09 October 2017

Makin NGINGGRIS di Bulan Bahasa

''Berbicara tentang bahasa, may be I am the one who love learning language so much. For me, language is amazing and have its uniqueness which differentiates from one to another. Padahal aku lulusan Industrial Engineering yang banyak bicara masalah bagaimana pemecahan suatu problem dalam dunia industri....''

Itulah kutipan tulisan Abdul Basyir yang membahas bahasa Osing khas Banyuwangi. Itu baru alinea pertama. Kalau anda ikuti sampai selesai, amboi... gado-gado English-English-nya luar biasa.

Membaca tulisan ini, ketika iseng cari Osing di google, saya pun teringat bulan bahasa. Setiap Oktober adalah Bulan Bahasa Indonesia. Kebetulan hampir tiap hari saya lewat di depan kantor Balai Bahasa Surabaya yang terletak di Siwalanpanji Buduran Sidoarjo.

Saya juga ingat Pak Amir Mahmud, kepala Balai Bahasa, yang baru pensiun. Ia selalu menekankan pentingnya berbahasa Indonesia yang baik dan benar. ''Wartawan seharusnya ikut membantu sosialisasi bahasa Indonesia yang baik dan benar,'' katanya.

Bahasa Inggris tidak penting? Pasti sangat penting. Sebab English sudah lama jadi bahasa internasional yang paling luas penggunaannya. Bukan Mandarin, Arab, Spanyol, atau Prancis. Tapi gunakanlah English sesuai dengan konteksnya.

Alangkah bagusnya jika Abdul Basyir menulis artikel Osing itu dalam bahasa Inggris yang utuh. Seratus persen English. Jangan setengah-setengah! Jangan English 30 persen seperti di artikel itu. Toh, pembaca artikel itu orang Indonesia juga.

Bahasa gado-gado seperti itu namanya NGINGGRIS. Begitu kritik Remy Sylado, sastrawan dan musisi yang menguasai belasan bahasa asing. Remy sendiri tidak main oplos bahasa kayak Basyir itu. Nginggris ini penyakit rendah diri khas bangsa yang terlalu lama dijajah.

Dengan NGINGGRIS, campur-campur bahasa Indonesia, orang itu merasa hebat nian. Pamer kemampuan bahasa Inggris. Kelihatan seperti orang kota metropolitan ala London atau New York.

Bulan Bahasa 2017 ini belum bergema di Sidoarjo dan Surabaya. Di sekitar Balai Bahasa juga tidak ada greget kalau bulan ini bulan khusus untuk memuliakan bahasa Indonesia. Beberapa mahasiswa yang saya tanya bahkan tidak tahu ada bulan bahasa. Tahunya malah bulan Suro.

Sementara itu, NGINGGRIS saat ini dirayakan di media sosial. Juga iklan-iklan di ruang publik. Orang Indonesia tidak merasa bahwa NGINGGRIS itu sejenis penyakit jiwa. Semakin NGINGGRIS semakin hebat. Kayak si Vicky Prasetyo itu.

No comments:

Post a Comment