26 September 2017

Indonesia tuan rumah Piala Dunia???

Indonesia mau jadi tuan rumah Piala Dunia 2034? Sebaiknya jangan. Melihat prestasi olahraga NKRI, khususnya sepak bola, Indonesia belum memenuhi syarat untuk jadi tuan rumah pesta sepak bola sejagat itu.

Jangankan Piala Dunia FIFA, jadi tuan rumah Piala Asia pun masih jauh lah. Kualitas sepak bola kita belum ada apa-apanya dibandingkan Jepang atau Korea Selatan. Belum lagi negara-negara Timur Tengah.

Jangankan di Asia, sekadar berkompetisi di Asia Tenggara saja belum sanggup. Padahal 11 negara Asean ini paling lemah di Asia.

Masih jelas dalam ingatan kita, Agustus 2017, timnas Indonesia gagal di SEA Games. Untuk kesekian kalinya dihentikan Malaysia. Timmas seperti tidak berkutik saat menghadapi Malaysia.

Di Piala AFF beberapa tahun lalu juga sama. NKRI keok di kaki Malaysia. Padahal kita pakai pelatih Eropa sekelas Alfred Riedl atau Luis Milla. Sebaliknya Malaysia hanya mengandalkan pelatih tempatan keturunan Tionghoa, Datuk Ong Kim Swee.

Indonesia belum bisa meraih emas SEA Games sepak bola sejak 1991. Sudah 26 tahun. Kapan bisa dapat emas? Saya bertanya ke kemenpora. Tapi tidak ada jawaban tegas. Insya Allah, kata pihak kemenpora via WA.

Karena itu, sebaiknya kita fokus dulu untuk mengangkat sepak bola NKRI di level Asia Tenggara. Jadi juara SEA Games dulu. Tidak usah ngoyo jadi tuan rumah Piala Asia. Apalagi Piala Dunia yang bisa habis Rp 200 triliun.

Saya bahkan menolak Indonesia jadi tuan rumah Asian Games 2018. Tapi pemerintah sudah kadung senang. Seakan-akan event tingkat Asia ini punya manfaat luar biasa.

Lah... di Asia Tenggara saja kita hanya bisa peringkat 5, bagaimana bisa bersaing di Asian Games? Celakanya lagi, selisih medali emas Malaysia (juara umum SEA Games) dengan Indonesia ibarat langit dan sumur.

Celakanya lagi, banyak atlet kita yang keleleran di Malaysia karena manajemen olahraganya kacau. Kok mau jadi tuan rumah Piala Dunia?

3 comments:

  1. Anehnya, pejabat dan pengusaha pada rebutan menjadi ketua pengurus organisasi olahraga. Mengapa gerangan? Misalnya dulu Bon Hasan ngotot menjadi ketua PASI walaupun menjadi terpidana masalah korupsi. Atau La Nyalla yg ngotot menjadi ketua PSSI? Apa sebabnya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau atletik (PASI) tidak ada yg berebut jadi ketua karena buang'' duit. Beda dengan PSSI pusat. Justru orang rame'' menghindar jadi ketua PASI dan cabang' olahraga yg lain. Makanya kita justru salut sama bapak Bob Hasan yg konsisten memimpin PASI sejak tahun 80an atau 70an.

      Delete
  2. Sepak bola atau PSSI punya sisi politis ekonomis dsb karena sangat populer. Dari dulu selalu jadi rebutan. Di daerah'' bupati atau gubernur dijadikan ketua klub sepak bola agar ada aliran dana apbd atau swasta untuk menghidupi klub. Ini karena sulit membiayai klub sepak bola dengan dana sponsor atau swasta.

    Kalau Bob Hasan malah bagus karena atletik atau PASI itu cabang olahraga yg tidak populer. Tidak menghasilkan duit tapi harus keluar duit. Insan atletik di indonesia justru berterima kasih kepada pak bob yg mau jadi pimpinan PASI hingga puluhan tahun.

    ReplyDelete