16 August 2017

Prabowo Muda Sering Digoda Cewek di London

Oleh THREES NIO



Kriiiiingg.....
Can I speak with Bowo, please?
Who's speaking here?
Jane.

Demikianlah telepon di rumah keluarga Dr Sumitro di London setiap saat berdering. Kebanyakan telepon-telepon itu berasal dari gadis-gadis Inggris cilik yang ingin bicara dengan Bowo.

Nama lengkapnya Prabowo Subiyanto, anak ketiga Dr Sumitro, yang sering dikejar-kejar oleh gadis-gadis cilik karena parasnya yang cakep. Kali ini Jane yang ingin bicara. Lima menit kemudian Margareth. Lain kali Rose. Akan tetapi, gadis-gadis cilik ini kerap kali dibuat kecewa. B

Prabowo yang baru berusia 15 tahun dan belum suka cewek-cewekan sering kali membentak mereka agar jangan mengganggunya di rumah. ''I've told you many times not to call me at home!''

Prabowo sudah beberapa tahun menetap di London bersama ibunya Ny Dora Sumitro, kakaknya Maryani Ekowati, dan adiknya Hashim Suyono. Kakaknya yang sulung Biantiningsih yang berusia 19 tahun telah setahun lebih meninggalkan mereka untuk belajar pada Universitas Wisconsin, Amerika Serikat. Sedangkan ayahnya, Prof Dr Sumitro Djojohadikusumo, dalam enam bulan hanya satu minggu tinggal bersama mereka.

Di sini nampaklah betapa beratnya kehidupan Ibu Dora Sumitro, seorang wanita Manado, sebagai seorang ibu dari 4 orang anak yang selalu harus berpisah dengan suaminya di tempat asing. Problem-problem rumah tangga kerap kali harus dipecahkannya seorang diri.

Salah satu problem misalnya Hasyim, yang ketika meninggalkan Indonesia baru berusia tiga tahun, kini sama sekali tidak dapat berbahasa Indonesia. Untunglah anak-anak tersebut dalam bidang pendidikan tidak banyak menimbulkan kesulitan bagi ibunya. Mereka semua pada umumnya mewarisi kepandaian ayahnya.

Prabowo sangat menonjol sekali kecerdasannya di sekolah sehingga ia meloncat satu kelas. Kini duduk bersama dengan kakaknya Maryani di kelas dari sebuah sekolah menengah di London. Menurut rencana, keluarga Sumitro akan kembali ke tanah air setelah kedua anak ini lulus.

Kehidupan di London ini jika dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya jauh lebih bahagia. Pada saat permulaan hidup pengembaraan mereka, 1957-1958, mereka jauh lebih banyak mengalami kesengsaraan.

Ketika meninggalkan Indonesia pada 10 Mei 1957, mereka mengungsi ke Singapura. Di sini mereka tidak tinggal lama. Kemudian Dr Sumitro kembali ke Manado untuk mondar mandir di daerah-daerah, khususnya di Padang dan Palembang.

Tahun 1958 untuk kedua kalinya mereka meninggalkan tanah air untuk mengembara di Singapura, Kuala Lumpur, Zurich, dan akhirnya London. Di Singapura dan KL mereka hanya tinggal kira-kira satu setengah tahun karena tidak dikehendaki oleh pemerintah negara-negara tersebut. Demikian pula di Zurich permintaan perpanjangan izin mereka tidak dikabulkan.

Dr Sumitro sendiri mondar mandir dari satu negara ke negara lain. Hanya kadang-kadang saja singgah ke rumah mengunjungi anak istrinya. Terutama di Bangkok, Singapura dan Kuala Lumpur Dr Sumitro sering tinggal karena ia membuka kantor penasihat ekonomi yang diberi nama Economic Consultant for South East Asia sekadar untuk mencari nafkah bagi hidupnya.

Sumber: Kompas 11 Juli 1967

13 comments:

  1. Prof Sumitro seorang idealis yg demokrat. Sayang anak2nya yang lelaki tidak mengikuti jejak ayahnya. Yang satu menjadi pengusaha oligarki. Yang satunya lagi mengejar kekuasaan dengan cara apapun; ketika masih menjadi tentara dengan cara menculik dan membunuh aktivis2, dan ketika sudah dipecat dan menjadi sipil, dengan cara berkoalisi dengan golongan2 ekstrem kanan dengan menggunakan uang yang disalurkan kakaknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget. Prof Sumitro seorang idealis dan ekonom hebat negeri ini. Seorang idealis yg rela mengembara ke mana2 karena idealismenya itu tadi.

      Sebaliknya, anaknya keluar dari jalur akademisi dan jadi praktisi politik cum bisnis. Dunia yg menggunakan cara apa aja agar bisa menang. Itulah yg terlihat banget dari bowo dan hashim. Tapi jalur praktisi ini membuat keduanya bergelimang kekayaan... sambil terus memburu kekuasaan.

      Delete
    2. Dalam Bahasa Inggris, ada istilahnya untuk Mas Prabowo ini: Machiavellian, dari Niccolo Machiavelli, yang menulis nasihat2nya tentang cara2 apapun untuk merebut mempertahankan kekuasaan dalam percaturan politik jaman Renaissance di Florenzia dan negeri2 kota di Itali jaman dahulu: "Il Principe" atau Sang Pangeran.

      Di USA, Donal Bebek bermahkota oranye itu bisa dikatakan Machiavellian. Sebenarnya berpolitik atau berbisnis itu bisa dengan cara2 elegan dan etis, seperti ditunjukkan oleh Barrack Obama, atau William Suryajaya (atau Pak Dahlan?)

      Siapa gurunya atau role modelnya Prabowo utk ini? Yg pasti bukan bapaknya, lebih mungkin mantan mertuanya, hahahaha.

      Delete
  2. Liputan lawas ini memang menarik. Sedikit banyak menggambarkan masa kecil mas bowo di London. Saya nemu gak sengaja di perpustakaan lawas milik wong tenglang di rungkut.

    Kelihatannya bowo terinspirasi dari eks mertuanya itu. Masuk akabri, jalur mulus ke pimpinan militer dan politik nasional. Tapi rupanya sejarah punya jalannya sendiri. Bowo gak jadi mantu lagi... sementara pak jenderal besar juga diturunkan.

    Tapi ambisi kekuasaan tak akan lekang oleh panas mentari jakarta. Opo maneh belum ada lawan sang petahana. Jarene lagu lawas: berjuang itu ya selama hayat dikandung badan.

    ReplyDelete
  3. Gerinda itu awalnya memposisikan diri sebagai partai antikapitalis. Partai yg agak berbau sosialis. Mirip PSI partai ayahnya bowo yg dibubarkan bung karno itu. Iklan2 kampanye yg gencar membuat gerindra dapat suara banyak. Lalu bowo sempat jadi cawapresnya megawati... kalah.

    Kemudian belakangan citra kiri gerindra menjadi hilang. Berubah jadi ultra kanan dengan mengusung isu2 yg mirip masjumi biyen... yg juga dibubarkan bung karno itu. paling panas ya di pigub jakarta yg ugalugalan itu.

    Kesan yg muncul: gerindra malah lebih islam ketimbang partai berbasis islam kayak pkb atau ppp. Ini yg membuat banyak kader gerindra di NTT yg hampir semuanya nonmuslim kebingungan. Bolak balik ditanya rakyat: gerindra kok jadi teman dekatnya ormas2 radikal yg biasa unjuk rasa menutup gereja, membubarkan kebaktian raya dsb?

    Itulah politik...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Analisa yang bagus. Dalam politik tidak ada pertemanan abadi, hanya kepentingan yang abadi.

      Delete
    2. akar dari segala kejahatan memang uang, dengan uang prinsip pun bisa dibeli!

      Delete
    3. Itulah. Dulu Pak Mitro demi prinsip mengungsi ke luar negeri.

      Sekarang anak2nya Pak Mitro demi melindungi kepentingan bisnis merek, yg satu Kristen yang satunya abangan, persetan dengan ideologi, yg penting bisa baik tahta.

      Koreksi: kecintaan akan uang ialah akar segala kejahatan.

      Delete
    4. 1 Timotius 6 : 10
      Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman....

      Begitulah pesan yg disampaikan kitab suci. Sering diucapkan tapi tidak gampang dilaksanakan oleh manusia khususnya politisi.

      Delete
    5. Betul. Sering dikutip salah, sebagai "akar ... ialah uang." Yang benar ialah "akar ... ialah CINTA uang". Banyak orang Kristen mengaku dan berlaku seperti taat beragama, tetapi lebih cinta uang drpd cinta Yesus.

      Delete
    6. Soalnya gembala2 juga tidak kasih contoh yg bagus. Malah si gembala bikin gereja macam pabrik duit aja. Jualan firman, mukjizat kesembuhan, bahasa roh dsb.

      Delete
    7. Hehehe, itulah Gereja2 Kristen Kapitalis, impor dari Amerika.

      Delete
  4. Prabowo tokoh yg ambisius dan punya power ekonomi politik.

    ReplyDelete