29 October 2017

Dengar Ndherek Dewi Maria, Ingat Rosario

Ndherek Dewi Maria jadi lagu penutup misa di Gereja Katolik Salib Suci, Wisma Tropodo, Kecamatan Waru, Sidoarjo, Minggu (29 Oktober 2017) pagi. Merdu. Kor bapak ibu lansia menyanyikan dengan baik. Organ pengiringnya juga bagus.

Sayang, sebagian besar jemaat sedang berangsur pulang karena Romo Servas Dange SVD sudah kasih berkat penutup dan pengutusan. Maka lagu yang justru paling bagus ini (ketimbang lagu-lagu lain) tidak bisa dinikmati umat. Hanya untuk mengantar umat pulang ke rumah. Mestinya lagu Ndherek Dewi Maria ini dibawakan selepas komuni.

Bukankah sekarang masih Oktober? Bulan Rosario? Kok lagu Maria cuma satu ini? Di ujung ekaristi pula.

Saya pun duduk menikmati lagu devosi berbahasa Jawa itu. Lagu favorit imam-imam senior asli Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jogjakarta. Salah satunya mendiang Monsinyur Hadiwikarta mantan Uskup Surabaya.

Mendengar lagu ini, saya seperti ditegur oleh Bunda Maria. Karena selama Oktober ini, Bulan Rosario, saya sangat jarang berdoa rosario. Mungkin tidak sampai lima kali. Itu pun tidak lengkap 50 Salam Maria.

Ada saja alasan untuk tidak mendaraskan doa paling dasar di lingkungan Katolik itu. Lupa, ngantuk, capek, sibuk, dsb. Padahal rosario lengkap tidak sampai 20 menit. Saya justru kuat menonton sepak bola di TV yang durasinya hampir dua jam.

Mea culpa... mea culpa... mea maxima culpa!

Hidup di Jatim yang katoliknya sangat minoritas ini memang butuh disiplin pribadi ekstra. Sebab tidak akan ada orang yang mengingatkan kita untuk berdoa rosario, ekaristi, doa angelus, novena, aksi puasa dsb dsb.

Beda dengan di NTT, khususnya Flores. Ada saja orang yang ajak kita untuk ikut Kontas Gabungan (doa rosario bersama) plus menyanyikan lagu-lagu devosi sejenis Ndherek Dewi Maria itu.

No comments:

Post a Comment