18 September 2017

Sayur kelor mulai disukai di Jatim

Tak jauh dari Stadion Jenggolo Sidoarjo, belakang ruko lama, ada taman yang luas. Selain mangga, terong, aneka bunga, ada juga kelor. Cukup banyak tanaman kelor yang batangnya lumayan besar. Masih hijau di musim kering ini.

''Kok tidak dibuat sayur? Enak banget lho!'' pancing saya.

Pak Yanto, pengurus taman dan tokoh perumahan, tertawa kecil. Saya pun maklum. Di Jawa memang orang tidak biasa makan jangan kelor. Tabu. Sebab tanaman yang biasa tumbuh di daerah kering itu biasa dipakai untuk menangkal ilmu sihir, ilmu hitam, jimat, dan sebangsanya.

Mayat-mayat orang yang dianggap punya banyak ilmu (hitam) pun biasanya dibersihkan dengan kelor. Orang-orang yang pakai susuk juga begitu alergi dengan kelor. Susuknya bisa hilang tuahnya.

Lain di Jawa, lain di NTT. Khususnya di Flores Timur dan Lembata. Kelor atau merungge (marunggai) atau motong (bahasa Lamaholot) justru sangat populer. Hampir tiap hari orang makan sayur kelor. Tanaman yang tumbuh liar di halaman, ladang, hutan... tanpa perawatan.

Cara memasaknya pun semudah mi instan. Cukup dimasukkan ke air mendidih, diaduk, dikasih sedikit garam dan bumbu. Beres. Rasanya enak dan segar menurut lidah NTT. Sayur kelor ini juga sering disiramkan ke jagung titi (semacam emping jagung khas Flores Timur dan Lembata).

Bisa menghilangkan ilmu sihir? Di NTT tidak ada kepercayaan itu. Dukun-dukun kampung yang dianggap sakti di NTT pun saya lihat doyan merungge. Toh ilmunya tidak hilang.

Di internet dan koran di Surabaya akhir-akhir ini sering diberitakan khasiat tanaman kelor. Banyak banget. Katanya mencegah jantung koroner, kanker, diabetes, sakit mata, dsb dsb. Buku-buku tentang kelor juga mudah dijumpai di toko buku.

Karena itu, sudah mulai ada inisiatif dari ibu-ibu PKK untuk mengolah kelor menjadi aneka makanan. Yang paling ramai di Sukorejo, Bungah, Gresik. ''Bisa dibuat cemilan, sayuran, minuman dsb,'' kata Sri Ludiana, pengurus PKK Sukorejo.

Awalnya tidak mudah meyakinkan masyarakat untuk mengonsumsi kelor. Apalagi yang sudah telanjur percaya dengan sihir, klenik, dan sebagainya. Namun perlahan-lahan cemilan dari kelor itu mulai disukai. Apalagi setelah beredar informasi tentang khasiat daun kelor di internet.

''Kalau saya sih gak akan makan kelor. Kelor di halaman rumah saya ini hanya untuk hijau-hujauan,'' kata Gunawan, warga Ngagel, Surabaya.

No comments:

Post a Comment