16 October 2017

Satlak Prima Layak Dibubarkan

Indonesia gagal total di SEA Games 2017 di Malaysia Agustus lalu. Cuma peringkat kelima dari 11 negara. Perolehan medali emas Indonesia jauh di bawah Malaysia yang juara umum. Indonesia pun kalah jauh dengan Singapura yang penduduknya tidak lebih banyak dari Kabupaten Sidoarjo.

Hasil SEA Games ini terburuk dalam sejarah. Saya pun langsung mengirim pesan WA ke kemenpora. Kecewa berat. Sekaligus kritik soal birokrasi olahraga yang panjang. Bagaimana bisa dapat emas kalau peralatan sejumlah cabang olahraga terlambat dikirim? Dana belum cair? Koordinasi tidak jalan?

Semua ini tentu tanggung jawab pemerintah. Kemenpora. Di bawahnya lagi ya satlak prima. Sejak awal satlak tidak jalan. Bahkan sekadar menganalisis kekuatan lawan pun gagal. Target medali meleset jauh. Buat apa ada satlak prima? Begitu antara lain curhat saya ke kemenpora.

Saya sebetulnya berharap pengurus satlak prima mundur setelah SEA Games. Lah, gagal total kok masih bertahan! Saya tunggu-tunggu kok tidak ada yang mundur. Achmad Sucipto ketua satlak prima cuma kasih penjelasan yang normatif. Padahal saya sih ingin pensiunan tentara ini mundur.

Di olahraga itu ukuran keberhasilan atlet sangat jelas. Tidak abu-abu kayak di politik atau pemerintahan. Bayern gagal ya pelatih Ancelotti dipecat... karena tidak mundur sendiri. Mourinho dulu juga dipecat Chelsea. Banyak banget pelatih yang diputus kontraknya karena gagal mempersembahkan kemenangan.

Daripada dipecat lebih baik mundur sendiri. Itu yang ditunjukkan pelatih timnas USA dan Cile pekan lalu. Kasih kesempatan pelatih lain. Ciptakan suasana baru.

Nah, rupanya Achmad Sucipto belum paham tradisi itu. Gagal total di SEA Games tapi tidak mundur. Malah banyak bicara di koran dan televisi.

Syukurlah, kemenpora ternyata membuat gebrakan di luar bayangan saya. Bukannya memecat Sucipto, kemenpora justru membubarkan satlak prima. Luar biasa! Langkah yang sangat tepat. Memotong jalur birokrasi olahraga yang kontraproduktif.

Sucipto akhirnya bicara. "Silakan ganti saya. Tapi jangan bubarkan satlak prima," katanya. Alasannya blablabla....

Syukurlah, banyak pengurus besar olahraga yang mendukung gebrakan pemerintah. Salah satunya Brigjen Pol Johny Asadoma, ketua PB Pertina, yang tak lain mantan petinju amatir terbaik Indonesia asal NTT. Dulu Bung Johny tampil di Olimpiade 1984 di Los Angeles. Gagal dapat medali tapi penampilan Johny saat itu sangat meyakinkan.

"Dulu tidak ada satlak prima, tapi petinju-petinju Indonesia berjaya di Asian Games,'' ujar Bung Johny sembari menyebut nama-nama petinju top masa lalu. Namanya sendiri tidak disebut. Hehe....

Apakah pembubaran satlak prima bisa menyelesaikan masalah? Bisa membuat Indonesia berprestasi di Asia? Setidaknya juara atau nomor dua di SEA Games? Tidak bisa instan begitu. Tapi setidaknya rantai birokrasi jadi lebih sederhana.

Pemerintah pusat cukup koordinasi dengan KONI dan pengurus besar (PB) semua cabang olahraga. Tidak perlu lewat satlak atau lembaga sejenis yang terbukti tidak efektif.

Di masa Orde Baru hanya KONI yang menjadi satu-satunya induk semua olahraga. KONI yang mengatur semuanya. Termasuk koordinasi dengan semua PB. Dan hasilnya luar biasa. Indonesia selalu juara umum SEA Games. Indonesia jauh di atas negara-negara seperti Malaysia, Thailand, Filipina. Apalagi dengan negara-negara-negara yang dulu bergolak kayak Vietnam, Kamboja, Laos, Myanmar.

2 comments:

  1. Ini sebagai bandingan artikel mengenai USOC (US Olympic Comittee) dan bagaimana organisasi nirlaba yg tidak menerima dana satu sen pun dari pemerintah pusat itu bisa membagi-bagikan dana secara efektif kepada persatuan2 olahraga di Amerika.

    ReplyDelete
  2. Joss... sistem USA ini perlu dipelajari dan diadaptasi di NKRI. Soalnya sampai sekarang belum ada sistem pembinaan yg mapan dan berhasil. Atlet2 yg menang di Asia atau olimpiade kayak badminton lebih karena bakat besar si atlet plus tradisi badminton kita yg kuat.

    Kebetulan saya pernah jadi pengurus organisasi olahraga di sidoarjo plus editor olahraga. Saya juga kenal beberapa atlet sidoarjo yg tampil di SEA Games kemarin. Makanya saya cepat panas kalau melihat ada yg gak beres di kontingen kita. Yang paling parah itu di SEA Games 2017.

    ReplyDelete