28 November 2017

Ketika romo menjadi bapak (lepas jubah)

Wajah di situs berita nasional itu sangat saya kenal. Sandyawan Sumardi. Tapi tidak lagi pakai embel-embel SJ di belakang namanya. Juga tidak ada sebutan romo seperti dulu. Cuma ditulis tokoh masyarakat, ketua LSM, dan semacamnya.

Jangan-jangan Sandyawan ini sudah lepas jubah? Tidak lagi jadi romo jesuit? Jadi awam alias orang biasa? Saya pun mengirim pesan kepada seorang romo teman akrab Sandyawan.

''Iya... Sandyawan sudah bukan romo lagi,'' tulisnya. Singkat tapi jelas maknanya.

Saya pun tidak banyak bertanya lagi. Misalnya: Mengapa mundur? Apakah punya istri (dan anak)? Nggak enak dibicarakan. Biasanya hal-hal sensitif macam ini dibicarakan sambil ngopi. Tidak bagus kalau lewat telepon atau WA atau SMS. Ora ilok!

Melihat wajahnya, saya jadi teringat masa lalu. Tahun 96 atau 97 ketika Romo Sandyawan sering diundang ke Jawa Timur. Mahasiswa Katolik saat itu sangat terinspirasi dengan model pastoral ala Romo Sandy. Bersama Institut Sosial Jakarta (ISJ), Sandyawan sangat aktif melakukan advokasi dan pendampingan para korban.

Korban penggusuran hingga korban politik orba. Sepak terjang Sandyawan membuat rezim orba gerah. Dia pun dituduh menyembunyikan pentolan Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang sedang diburu aparat. Sandyawan kemudian ditangkap dan diadili. Vonisnya bebas.

Suatu ketika Sandyawan yang romo itu ceramah di Paroki Situbondo. Gerejanya belum lama dibakar massa tak dikenal. Usai ceramah tentang korban, pemihakan kepada wong cilik, option for the poor, Romo Sandyawan memimpin misa minggu palem.

Kebetulan saya ditunjuk jadi solis untuk mazmur. Wow... saya ingat betul homili Romo Sandyawan yang halus tapi menarik. Dia bukan tipe penceramah yang suka bicara keras, meledak-ledak. Suaranya agak lirih tapi isinya berbobot. Khas Jesuit yang intelektual.

Selepas reformasi, setahu saya Romo Sandyawan tidak lagi diundang ceramah di Jatim. Apalagi romo yang jadi teman akrabnya pun dipromosikan untuk tugas yang lebih menasional di Jakarta. Di media massa pun Sandyawan jarang muncul. Apa kabar ISJ?

Akhirnya, tidak sengaja saya melihat foto Sandyawan di laman berita daring. Sandyawan yang tak lagi pakai embel-embel SJ dan romo. Tapi saya percaya dia tetap punya komitmen untuk mendampingi para korban seperti pada era orde baru.

Yang jadi masalah, orang Katolik di Indonesia biasanya kurang respek terhadap romo yang lepas jubah. Para eksim (eks imam) ini sering dijauhi meskipun punya rekam jejak masa lalu yang cemerlang. Akibatnya, banyak eksim yang tertekan atau stres. Mereka pun memilih pindah ke kota lain agar tidak dikenal mantan umatnya.

Semoga Bapak Sandyawan tetap semangat dan selalu diberkati Tuhan dalam pelayanan di masyarakat. (Dalam bahasa Jawa, kata ROMO dan BAPAK artinya sama. Bedanya romo itu krama, bapak ngoko.) Kaum marginal atau wong cilik yang jadi mitra pelayanan Sandyawan selama ini justru kaum ngoko, bukan kromo inggil.

No comments:

Post a Comment