02 September 2017

Surabaya kota nomor 10

Ada baiknya juga berada di daerah yang tidak punya sinyal internet. Bisa fokus membaca koran atau buku. Berita-berita kecil yang biasanya dilewatkan di Surabaya akhirnya bisa dipelototi. Termasuk iklan-iklan yang banyak itu.

Salah satu berita ringan di koran lama, Jawa Pos 28 Agustus 2017, membuat saya senyum sendiri di kawasan perhutani Trawas Mojokerto. Berita tentang seminar motivasi di kampus Universitas NU Surabaya. Dahlan Iskan, mantan menteri BUMN, seperti biasa jadi bintang di seminar itu.

Pak Bos, sapaan Dahlan Iskan di kalangan karyawan JP Group, mengatakan gap ekonomi Jakarta dan Surabaya semakin jauuuh. Surabaya bukan kota terbesar kedua. "Surabaya itu peringkat ke-10," kata mahagurunya sebagian besar wartawan di Indonesia itu.

Lalu, kota nomor 2 sampai 9? Jawabannya: Jakarta Jakarta Jakarta.... "Jakarta dan Surabaya bukan lagi langit dan bumi, tapi langit dan sumur," kata ayah dua anak yang sempat ganti hati di Tianjin Tiongkok itu.

Gap ekonomi, bisa juga perputaran uang ini, sudah lama terjadi di Indonesia. Uang menumpuk di ibukota NKRI. Alih-alih menyebar ke luar Pulau Jawa, di kota-kota besar Jawa saja cuma kecipratan sedikit. Dulu, awal 2000-an, Pak Dahlan selalu bilang Surabaya itu kota nomor 6 di NKRI. Nomor 1 sampai 5 Jakarta.
Artinya, gapnya makin lebar? Rupanya begitu yang ditangkap Pak Dahlan. Dan... ini bukan sekadar guyon suroboyoan karena diucapkan Pak Dahlan yang sempat jadi dirut PLN, kemudian menteri BUMN. Beda dengan pernyataan 'Surabaya kota nomor 6' ketika Pak Bos belum jadi pejabat di pusat.

Presiden Jokowi pasti sadar akan gap ekonomi yang luar biasa ini. Pun sudah banyak program untuk memajukan daerah-daerah. Tapi rupanya kabinet kerja belum berhasil mengurangi ketimpangan itu. Jakarta justru makin meleset jauh meninggalkan kota-kota lain.

Mungkinkah pemindahan ibukota NKRI dari Jakarta ke Kalimantan (atau kota lain di luar Jawa) bisa sedikit demi sedikit mengurangi gap ini? Kita tunggu.

No comments:

Post a Comment