28 November 2017

Paus Fransiskus atau Pope Francis atau Papa Francesco

Koran pagi ini memberitakan Paus Fransiskus mengunjungi Myanmar. Pemimpin umat Katolik sedunia itu juga menyambangi pengungsi Rohingya. Juga dijadwalkan melawat ke Bangladesh.

Ada teman bertanya di warkop kawasan Rungkut Surabaya. Nama paus yang benar itu siapa? Fransiskus atau Francis atau Francesco atau Franciscus atau Frans atau.... ?

Semuanya benar, jawab saya.

Kalau media berbahasa Inggris ya pasti ditulis Pope Francis. Media bahasa Indonesia ya Paus Fransiskus. Bahasa Malaysia pakai Pope Francis persis bahasa Inggris.

Dari dulu Malaysia tidak punya terjemahan kata pope yang artinya paus. Mereka menganggap paus itu ya ikan besar yang biasa diburu para nelayan Lamalera di Lembata NTT itu. Paus yang di Vatikan tetap saja Pope.

Selain Malaysia, Brunei, dan negara-negara yang tidak punya umat Katolik, sejak dulu Gereja Katolik di seluruh dunia selalu melakukan penolakan nama-nama permandian (santo santa) serta berbagai istilah. Agar cocok dengan gramatika, khususnya sistem bunyi bahasa nasional setempat.

Karena itu, orang Katolik di Indonesia pakai Fransiskus, bukan Francis, bukan Francesco. Bukan pula Franciscus (pakai c) karena bunyi fonem C dan K berbeda dalam bahasa Indonesia. Paus Yohanes Paulus, bukan Paus John Paul, bukan Joannes Paulo dsb.

Orang Katolik di Indonesia pakai Yohanes bukan John. Paulus bukan Paul. Yakobus bukan James. Matius bukan Matthew atau Matthaeus (Jerman, jadi ingat pemain bola Lothar Matthaeus yang top banget di masa lalu).

Albertus bukan Albert. Benediktus bukan Benedict. Lambertus bukan Lambert atau Lamberto. Sisilia bukan Caecilia. Lukas bukan Luke. Dan seterusnya....

Mengapa Pope diterjemahkan menjadi Paus? Jangan lupa, Indonesia dulu dijajah Belanda. Karena itu, kata PAUS dari Belanda yang berarti POPE itu dipungut ke dalam bahasa Indonesia. Mudah diucapkan karena bunyi dan tulisannya sama persis dengan bahasa Indonesia.

Tapi kok Paus di Vatikan disamakan dengan paus yang ikan itu? Tidak juga. Semua bahasa di dunia selalu punya kata-kata yang sama tapi artinya lebih dari satu. Kalimat itu selalu ada konteksnya. Kalau disebut Paus Fransiskus tentu tidak ada kaitan dengan ikan.

Sayang sekali, tradisi transliterasi dan penyerapan kata/istilah yang dilakukan Gereja Katolik sejak tempo doeloe itu mulai digerogoti oleh orang Katolik sendiri. Perhatikan saja nama-nama orang Katolik di Pulau Jawa. Banyak yang pakai Peter, padahal seharusnya Petrus. James seharusnya Yakobus. John seharusnya Yohanes.

No comments:

Post a Comment