12 November 2017

Perseka Waru Mundur dari Liga Askab Sidoarjo

Yang namanya kompetisi sepak bola di Indonesia selalu panas. Mulai dari Liga 1 hingga pertandingan bola kelas tarkam. Kompetisi internal Liga Askab Sidoarjo 2017 pun makin lama makin panas. Padahal tujuan utama liga tertinggi di Kabupaten Sidoarjo ini murni untuk pembinaan pemain muda.

Total ada 30 tim peserta kompetisi. Mereka terbagi dalam kelas utama, kelas satu, dan kelas dua. Yang paling keras tentu kelas utama alias kelas tertinggi. Saya biasa menonton di Lapangan Banjarsari Buduran setiap akhir pekan.

Wuih... saling jegal antarpemain, protes wasit, saling dorong, hingga mutung alias mogok main. Wasit terpaksa merogoh banyak kartu kuning. Ada juga kartu merah meskipun saya lihat wasitnya cenderung membiarkan permainan kasar di lapangan.

Sayang, kompetisi yang seharusnya jadi tontonan akhir pekan itu diwarnai aksi tidak terpuji. Perseka Waru memilih mundur dari kompetisi. Padahal tim asal Desa Kepuhkiriman ini dikenal sebagai salah satu klub terbaik di Sidoarjo. Perseka pun kerap menyumbang pemain-pemain bagus untuk Kabupaten Sidoarjo.

Ada apa dengan Perseka? Pihak Askab PSSI Sidoarjo enggan menyebutkannya. Namun bisa diduga Perseka kecewa dengan keputusan wasit dalam satu laga penting. Ganjalan ini gagal diselesaikan pihak askab dan panitia pelaksana (panpel).

''Perseka sudah mengirim surat menyatakan mundur dari kompetisi internal,'' ujar Ibnu Hambal, sekretaris Askab PSSI Sidoarjo, saat saya hubungi via telepon. Tidak disebut alasan mundurnya Perseka dari Liga Askab Sidoarjo.

Yang pasti, pengurus askab sudah koordinasi dengan pandis (panitia disiplin) untuk membahas kasus ini. Khususnya mencari sanksi sesuai dengan tingkat kesalahannya. Perseka bakal degradasi?

''Saya tidak tahu. Soal itu (sanksi) jadi kewenangan pandis. Askab hanya meneruskan surat dari Perseka yang menyatakan mundur,'' kata tokoh bola Kota Delta yang juga pemilik PS Bligo Putra Candi itu.

Dengan mundurnya Perseka, maka peserta kelas utama tinggal 9 tim. Bligo Putra, Tiga Putra Agung, Pesawad Waru, Putra Bungurasih, Tunas Jaya Sepande, Sinar Harapan, Cakra Buana, Trisula Tanggulangin, dan New Star Salam Sukodono.

Mundurnya Perseka sekaligus membuat jumlah laga masing-masing-masing klub berkurang satu. Mestinya 9 kali menjadi 8 kali. ''Kami sudah surati semua tim yang isinya pertandingan melawan Perseka dianggap tidak ada. Pengelola lapangan juga sudaj disurati,'' kata Pak Benu, sapaan akrab Ibnu Hambal.

Sedih juga mendengar kabar mundurnya Perseka dari Liga Askab Sidoarjo. Maklum, saya sangat sering ngopi-ngopi di warkop yang berada di kompleks Lapangan Perseka, dekat pintu gerbang Perumahan Rewwin Waru. Saya juga kerap membahas kiprah klub ini yang selalu berhasil membina pemain-pemain muda. Pelatih-pelatihnya pun banyak mantan pemain top Persebaya.

Mudah-mudahan kasus Perseka segera dicarikan jalan keluar terbaik. Demi masa depan anak-anak dan remaja yang sudah lama mengukir mimpi menjadi pemain sepak bola masa depan.

No comments:

Post a Comment