan Jepang itu sudah pernah mencoba macam-macam merek roti produksi Surabaya dan kota lain. Tapi tidak ada yang seperti Paulus, katanya.

"Mungkin karena selera saya sudah terbentuk selama puluhan tahun. Jadi, sulit pindah ke merek yang lain," katanya.

Saya memang pernah beberapa kali membawa roti merek baru dari minimarket. Kemasan dan tampilannya lebih cerah dan menggoda. Tapi setelah dicicipi, eyang yang seniman lukis ini kurang puas. "Beli Paulus aja," katanya.

Sejak itulah saya selalu mampir ke markas Roti Paulus di Jalan Dinoyo 154. Membeli roti cadet istimewa yang masih hangat untuk eyang. Saya sendiri suka roti tawar gandum karena teksturnya agak kasar dan tebal. Beda dengan roti tawar merek lain-lain.

Setelah mencoba roti tawar gandum Paulus barulah saya percaya bahwa makan roti itu bisa kenyang. Buang air besar lancar. Karena seratnya masih utuh. Beda dengan roti yang bukan gandum.

Dua minggu lalu saya ngobrol dengan Liauw alias Koh Jiang di kawasan Trawas Mojokerto. Lelaki Tionghoa ini rumahnya di Buduran Sidoarjo. Aha... ternyata Liauw masih famili dengan pemilik Roti Paulus itu.

"Itu sih roti yang berjaya di masa lalu. Sekarang ini masih bertahan tapi kalah bersaing dengan merek baru," ujarnya diplomatis.

Koh Jiang ini rupanya tidak tertarik membahas Roti Paulus. Padahal saya sangat tertarik karena sering makan. "Gak enak dibicarakan karena menyangkut keluarga sendiri," katanya. "Mending kita bahas Prabu Airlangga aja," ujarnya.

Yo wis.

2 comments:

  1. Saya tahunya roti Tjwan Bo yg dijual keliling oleh pengedar bersepeda. Doyan donat bertabur bubuk gula. Entah masih ada gak.

    ReplyDelete
  2. Saya dulu kenalnya juga roti Tjwan Bo yang dekat toko Metro, mulai awal tahun 60-an muncul roti Petra dijalan Kemuning.
    Saya hampir tiap hari makan roti dan kue eropa, sebab anak saya suhu bikin kue, Patissier, atau confiseur meister.
    Soal makan saya tidak pernah rewel, bahkan makan bagi saya hanyalah keterpaksaan saja, supaya tidak mati kelaparan.
    Kalau disuruh memilih diantara, kue eropa, kue cina ( bikang, kue-ku, pia, dll. ) atau kue indonesia, maka saya selalu memilih kue bali dan kue jawa. Entah mengapa kue2 Indonesia zaman now rasanya lain dengan zaman old.
    Apakah bahan atau cara membuatnya berbeda, ataukah karena sekarang disuguhinya satu piring penuh, sampai mbelenger. Cara membungkusnya ataupun menyajikannya pun berbeda, dulu masih pakai daun pisang, sekarang pakai plastik.
    Dulu bawa uang saku hanya 15 sen, setalen, maksimal satu suku, jadi hanya cukup untuk membeli 1 biji jemblem di jawa, di Bali kue yang sama disebut pulung-pulung. Enaknya kalau dimakan ketika masih hangat, sehingga kalau digigit isi gulajawa nya bisa muncrat. Aneh gula aren di jawa disebut gula jawa, dan di Bali disebut gula bali. Rahasia enaknya kue indonesia, saya yakin terletak pada kelapa, gula bali, pandan dan nangka. Tidak perlu vanilli atau micin.

    ReplyDelete