16 October 2017

Ampun! Panaaas! 41 Celcius!

Panas? Ampun!

Begitu antara lain judul berita di Jawa Pos edisi Minggu 15 Oktober 2017. Tentang balap sepeda GFJP Suramadu 2017 dengan peserta terbanyak di Indonesia. Medannya rata, tapi panasnya yang luar biasa.

Koran itu menulis cuaca di Madura saat balapan itu di kisaran 39,7 derajat celcius. Suhu sempat menembus 41 derajat celcius saat memasuki kawasan wisata tambang kapur Bukit Jaddih di Kecamatan Socah Bangkalan.

Wow... 41 derajat celcius! Itu panas yang sangat terik. Membakar di tengah hari. Kalau tubuh tidak kuat, kurang minum, bisa semaput.

Suhu di Madura sebetulnya tak jauh berbeda dengan Surabaya. Kalaupun ada selisih, sangat tipis. Beda satu derajat lah.

Tidak heran masyarakat Surabaya dan Sidoarjo sejak tiga pekan ini mengeluhkan suhu yang menyengat. Siang panas ekstrem, malam pun gerah nian.

Saya sendiri sulit tidur sejak 10 hari terakhir. Selalu terbangun pukul 01.00 lebih sedikit. Lalu langsung mengguyur tubuh dengan air yang tidak sejuk. Badan tetap saja tidak bisa didinginkan.

Musim kemarau sedang di puncak teriknya. Sebab posisi matahari di atas Surabaya dan wilayah lain yang koordinatnya sama. Sang Surya lagi bergerak ke selatan. Untuk memanggil sang hujan.

Maka, saya pun minggat ke kawasan Trawas. Tepatnya Desa Seloliman yang dekat situs pemandian Jolotundo itu. Membunuh panas terik dari Sidoarjo.

Benar saja. Tidak sampai tujuh menit saya bisa tidur pulas. Makin lama makin dingin. Sekitar 20 derajat celcius. Di tengah udara segar yang dihasilkan pohon-pohon di tanah milik Perhutani itu. Nikmat banget!

Ternyata bukan cuma saya yang ngalih ke kaki Gunung Penanggungan. Mas Hari, Mas Samsul, dan beberapa orang Surabaya yang lain bahkan sudah lama memilih ngadem di Trawas.

Pak Gatot yang pensiunan panitera PN Sidoarjo malah sudah punya vila khusus di daerah Biting. Heri Biola, seniman musik dan guru, yang dulu punya sanggar di Sawotratap Gedangan Sidoarjo juga tinggal di Trawas yang sejuk. "Saya tetap kerja di Sidoarjo. Tapi tinggal saya istri di sini," ujar Heri yang asli Krembung.

Pantesan... jalan raya dari arah Ngoro ke Trawas didominasi kendaraan bermotor plat L (Surabaya) dan W (Sidoarjo).

Semoga hujan segera turun.

No comments:

Post a Comment