29 October 2017

Romo Thobi Kraeng SVD sudah tiada

Terlalu sering berakhir pekan di luar Surabaya dan Sidoarjo membuat saya kehilangan informasi penting dari Keuskupan Surabaya. Maklum, belakangan saya lebih sering misa di paroki-paroki yang masuk Keuskupan Malang. Sengaja ngadem karena Surabaya sedang panas-panasnya.

Minggu pagi tadi, 29 Oktober 2017, saya ikut ekaristi di Gereja Salib Suci, Wisma Tropodo, Sidoarjo. Yang pimpin misa Romo Servas Dange SVD asal Flores. Pastor ini membacakan intensi misa. Salah satunya untuk ketenteraman jiwa Romo Thobi Kraeng SVD yang meninggal dunia 40 hari lalu.

Oh... Tuhan Allah! Pater Thobi ternyata sudah selesai tugasnya di dunia. Kembali ke pangkuan Sang Pencipta.

Saya pun terpekur mengenang romo asal Lembata NTT ini. Romo murah senyum yang sempat saya kira berasal dari Manggarai karena namanya ada Kraeng. Pater Thobi Muda Kraeng SVD. Sampai ada beberapa pembaca blog ini yang kasih koreksi bahwa Romo Thobi itu asli Lembata. Sama dengan saya.

Meskipun sama-sama asal Lembata, dan tinggal di Surabaya, kita sulit ngobrol lama dengan Pater Thobi. Juga pater-pater lain. Maklum, Pater Thobi ini konsultan keluarga di Keuskupan Surabaya yang tamunya sangat banyak. Tamu-tamu antre di kantornya di belakang Gereja Katedral HKY Surabaya.

Malu kalau kita ngobrol lama dengan Pater Thobi yang sudah jadi milik umat Katolik. Bukan lagi milik orang Lembata, Flores, atau NTT. Ini pula yang menyebabkan hubungan orang NTT, yang bukan romo, dengan para romo atau suster asal NTT tidak bisa terlalu dekat.

"Romo Thobi itu konsultan keluarga yang luar biasa. Jarang ada pastor yang punya kebijaksaan dan pemahaman seperti beliau," ujar Ibu Joice yang juga staf di Komisi Keluarga Keuskupan Surabaya.

Namanya juga masalah keluarga, ada beragam keluhan yang disampaikan umat. Ada orang muda yang mau menikah tapi pasangannya beda agama (disparitas cultus). Ada yang beda gereja kayak Katolik dengan Protestan (Pentakosta, Karismatik dsb). Ada yang telanjur hamil di luar nikah. Macam-macam.

Saya perhatikan, saat ngobrol santai di ruangnya Bu Joice, tetangganya Romo Thobi, satu per satu keluar dengan senyum. Enteng. Ibarat domba yang dituntun gembala baik ke padang rumput hijau.

Saya pun tidak pernah dengar kata-kata negatif tentang Romo Thobi. Juga tidak pernah dengar kalau Romo Thobi sakit berat atau dirawat di rumah sakit.

Maka, saya kaget nian ketika Romo Servas menyebut intensi misa untuk 40 hari meninggalnya Romo Thobi Kraeng SVD. Saya hanya bisa berdoa semoga pater yang ramah ini berbahagia bersama Bapa di surga. Amin!

Requiem... aeternam.

No comments:

Post a Comment