30 October 2017

Sulit membaca novel O sampai tamat

Tidak lama sebelum meninggal dunia, komponis Slamet Abdul Sjukur meminta saya membaca novel O karya Eka Kurniawan. Bagus sekali, katanya. Baca juga Bilangan Fu... kalau belum baca.

Saya pun mampir ke lapak buku bekas di Jalan Semarang Surabaya. Wow, novel kopian (bahasa halus untuk bajakan) banyak banget. Termasuk O karangan Eka Kurniawan. Saya pun membeli bersama Bilangan Fu dan beberapa novel Pramoedya.

Sampai di rumah buku-buku itu tidak langsung dibaca. Beda banget dengan masa ketika belum ada ponsel yang terhubung internet dengan media sosial yang heboh. Saya usahakan nyicil membaca tapi tidak ada yang tamat.

Novel O ini yang paling susah. Tidak sampai 30 menit... buyar. Buku kopian itu kemudian disimpan begitu saja. Berbulan-bulan. Tahunan. Pak Slamet yang doyan buku-buku berat pun meninggal dunia. Saya tak punya semangat untuk menyelesaikan O yang berat itu.

Entah mengapa, pagi tadi saya berniat membaca novel O. Kalau bisa sih sampai tamat. Apalagi sedang libur di kawasan Seloliman, Trawas, yang adem. Di tengah hutan menghijau segar karena baru disiram air hujan beberapa hari lalu.

Ternyata tidak mudah mengembalikan konsentrasi di era digital dan internet ini. Ada saja godaan untuk mengecek ponsel meskipun sinyal lemah. Tapi saya usahakan membaca buku kertas (bukan e-book), majalah, koran, untuk terapi. Meskipun old school, media cetak punya banyak kelebihan dibandingkan media digital. Begitu kata banyak pakar yang selalu dikutip Bre Redana di kolom-kolomnya.

Deo gratias! Di dekat air sumber Kili Suci itu saya bisa melahap banyak halaman. Sekitar 50 persen isi buku yang lebih 400 halaman itu. Terapi baca buku terpaksa distop karena datang mas Sembodo, teman lama, yang kini ikut mengasuh sebuah pesantren baru di Trawas.

Sembodo antusias bercerita tentang kesibukannya ke Jawa Barat untuk melakukan terapi korban narkoba. "Mereka jangan dibilang pasien tapi santri. Kita angkat derajat mereka biar punya kepercayaan diri," ujar orang Mojokerto ini.

Sembodo ini tipikal tukang cerita. Kalau sudah bicara sulit dihentikan. Bisa berjam-jam dia cerita apa saja yang dianggap menarik. Meskipun belum tentu lawan bicaranya suka dengar.

Apa boleh buat.... Novel O yang rada nyeleneh dan surealis ini belum bisa saya selesaikan. Semoga bisa tamat paling lama tiga hari.

1 comment:

  1. Saya sudah baca Cantik itu Luka, dan Manusia Harimau. Luar biasa permainan bahasa Eka Kurniawan. Bahasa Indonesia yg kosa katanya terbatas (dibandingkan Inggris) menjadi hidup dinamis berkat imajinasinya yang kreatif dan liar.

    ReplyDelete