16 October 2017

Anies dilantik, Ahok dipenjara

Anies dan Sandi resmi jadi gubernur DKI Jakarta beberapa menit lalu. Para pendukungnya tentu saja gembira ria. Mereka larut dalam joget Maumere. Begitu yang ditulis media daring seperti kompas.com.

Melihat senyuman Anies dan Sandiaga di televisi, saya jadi ingat Ahok. Mantan gubernur ini sedang menjalani hukuman penjara selama dua tahun. Buah dari geger politisasi agama yang masif di Jakarta.

Gara-gara politik SARA itulah, dengan unjuk rasa berjilid-jilid, mulai 212 dan seterusnya... Ahok akhirnya kalah di pilgub. Sudah kalah, masuk penjara pula. Maka reputasi Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama yang tegas dalam menata ibukota pun seakan tergerus.

Karena itu, wajarlah jika warga Jakarta penduduk Ahok tidak mudah melupakan Tamasya Almaidah dan berbagai jargon politisasi agama yang mengantar Ahok ke pintu penjara. Sulit move on. Sulit melupakan kekalahan politik di pilkada kemarin.

Djarot, gubernur pengganti Ahok, pun memilih berwisata ke NTT. Tepatnya di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Flores. Melepaskan beban berat setelah melayani warga Jakarta hingga 15 Oktober 2015. "Saya sekarang warga biasa," kata mantan wali kota Blitar itu.

Saya kenal Djarot ketika masih menjadi anggota DPRD Jawa Timur di Surabaya. Orangnya demokratis. Berjiwa besar. Punya pemikiran yang konseptual. Beda dengan kebanyakan anggota dewan yang mirip karyawan perusahaan. Djarot punya pengalaman panjang di pemerintahan sejak awal reformasi.

Lantas, mengapa Djarot tidak mau menghadiri pelantikan Anies dan Sandiaga? Ya... itu tadi, proses pilkada Jakarta memang terlalu panas dengan politisasi agama. Yang membuat seorang Ahok harus masuk penjara.

Kondisi ini membuat start awal Anies dan Sandi menjadi tidak asyik. Gubernur Anies sepertinya tidak punya masa bulan madu seperti pejabat-pejabat baru lainnya.

Bagaimana bisa bulan madu kalau gubernur lama lagi disekap di ruang tahanan brimob? Bagaimana bisa bulan madu kalau pendukungnya masih menulis komentar-komentar SARA di media sosial?

"Ngapain Djarot ke NTT yang mayoritas kafir?" begitu salah satu komentar yang saya baca di kompas.com beberapa menit lalu.

No comments:

Post a Comment