09 August 2017

Patung Kwan Kong di Tuban jadi polemik

Agak aneh patung Dewa Kwan Kong di dalam kompleks Kelenteng Tuban dipermasalahkan. Bahkan harus ditutupi kain oleh petugas negara. Setelah jadi viral di media sosial dengan narasi yang provokatif.

Sentimen SARA begitu kuatnya di medsos. Khususnya setelah pilkada di Jakarta yang heboh itu. Seakan-akan semua yang berbau Tionghoa salah.

Memangnya pengelola kelenteng di Tuban itu begitu bodohnya sehingga membuat patung Kwan Kong setinggi 30 meter tanpa izin? Wong duit yang dihabiskan pasti banyak. Rugi besar kalau setelah jadi kemudian dirusak atau diturunkan massa dan petugas.

Begitulah. Di era medsos ini terlalu banyak prasangka dan provokasi SARA yang memecah belah bangsa Indonesia. Bisa jadi orang yang menyebarkan bumbu informasi soal patung di Kelenteng Tuban itu tidak pernah datang ke kelenteng mana pun. Apalagi ngobrol dengan orang kelenteng atau budayawan Tionghoa.

Sayang, pemerintah daerah seakan memanfaatkan isu yang viral di medsos ini untuk membredel patung Kwan Kong berukuran raksasa - tinggi 30an meter. Mengapa saat masih dibuat tidak disoal? Kalau memang tidak punya izin... mengapa tidak distop sejak awal?

Bukankah Kelenteng Tuban itu salah satu tempat wisata utama di Kabupaten Tuban? Letaknya di pinggir pantai, terbuka, siapa saja boleh masuk... dan menginap di penginapan yang gratis?

Sangat aneh kalau pemkab setempat tidak tahu bahwa pihak kelenteng membangun patung di salah satu objek wisata kabupaten. Sebab rencana dan maketnya sudah dirilis sejak belasan tahun lalu.

Seandainya pemerintah-pemerintah daerah tunduk pada tekanan medsos, bisa dibayangkan berapa banyak patung di Indonesia yang harus dirobohkan. Meskipun patung itu dibuat di halaman rumah anda sendiri.

Di Sidoarjo, menjelang pilkada 2015, patung-patung-patung petani, nelayan, pembuat kerupuk pun harus dibongkar. Gara-gara tekanan massa. Menggunakan dalil agama, sosial budaya dsb.

Sayang banget, masyarakat kita umumnya masih sangat lemah dalam hal apresiasi seni. Khususnya seni rupa. Khususnya lagi seni patung. ''Makanya seni patung kurang berkembang di Indonesia,'' kata Santoso, seniman patung di Gedangan Sidoarjo.

Pak Santoso ini lebih sering membuat patung di luar Jawa, khususnya Kalimantan, ketimbang di Jawa Timur. Padahal kemampuannya untuk membuat patung realis tidak kalah dengan seniman Bali yang bikin patung di Alun-Alun Sidoarjo itu.

''Kalau di Sidoarjo saya lebih aman bikin patung bandeng dan udang. Pasti gak akan diturunkan hehe...,'' ujar seniman lulusan ISI Jogjakarta itu.

3 comments:

  1. Lha patung Kwan im yg di kenjeran nanti kena sasaran pisan.

    ReplyDelete
  2. Akankah Tuban menjadi Charlottesville ?
    Gara-gara patung seorang jenderal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jauh banget perbandingannya.

      Delete