24 September 2017

September memang bulan yang super panas

September memang bulan yang panas. Dari dulu juga begitu. Tapi sebagian besar orang Indonesia, khususnya Surabaya dan Sidoarjo, lupa dengan fenomena alam ini. Begitu banyak orang yang menggerutu. Bak orang Eropa dekat kutub utara yang setiap hari menikmati suhu ekstrem dingin.

Syukurlah, beberapa media di Surabaya selalu berinisiatif untuk menjelaskan siklus alam yang disebut EQUINOX ini. BMKG Juanda juga berusaha menjelaskan peristiwa setiap bulan September ini secara seserhana. Bahwa tiap 23 September posisi matahari berada di garis katulistiwa. Di atas daratan Indonesia.

Ya... terang saja cuaca begitu teriaknya. Menyengat. Apalagi di musim kemarau yang kering seperti tahun 2017 ini. Beda dengan tahun lalu yang masih banyak hujan di musim kemarau.

''Suhu di Surabaya meningkat hingga 34-35 derajat celcius,'' ujar Agatha dari BMKG Juanda di Sedati Sidoarjo.

Tapi rupanya banyak warga Surabaya yang termakan isu di media sosial. Katanya suhu bisa mencapai 40 derajat celcius. Super panas. Betul begitu? ''Hoax itu,'' kata Agatha.

Temperatur 37 celcius pun hanya pernah terjadi di NTT. Surabaya memang panas, apalagi September, tapi belum sampai 40. Gerakan penanaman pohon sejak wali kota Bambang DH hingga Risma lumayan membantu meredam suhu tinggi.

''Tapi di aplikasiku kok suhunya 43 derajat celcius?'' ujar Kris, warga Gedangan Sidoarjo.

Di papan digital Wonokromo pun sering tertera angka 38, 39, hingga di atas 40 celcius. Kok berbeda dengan versi BMKG? Jelas lah. Termometer dan alat-alat lain di BMKG pasti jauh lebih akurat.

Rupanya mata pelajaran lama, Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa (IPBA), perlu diajarkan lagi di sekolah-sekolah. Agar rakyat tidak kaget dengan gerakan semu matahari, equinox, rotasi bumi, revolusi dsb.

Bahwa matahari seolah bergerak ke selatan menuju titik 23,5 lintang selatan. Nanti kembali ke katulistiwa pada 23 Maret sehingga terjadi equinox lagi menjelang kemarau. September ini equinox untuk mempersiapkan musim hujan. Siklus alam yang sudah berjalan selama jutaan tahun silam.

Khusus di Indonesia, fenomena alam equinox yang ekstrem panas setiap September ini menjadi lebih panas lagi gara-gara selalu muncul isu PKI, komunis, ekstrem kiri, ateisme dan sejenisnya. Polemik nonton bareng film Pengkhianatan G30S PKI lagi ramai di Indonesia.

Karena itu, lagu lama September Ceria ciptaan James F. Sundah (vokal Vina Panduwinata) sebetulnya tidak cocok dengan suasana di Indonesia. Panas suhunya... panas politiknya. Apanya yang ceria kalau konflik ideologis tahun 1965 ini tidak ada ujungnya?

Semoga September cepat berlalu!

No comments:

Post a Comment