08 October 2017

Melihat wanita yang kesurupan

Semalam suntuk ada seorang wanita muda kerasukan di kawasan Jolotundo Trawas. Berkali-kali orang itu histeris. Meronta-ronta. Bicara ngalor ngidul gak karuan.

''Saya ini Putri Cempo,'' ujarnya dalam bahasa Jawa ngoko.

Dua pria berbadan besar memegang tubuh wanita kurus seksi itu. Yang pakai baju merah merapalkan ayat-ayat suci. Mbak Khasanah menaburkan garam dapur ke tubuh sang wanita. Biar cepat keluar, katanya.

Karuan saja banyak wisatawan di Jolotundo - kebetulan purnama dan bulan Suro - ramai-ramai menonton pemandangan langka itu. Mas yang dari Surabaya, dengan logat Madura, terus berusaha menjinakkan si pengganggu itu.

''Wong ayu... mohon keluar. Jangan ganggu anak ini. Kasihan dia masih punya anak kecil di rumah,'' pinta mas berbadan subur itu.

''Nggak mau... nggak mau... nggak mauuuuu....'' teriak wanita itu dengan suara nyaring. Suara orang lain alias dhemit itu.

Saya yang sempat tidur pulas pun terbangun. Kaget tapi juga takjub dengan kenyataan itu. Maklum, sudah lamaaa banget tidak melihat sendiri orang kesurupan alias kerasukan setan.

Setelah dirayu cukup lama, wanita dua anak itu akhirnya siuman. Tidak lagi jerit-jerit. Suami (atau pacarnya?) dan beberapa teman mengajak pulang. Naik sepeda motor.

Eh... ketika hendak duduk di jok, wanita itu langsung berlari kencang. Cepat sekali kayak sprinter profesional. Turunan. Kontan saja sang suami dan teman-temannya kalang kabut. Lalu berusaha mengejar. Ada yang menyusul pakai motor.

Akhirnya si perempuan itu ambruk. Dibopong ke tempat semula di dekat gazebo tempat tidur saya. Mas Madura itu kembali bertugas menangani sang pasien. ''Serangannya hebat. Tunggu saja setelah subuh insyaallah akan hilang,'' katanya.

Wong ayu itu masih menjerit dan ngomong ngaco tapi tidak seheboh sebelumnya. Apa boleh buat, rombongan dari Mojokerto itu pun harus sabar menunggu sampai subuh. ''Rupanya wanita itu ingin punya ilmu tapi gak kuat. Dia kurang pasrah kepada Allah,'' kata mas yang telaten itu.

Orang beriman, apa pun agamanya, menurut mas itu, hendaknya tidak neko-neko. Serahkan semuanya kepada Tuhan. Tidak usah pakai dukun, klenik, pesugihan, penglaris dsb. Sebab efeknya akan panjang.

Akhirnya... subuh pun tiba. Benar saja. Wanita itu siuman kembali. Biasa-biasa saja. Dia tidak tahu bahwa selama hampir empat jam dia kerasukan dhemit dan jadi tontonan orang banyak.

''Orang kalau punya pegangan sebaiknya tidak tidur di atas jam 12 sampai subuh. Bahaya kalau ada serangan,'' kata mas yang tinggal di kawasan Ampel Surabaya itu.

Mata saya makin berat. Giliran saya tertidur pulas di kawasan hutan yang sejuk segar itu.

No comments:

Post a Comment