24 September 2017

Zow Min Pengungsi Myanmar yang Buddha di Sidoarjo

Ratusan ribu warga Rohingya terpaksa mengungsi gara-gara kebijakan pemerintah Myanmar. Gara-gara isu itu, teman-teman wartawan rajin mendatangi Rusunawa Puspa Agro di Jemundo, Taman, Sidoarjo. Beberapa televisi menurunkan pasukan lengkap dengan mobilnya. Siaran langsung dari Jemundo.

Rumah susun di Puspa Agro memang menampung sekitar 140 pengungsi dari berbagai negara. Pakistan, Afghanistan, Iran, Somalia, termasuk Myanmar. Pencari suaka asal Myanmar ada 13 orang. Dua belas orang beragama Islam, etnis Rohingya, dan satu orang beragama Buddha.

Nah, yang Buddha ini namanya Zow Min. Saking seringnya bertemu, ngopi di warkopnya mbak Sri di Puspa Agro, saya jadi akrab dengan dia. Zow Min pun paling luwes ketimbang pengungsi-pengungsi lain. Potongannya kayak wong Jowo, tinggi 160an cm. Suka senyum dan lancar bahasa Indonesia meskipun ucapannya sering gak jelas. Khususnya huruf R.

''Saya ingin kerja di sini saja. Indonesia ini aman dan tenang. Nggak seperti di negara saya,'' ujarnya seraya tersenyum.

Zow Min tiap hari membantu beberapa tukang warung. Dulu kalau gak salah dia cawe-cawe di warungnya bu Ida. Belakangan di warung pojok. Biasa disuruh-suruh memikul air galonan atau barang-barang berat. Hasilnya bisa untuk beli rokok atau tambahan uang saku.

''Jatah kami sebulan cuma Rp 1.250.000 dari IOM. Cuma untuk bertahan hidup saja,'' ujarnya. IOM dan UNHCR yang selama ini mengurusi kebutuhan para pengungsi mancanegara itu. Termasuk yang membayar sewa rumah susun kepada Pemprov Jatim.

Mengapa Zow Min yang Buddha ikut meninggalkan negaranya bersama orang Rohingya? Sudah pernah saya tulis di sini. Dia jadi sebatang kara karena istri dan anaknya hilang. Tak jelas rimbanya.

Meskipun bukan muslim, Zow Min mengaku tidak punya masalah dengan teman-temannya yang Rohingya. Maklum, nasib mereka sama saja. Sama-sama menunggu negara ketiga yang bersedia menerima mereka. ''Kalau bisa sih saya tinggal di Indonesia saja,'' katanya.

''Lho, orang Indonesia itu juga banyak yang miskin. Jutaan orang jadi TKI di Malaysia, Hongkong, Timur Tengah. Nggak mungkin lah bisa menampung ribuan pengungsi,'' kata saya. Menirukan omongan mbak Sri yang ingin agar pengungsi-pengungsi ini segera pergi ke negara lain. Sebab masih banyak orang Jatim yang lebih membutuhkan rumah susun itu.

Sambil asyik ngobrol, wartawan Kompas TV masuk ke pos keamanan. Minta dipanggil koordinator pengungsi Rohingya. ''Zow Min ini juga dari Myanmar tapi Buddha,'' ujar saya. Teman dari Kompas TV itu pun tampak tertarik dengan Mas Paijo, sapaan akrab Zow Min.

Kemudian Paijo alias Zow Min beranjak ke rusunawa untuk memanggil temannya, Muhammad Suaib, ketuanya Rohingya. Dialah yang selama ini jadi narasumber para wartawan. ''Kami sudah bosan di sini. Cuma makan tidur aja. Keluar juga harus izin. Tidak boleh kerja,'' katanya.

Yah... namanya aja pengungsi, pencari suaka, ya begitu. Masih untung dapat jatah bulanan, tinggal di rusun yang bagus di Sidoarjo. Ketimbang ratusan ribu pengungsi Rohingya yang tinggal di tenda-tenda di Bangladesh dsb.

Suab dkk dari Myanmar tinggal di Sidoarjo sejak 2013. Mereka sudah di-screening oleh IOM dan UNHCR agar bisa dikirim ke negara ketiga. Tapi tidak ada kepastian berangkat. Ironisnya, kondisi di Rakhine daerah asal mereka makin tidak karuan. Mata dunia pun tertuju ke sana.

Suaeb, Zow Min... dan kawan-kawan hanya bisa menanti dan menanti. Sampai kapan?

4 comments:

  1. Seandainya saya Zow Min, ada dua opsi yang saya akan lakukan.
    1. Kembali pulang ke Burma. Menyesali kesalahan ikut2-an latah mengungsi kenegara orang lain. Dadi wong minoritas- immigrant ( dalam hal-ku wong cino ) ora penak urip ning negorone wong liane.
    2. Secepat mungkin kabur dari Rusunawa Puspa Agro. Berharap ada orang Indonesia yang baik hati, yang mau menolong pindah kedesa udik diseluruh kepulauan Indonesia, disana minta tolong ke Kepala desa, supaya bisa mendapatkan KTP Aspal. Tanpa uang jasa, ya mustahil. Kalau desanya mayoritas Islam, ya bersedia untuk disunat. Kalau Kristen, ya ngaku kristen. Kalau ke Bali, ya sembahyang:
    Wang kakak Wang kalung, ndas bonglak dicaplok bangkung. Syukur ciri2 tampangnya Zow Min tidak ada bedanya dengan teman2-ku :
    Untung, Jalil, Supeno, Buang, Selamet, Bodos, Widodo,dll.-nya.

    Kita orang Asia masih punya rasa sungkan numpang ditanahnya orang lain. Kalau orang kulit putih, dasar bajingan, sudah ngerampok tanah orang lain, bukannya merasa malu, malahan ngaku jadi Boss.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bahaya bung...
      Tahun lalu ada pengungsi Afghanistan (kalo gak salah) nekat melakukan seperti usulan itu. Dia membaur di daerah Candi Sidoarjo, ngajar bahasa inggris, pacaran dsb. Tapi petualangannya gak lama. Dia dicokok polisi. Kalau melanggar lagi, dia bisa diusir dari rusunawa di Sidoarjo.

      Ada juga yg gantung diri karena stres.

      Delete
    2. Bung Hurek, para pengungsi yang terdampar di Indonesia adalah Immigrant generasi pertama ( pertama kali mencoba hidup diluar negaranya ).
      Mereka naiv, dikira manusia didunia semuanya baik, welas asih seperti Sidharta Gautama. Kalau mau Aspal-aspalan, harus belajar dari kita orang tenglang, yang sudah 7 generasi hidup dinegeri orang.

      Delete
  2. Namanya juga perjuangan untuk mencari kehidupan yg lebih baik. Maka dia terjang badai dan gelombang... jadi pengungsi di tanah orang untuk menemukan sepotong surga. Mau pulang ke negaranya takut sama polisi dan tentara.

    ReplyDelete