05 October 2017

KA sudah kalahkan pesawat

Sudah lama banget saya tidak naik kereta api. Tepatnya sebelumnya Ignasius Jonan jadi dirut PT KAI. Sekitar 10 tahun. Jangankan kereta jarak jauh, kereta jarak dekat seperti Surabaya-Sidoarjo pun tak pernah.

Bukan apa-apa. Dulu saya sangat menderita ketika naik KA ekonomi dari Surabaya ke Jakarta dan sebaliknya. Luar biasa menderita. Penumpang berjubel. Dempet-dempetan. Tidur di bawah kursi. Belum lagi puluhan pedagang asongan yang bolak-balik lewat untuk jualan.

''KA sudah berubah. Sejak Jonan jadi dirut. Sudah gak parah kayak dulu,'' kata teman yang langganan sepur.

Baguslah. Saya juga baca di koran dan media online. Bahkan, dulu saya paling sering menelepon Pak Darsono, humas KAI Daop 8 Surabaya, untuk wawancara dan bahas masalah kereta api. Banyak ilmu yang saya dapat dari Pak Darsono yang sudah pensiun itu.

Tapi ya itu... saya tidak pernah naik kereta api. Pun tidak ingin. Padahal saya beberapa kali menghadiri peresmian jalur KA baru. Nonton doang!

Hingga akhirnya... saya terpaksa naik kereta api. Dari Pasar Turi. Kelas ekonomi. Dibayarin panitia Rp 49 ribu. Ikut rombongan sekitar 20 wartawan untuk lokakarya minyak dan gas di Blora, Cepu, dan Bojonegoro. Termasuk meninjau ladang minyak Banyuurip milik Exxon yang lagi berjaya di Indonesia itu.

Wow... kereta api tahun 2017 memang beda dengan zaman sengsara dulu. Sistem boarding ala pesawat. Ruang tunggu bagus. On time pula. Semua penumpang punya nomor kursi. Tidak akan lebih.

Yang membuat saya geleng-geleng kepala adalah ketepatan waktu. On time schedule. Cuma molor 7 menit saja! Padahal ini KA ekonomi. Kelas paling murah.

Saya pun langsung bandingkan dengan pesawat LA yang sering saya naiki ke NTT. Kalah jauh untuk ketepatan waktunya. Di Juanda pesawat-pesawat ke Indonesia memang hobi delayed. Molornya pesawat itu bisa sampai 2 jam. Bahkan saya pernah alami molor 3 jam. Para penumpang sempat ngamuk di ruang tunggu.

Kok bisa KA ekonomi hanya molor 7 menit?

Itulah kehebatan direksi PT KAI. Gebrakan Jonan sejak awal 2000 bisa kita petik hasilnya sekarang. Kualitas layanan KA (sekali lagi, kelas ekonomi) sudah setara pesawat terbang. Jauh melebihi apa yang saya bayangkan.

Perkiraan waktu tempuh 2 jam juga nyaris persis. Cuma molor 10 menitan. Lagu lama Iwan Fals sudah tidak cocok. ''Biasanya kereta terlambat... dua jam sudah biasa.....''

Syair lagu Iwan Fals ini hanya cocok di tahun 80an hingga pertengahan 2000an. Ada baiknya Iwan Fals sesekali mencoba naik kereta api. Sebaiknya incognito alias menyamar. Untuk merasakan perubahan radikal di tubuh kereta api kita.

Pulangnya, saya dan teman-teman pakai mobil. Sopirnya tipe pengebut. Waktu tempuh 4 jam kurang 7 menit. Alias dua kali lebih lama ketimbang naik sepur.

Ayo... ayo....naik kereta api!

1 comment:

  1. Wah jadi ingat naik kereta api Surabaya - Banyuwangi waktu liburan SMA akhir thn 1980an , demi menyeberang ferry ke Bali. Kereta api penuh sehingga mau ke toilet pun tidak bisa jalan, akibatnya tersiksa selama 8 jam menahan kencing.

    ReplyDelete