22 September 2017

Nonton film Pengkhianatan G30S PKI

Semalam saya nonton film Pengkhianatan G30S PKI yang sangat terkenal itu. Bukan nonton bareng tapi nonton sendiri. Di Youtube. Sudah lama film propaganda ini diunggah di Youtube.

Karena itu, acara nobar sebetulnya tidak relevan. Apalagi kalau nobar itu pakai instruksi seperti zaman saya sekolah dulu. Pasti ada agenda politiknya.

Lebih baik biarkan saja rakyat nonton film yang durasinya 3,5 jam itu. Bisa disaksikan kapan saja.... tidak harus September. Khususnya 30 September. Mau nonton sehari tiga kali atau 10 kali silakan. Tidak ada yang larang.

Apa yang menarik dari film bikinan sutradara Arifin C. Noer, atas pesanan orde baru, itu? Tidak ada. Maklum sudah sering kita nonton di masa orba dulu. Pakai layar tancap. Isinya sama dengan pelajaran sejarah versi orba, PSPB, buku putih dan berbagai dokumen versi orba lainnya.

Yang jadi masalah adalah narasi tentang G30S itu tidak lagi tunggal seperti di zaman Soeharto. Sejak reformasi muncul banyak kajian dan publikasi tentang kejadian yang mengubah wajah Indonesia itu. Sekaligus menjadikan Pak Harto sebagai presiden selama 32 tahun.

Lantas, mengapa panglima TNI getol meminta masyarakat untuk nonton bareng G30S PKI? Selain alasan sejarah seperti dikutip di televisi, panglima yang berasal dari TNI AD (di film ini pakai istilah Adri) jadi lakon protagonis. Aidit dkk dari PKI jadi antagonis yang jahatnya seperti setan.

Situasi politik global sudah jauh berubah. Perang dingin sudah lama berakhir. Komunisme sebagai ideologi bangkrut di mana-mana. Tapi sebagian besar orang Indonesia, khususnya pimpinannya, masih berpikir seakan-akan kita masih di tahun 1965 atau awal 1970an.

19 comments:

  1. Itulah fasisme. Cara paling gampang untuk membuat suatu masyarakat menjadi penurut ialah dengan menciptakan momok. Seperti anak2 kecil ditakuti dgn genderuwo.

    Jaman dulu Orba bisa mengontrol arus informasi. Jaman sekarang hehehe, bisa saja kalau negara mau dijadikan seperti Rusia atau Korea Utara, yg termasuk negara tidak kaya dan negara sangat miskin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kontrol Pemerintah Rusia terhadap rakyatnya masih kuat, namun kontrol tsb. tidak ada apa-apanya ketimbang kontrol yg dilakukan pemerintah Korea Utara dan RRT/RRC. Korut dan RRT/RRC lebih kuat dalam mengontrol rakyatnya ketimbang Rusia

      Mengapa? Karena Rusia sekarang bukan negara komunis yang bisa mengontrol penuh rakyatnya. Beda dengan Korut dan RRT/RRC. Kedua negara tersebut bisa mengontrol penuh rakyatnya karena mereka masih merupakan negara komunis.

      Delete
    2. Komunisme dan fasisme itu ada persamaannya, yaitu sama2 merupakan sistem totaliter. Rusia sudah bukan komunis tetapi setengah fasis di mans Putin mengontrol tindakan musuh2nya, seperti Pak Harto jaman Orba.

      Delete
    3. Russia sebetulnya bukan negara fasis atau setengah fasis. Rusia adalah negara berbentuk federasi. Sistem Pemerintahannya ialah Semi presidensial. Lebih baik dari bentuk negara fasisme dan komunisme. Namun, kepemimpinan Putin yang menyebabkan Rusia menjadi seperti negara setengah fasis.

      Kontrol Putin menjadi kuat karena mayoritas Masyarakat Rusia memilih dia menjadi pemimpin dan partainya (Rusia Bersatu/United Russia) menguasai lebih dari 50% parlemen di Rusia. Jika mayoritas masyarakat tidak mau memilih Putin dan partai oposisi menguasai parlemen, Putin akan kehilangan kontrol dan tidak akan bisa memimpin Rusia lagi.

      Delete
    4. Lha itu lho mas bro. Krn Putin maka menjadi setengah fasis. Seperti Pak Harto dulu, sistem pemerintahan ya presidensial, tetapi yang memilih presiden dari MPR, yang separuhnya ditunjuk presiden, hehehe. Lalu sisanya dari pemilu di mana yang dominan ialah partainya presiden, dan rakyat yang ga mau memilih Golkar diintimidasi. PNS yang ga memilih Golkar akan dikucilkan. Sama kira2 mengapa rakyat Rusia tetap memilih partainya itu. Wartawan yg berani menulis, matek. Pengusaha yang tidak mau bekerja sama, matek. Jd masyarakat ya mau tidak mau akan memilih Putin terus, spt dulu Golkar menang terus 70% lebih. Itulah namanya setengah fasis.

      Delete
    5. Zaman orde baru parlemen kita 95 persen orangnya pak harto plus abri plus golkar plus utusan daerah. Yang 5 persen itu dari PPP atau PDI yg mbalelo. Pengurus PPP dan PDI pun harus direstui dulu sama pak harto. Makanya indonesia saat itu betul2 dikontrol dalam genggaman rezim Orde Baru.

      Mungkin mirip di Tiongkok atau Sovyet. Sistem otoriter ini membuat pemerintah bisa melakukan apa saja. Yang agak bagus: pejabat2 mulai bupati wali kota atau gubernur atau menteri ditunjuk orang2 yg memang punya kompetensi. Setidaknya disekolahkan dulu di seskoad atau lemhannas. Sehingga mereka bisa kerja dengan baik meskipun tidak dipilih langsung oleh rakyat.

      Kalau sekarang pejabat2 hasil pemilu demokratis tapi banyak yg gak bisa kerja. Idealnya sih kompeten dan hasil pilihan langsung kayak bu risma di surabaya atau azwar anas di banyuwangi.

      Delete
  2. Yah... jadi ingat masa sekolah di flores timur. Adegannya sangat menakutkan untuk kita yg masih hijau. Membekas terus karena diputar ulang tiap tahun di tvri.

    Oh ya....film G30S PKI ini merupakan film pertama yg saya nonton dalam sejarah hidup saya. Sebab di Larantuka ibukota kabupaten Flores Timur tidak ada bioskop. Dulu kita hanya bisa nonton film versi video di salah satu toko milik baba Tionghoa... pake tiket kayak bioskop.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu tahun 1960 di Surabaya, setiap malam minggu mulai pukul 21.00, kita duduk di veranda, merindukan suara teriakan nyaring anak2 loper koran : Berita Minggu, Berita Minggu. Entah kenapa harus koran Berita Minggu. Kecuali itu majalah wajib tempo itu adalah Star Weekly. Saya ketagihan baca Star Weekly, karena ada cerita silat bersambungnya, kalau tidak salah ketika itu mungkin cersil Kim Tjoa Kiam, ada komik lucu2, Koh Put-on, atau Si Apiau.
      Edisi yang lebih tua, bisa saya dapatkan di gudang, tertata rapi chronologis. Tidak dibuang, karena masih laku dirombeng.
      Setelah selesai baca cersil, berikutnya membaca berita yang teraktual kala itu, yaitu tentang SM Kartosoewirjo, DI/TII, yang belasan tahun tidak bisa ditangkap oleh Mobrig dan TNI, konon kabarnya sebab Kartosoewirjo bisa menghilang, punya ilmu maya-maya.
      Saya ikut logika Bung Karno, lebih memilih istilah Gestok daripada G30S/PKI. Karena bukan cuma PKI yang pernah berkhianat terhadap NKRI. Kelompok2 yang lainnya juga pernah memberontak, berkhianat terhadap Pemerintahan Republik Indonesia yang Sah secara Konstitusional.
      Saya tidak mau mengungkap agama yang dianut oleh tokoh-tokoh dan pengikut2-nya.
      Kelompok2 yang juga pernah berkhianat :
      SM Kartosoewirjo, Kahar Muzakkar, Ventje Samual, Daud Beureuh, Dr. Somoukil, dan lain lainnya.
      PKI wis mathek, ora ilok ngilokke wong sing wis mathek.

      Delete
  3. Jangan salah, saya sangat anti komunis, karena mengenal dari dekat ideologi bangkrut yang membuat hampir satu milyar rakyat RRT menderita selamat bertahun-tahun, termasuk paman bibi saya yang sempat termakan propaganda Chairman Mao dan terusir dari tanah kelahiran mereka.

    Ironisnya, mereka yang memusuhi komunis dan menjadikannya momok menakutkan malah juga menjadi rejim totaliter yang mengontrol arus informasi, membebekkan masyarakat. Mereka yang menuduh komunis kejam malah melakukan pembunuhan dan pembersihan ideologi yang tak manusiawi, diiringi dengan menggunakan topeng agama, baik Islam maupun Katolik.

    Apa bedanya rejim fasis yang sekarang masih dipuja-puja beberapa jenderal, ketua Gerindra dan antek2nya, dengan PKI yang disetan-setankan? Intinya sama saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, begitulah mereka. Mereka seenaknya saja melakukan pembunuhan dan pembersihan ideologi dengan topeng agama. Tidak hanya islam dan kristen (katolik maupun protestan) saja. Tapi agama lain yang ada di Indonesia seperti Hindu, Buddha, dll. pun mereka pakai.

      Mereka tidak hanya memakai agama untuk melegalkan tindakan pembantaian yang tidak manusiawi tsb, tetapi juga sebagai alat/kontrol untuk mempengaruhi/mengontrol masyarakat demi kepentingan busuk mereka.

      Saya jadi berpikir, coba saja Tiongkok daratan utama (Maindland China) tidak dikuasai Komunisme. Tidak pimipin Ketua Mao. Pasti Tiongkok Daratan Utama dan Taiwan bersatu menjadi Tiongkok non komunis yang lebih baik. Dan tidak akan ada istilah 'antek-antek komunis' untuk etnis Tionghoa yang tinggal di Indonesia.

      Delete
    2. Kondisi thn 1930an-40an ketika ideologi komunis bangkit, ialah ekonomi dunia timpang dikuasai kapitalis2 dan kolonialis / imperialis. Maka itu rakyat miskin dan anak2 muda idealis mau mendukung partai yang mengusung ideologi tsb . Ketika masih berjuang, partai komunis di mana2 sangat disiplin . Tetapi begitu berkuasa disiplin tsb menjadi metode represi yg tidak demokratis. Dan setelah dicoba selama 40 thn akhirnya terbukti ideologi tsb bangkrut, dengan runtuhnya tembok Berlin dan bubarnya Uni Soviet.

      Sementara itu di negara2 kapitalis terutama Eropa barat timbul gerakan untuk menerapkan Sosialisme (bukan komunisme) dalam program2 kesejahteraan rakyat. Begitu juga di Amerika dengan adanya Social Security, Medicare / Medicaid, food stamps.

      Kompromi ini sangat bijaksana. Biarkan sistem kapitalis berkembang, tetapi harus diatur agar tidak terjadi KKN. Begitu juga saudara2 yg kurang beruntung akibat terpental dr lapangan pekerjaan atau kena kecelakaan atau sakit harus dibantu sampai dia mampu berdikari.

      Sayang jaman sekarang pun masih banyak manusia ideolog

      Delete
  4. Kemarin dulu saya nonton film dokumentasi tentang Vietnam dibuat oleh Ken Burns. Film ini menceritrakan sesungguhnya apa yang terjadi di Vietnam sejak masa kolonial Prancis sampai kabur ter-birit2-nya Amerika dari Saigon. Film ini justru menayangkan kekejaman serdadu2 Prancis dan serdadu2 Amerika terhadap kaum sipil Vietnam. Keangkuhan orang kulit putih terhadap orang Vietnam. Saya pernah melihat Ho Chi Minh dari jarak 2 Meter, ketika beliau diajak Bung Karno berkunjung ke Bali.
    50 tahun silam, setiap hari saya harus membaca surat kabar bahasa Jerman, berita aktual tentang perang Vietnam dan harus menterjemahkan ke bahasa Indonesia didepan abang-saya. Begitulah cara abang mengajar bahasa kepada saya.
    Setelah 42 tahun berlalu, baru pertama kali ada film sejarah tentang perang Vietnam, bukannya film komersial atau propaganda buatan Hollywood.
    Jika mau membuat Film G30S/PKI secara jujur, maka peran antek2 CIA harus diungkap, demikian pula tentang kebiadaban pembantaian massal.
    PKI adalah sebuah Partai Politik. Tidak perduli apa namanya, partai Politik tujuan tunggalnya adalah kekuasaan.
    Kommunisme adalah sebuah paham atau filosofi yang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan partai Politik.
    Semuanya sama rata, tidak ada exploitation de l'homme par l'homme, apakah idiologi semacam ini salah ??? Yang salah adalah manusianya, yang ditakdirkan bersifat egois. Kita bisa melihat contoh bayi2 yang berebutan mainan, yang kuat selalu yang menang.
    Jika Anda ingin memahami makna kommunisme sejati, silahkan masuk Biara Katholik, ikuti cara hidup para biarawan dan biarawati. Semua
    punya tugas, semua bekerja, tidak boleh ada yang nganggur enak2-an, semua hasil dibagi rata, saling tolong menolong.
    Saya pribadi tidak sanggup dan tidak mau cara hidup sebagai biarawan katolik, tetapi bukan berarti cara hidup atau idiologi mereka salah.
    Sewaktu saya sedang menulis komentar ini, ada orang Yehova yang mengetuk pintu, mau berdiskusi tentang Bibel. Saya bilang, maaf saya tidak ada Interesse tentang agama.
    Dia bilang; ini demi kebaikan anda dikemudian hari. Saya jawab; saya tidak tau pasti, apakah saya besok atau lusa masih hidup, kecuali itu, agama hanya bikin perselisihan !
    Di Eropa kita bebas berpendapat, di Indonesia mungkin rumah saya sudah terbakar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wow... terima kasih sudah komentar. Istilah KEMARIN DULU sangat populer di NTT tapi tidak biasa di Jawa. Artinya dua hari yg lalu. Hehe... saya jadi ingat gaya bahasa dan pilihan kata orang NTT yg bahasa melayu pasarannya agak lain dari lain.

      Begitulah... di Indonesia isu komunisme sosialisme PKI dan sejenisnya masih sangat sensitif dan berbahaya. Bahkan di kalangan dosen perguruan tinggi atau intelektual pun masih belum paham betul isme2 itu. Pemahaman umum dari wong buta huruf sampai jenderal ya seperti versi film Pengkhianatan G30S PKI itu.

      Salam seger waras.

      Delete
    2. Betapa dahsyatnya Propaganda Orba, sampai Bung Hurek pun tidak berani memakai istilah Komuni ( heilige Kommunion ). Istilah itu dahulu dikenal oleh kaum katolik Indonesia.
      Cari aman Kommunie diganti kata Eucharistie, sami mawon.
      Belum tiba saatnya orang Indonesia mampu berdebat dengan logika, apalagi kalau sudah menyangkut agama.
      Pokoke kowe nurut n meneng wae percoyo karo aku! Istilah halusnya: Mikul dhuwur, mendem jero.

      Delete
    3. Mikul dhuwur mendem jero... ojo neko neko ketimbang dibui cak.
      Pantesan wong tenglang gak gelem neko neko main politik... baba Ahok sing wani... yo amblas nang penjoro.

      Delete
    4. Filem Ken Burns itu disponsori dan ditayangkan di PBS, semacam BBCnya Amerika, yg menerima santunan pajak dr Pemerintah federal. Suatu masyarakat yg dewasa mau mengungkap kesalahan masa lalunya. Apakah bisa Pemerintah RI menyeponsori suatu film ttg G30S yg jujur? Melihat gelagat panglima TNI yg sekarang dan makin kerasnya gerakan Islamis ala Arab Saudi, kemungkinan tsb sangat kecil.

      Delete
    5. Di indonesia mustahil dalam waktu dekat ada rekonsiliasi peristiwa berdarah yg disusul dengan tindakan yg juga berdarah'' itu.

      Saya pernah menulis bahwa perlu 7 turunan (generasi) baru ada sikap dan pemikiran yg lebih sejuk. Sekarang baru 4 generasi. Generasi keempat pun masih TK atau SD.

      Kita tidak bisa berharap banyak pada generasi'' tua old school yang punya pengalaman traumatis G30S tahun 60an dan 70an.

      Sabar aja... tunggu sampai 70 atau 100 tahun lagi.

      Delete
    6. Peristiwa berdarah di Amrik ialah Perang Saudara tahun 1870. Satu juta orang mati, tatkala jumlah penduduk belum sampai 90 juta. Skala kurbannya kurang lebih dengan 1965 di Indonesia.

      Setelah itu, pihak yg kalah oleh Presiden Lincoln diberi bantuan untuk membangun kembali kota2 mereka yang diratakan oleh tentara Union dari pihak utara.

      Tetapi,hingga kini nyatanya, masyarakat di daerah Deep South, negara2 bagian eks Konfederasi, yg kulit putih masih sebagian besar memendam rasa jengkel, masih tidak terima. Masih merasa dan bersikap rasialis terhadap kulit berwarna hitam atau cokelat.

      Perdebatan masih berlangsung, apakah patung2 jenderal Selatan yg pecundang dan dianggap pemberontak oleh Utara itu masih boleh didirikan. Apakah sekolah2 dasar yg diberi nama Robert E. Lee, dan nama2 lainnya, boleh tetap
      menggunakan nama itu. Walaupun perang sudah berakhir hampir 150 thn yg lalu.

      Jadi, masih lama Bung. 100 tahun tak cukup.

      Delete
  5. Baguslah... masih ada saksi jehovah yg promosi kecap nomer siji dari rumah ke rumah di eropa. Jenengan mungkin dianggap cocok untuk diajak jadi propagandis dan anggotanya. Metode marketing ala SJ ini bisa menimbulkan gesekan kalo kebetulan yang didatangi itu orang fpi dan sejenisnya.

    ReplyDelete